<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090</id><updated>2011-10-15T19:03:35.548-07:00</updated><title type='text'>Romika Mawaddah</title><subtitle type='html'>MANUSIA YANG PANDAI YANG  MENGINGAT MATI
INSAN YANG MEMPESONA YANG MENENANGKAN
ORANG YANG SENANG YANG SEMBAHYANG
KEBAHAGIAAN SEJATI DARI DALAM DIRI
MARI....KITA CARI, PERBAIKI HATI..., SEPANJANG HARI,..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-8627853795593756345</id><published>2011-10-15T19:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T19:03:35.569-07:00</updated><title type='text'>Untukmu GURUKU...</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Sabar Dengan Tali&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna. Dia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yang berarti suci bersih, dan memiliki potensi-potensi kebaikan. Yakni menyenangi segala bentuk kebaikan. Namun, perlu diketahui jika potensi tersebut tidak diasah, akan lenyap dengan pengaruh-pengaruh buruk yang muncul di sekitar kehidupan manusia. itu sebabnya potensi tersebut hendaknya dikembangkan dan dipelihara, sehingga mampu melahirkan kebaikan-kebaikan dalam diri manusia, dan kemudian mampu menjadi manusia seutuhnya yang berakhlaqul karimah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Pendidikan merupakan salah satu usaha menjaga serta mengembangkan potensi-potensi kebaikan tersebut. Pendidikan, dapat dilaksanakan dalam situasi formal di sekolah, informal di keluarga dan non formal di lingkungan masyarakat. Ketiga &lt;i&gt;situs&lt;/i&gt; pendidikan tersebut harus bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan, yaitu mencetak generasi paripurna berakhlakul karimah, berguna bagi sesama, cerdas dalam berfikir, sopan dalam berperilaku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Dalam pendidikan formal, terdapat seorang pendidik yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses pendidikan. Pendidik bertanggung jawab dalam hal pelayanan pendidikan yang maksimal. Sebagai bentuk pelayanan tersebut adalah mengajar dengan sungguh-sungguh dan setulus hati. Sehingga potensi kebaikan peserta didik dapat terjaga dan dikembangkan. Diantara potensi kebaikan yang dimiliki manusia adalah sifat sabar. Sabar ketika kesusahan dan sabar dalam kebahagiaan. Sabar dalam menjalankan kewajiban dan sabar dalam meninggalkan larangan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Maka, penting sekali bagi pendidik untuk dapat melahirkan sifat sabar bagi para peserta didik. Berikut tips sederhana, bagaimana cara pendidik melatih kesabaran bagi peserta didik. Cara ini dapat diterapkan di Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar. Lebih efektif untuk materi olah raga yang dilakukan &lt;i&gt;out door.&lt;/i&gt; Nama kegiatan ini bisa disebut, &lt;i&gt;Tali Kesabaran&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tahap pertama adalah mengumpulkan peserta didik di halaman dan mengajak mereka pemanasan / pelenturan sesuai waktu yang dibutuhkan. Setelah itu meminta mereka berlari mengitari halaman dengan tekhnik bergilir satu persatu atau perkelompok . namun sebelum berlari ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pendidik karena, disinilah tali berfungsi sebagai latihan kesabaran. Biasanya untuk anak-anak TK belum bisa diajak bergilir, mereka cenderung menyukai kebersamaan. Jika satu diminta berlari, maka semua ikut berlari. Kondisi tersebut tentunya jauh dari tertib dan rapi. Untuk menghindari hal tersebut. Pendidik dapat menggunakan tali (bisa tali raffia, atau tali yang lain) anak diminta berkumpul jadi satu, dan batasi mereka dengan tali. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Jadi di sekeliling anak telah ada tali yang melingkarinya. Pendidik kemudian menyampaikan bahwa tali tersebut adalah &lt;i&gt;tali kesabaran&lt;/i&gt;, jadi bagi anak yang keluar dari tali, berarti bukan anak yang sabar. Setelah itu jelaskan aturan urutan kegiatan yang akan dilaksanakan. Satu anak yang dipanggil nanti diperbolehkan keluar dari tali dan harus berlari mengelilingi halaman. Sampaikan juga bahwa anak yang dipanggil dan keluar dari tali tidak dianggap anak yang tidak sabar. Tapi tetap sabar karena melaksanakan perintah dari guru. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Untuk penguatan tanyakan sekali lagi kepada peserta didik. Siapa yang ingin menjadi anak sabar..? anak TK biasanya dengan serentak mengacungkan tangan dan serentak menjawab sayaaa. Untuk lebih menguatkan, tanyakan sekali lagi dan minta mereka menjawab dengan angkat tangan, lompat dan teriak. Selanjutnya jelaskan faedah/keutamaan sabar secara singkat. Setelah tenang panggil anak satu persatu secara bergantian untuk lari mengitari halaman. Dan pastikan peserta didik yang lain tetap berada di dalam lingkaran tali. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Tips sederhana tersebut, dipastikan dapat menjadikan anak tertib, mau rapi dan sabar mengantri menunggu giliran. Hal itu dikarenakan ada sesuatu, dalam hal ini tali yang dengan jelas dapat dilihat oleh anak dan tali itu dianggap bentuk bukti kesabaran mereka. Anak-anak akan lebih tertarik terhadap bukti yang konkret. Sering kita mengenalkan konsep kesabaran kepada murid terutama anak-anak TK, tapi lupa memberikan sarana kepada mereka untuk belajar sabar. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Itu tadi sedikit pengalaman saya ketika mengajar di TK. Ketika itu sungguh di luar dugaan. Anak-anak TK saya yang terkenal aktif sekali, dapat rapi dan tertib mengikuti semua aturan permainan saya. Satu pendidikan moral saat itu, bahwasanya tidak ada satupun anak di muka bumi ini yang terlahir nakal, semua dilahirkan dengan potensi kebaikan. Tergantung bagaimana kita orang-orang dewasa mengajak mereka untuk senantiasa berperilaku baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-8627853795593756345?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/8627853795593756345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/10/untukmu-guruku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/8627853795593756345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/8627853795593756345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/10/untukmu-guruku.html' title='Untukmu GURUKU...'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-5936717087593984264</id><published>2011-09-13T16:20:00.003-07:00</published><updated>2011-09-13T16:20:54.434-07:00</updated><title type='text'>BANYAK BACA BANYAK TAHU</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;Pengembangan PAI Berbasis Multikultural&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;(Ika Romika Mawaddati )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dalam mengejawantahkan nilai-nilai Islam dalam dunia pendidikan, baik dari segi materi maupun proses pembelajaranya. Dalam usaha tersebut, membutuhkan keseriusan mendalam, demi mencapai apa yang diharapkan. Diantara keseriusannya adalah senantiasa melakukan pengembangan PAI. Secara sederhana pengembangan adalah usaha atau kegiatan menghasilkan sesuatu yang baru dalam PAI, atau kegiatan mendesain untuk mengahasilkan sesuatu yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ada beberapa aspek yang bisa dikembangankan dalam PAI; pengembangan metodenya, materinya, kurikulumnya, sarana dan prasarananya, atau pelakunya (Tenaga pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan seluruh steakholder yang berkecimpung dalam dunia pendidikan) Pengembangan yang diharapkan menuju pengembangan lebih baik, tidak akan terwujud tanpa ada kesadaran dari semua pihak untuk saling mendukung dan bekerja sama.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Itu sebabnya, kerja sama dan kesungguhan merupakan salah satu diantara kunci keberhasilan pengembangan PAI. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Untuk pembatasan serta menfokuskan tema, maka dalam makalah ini, penulis hanya menyoroti, bagaimana proses pembelajaran PAI dapat dikembangkan berbasis multikultural. Sebagai landasan dari penulisan makalah ini adalah perkembangan manusia dengan pendidikan. Dengan pendidikan manusia akan mengalami proses perubahan dari segi pemikiran yang akhirnya mewarnai tingkah lakunya dalam kehidupan. Banyakanya perbedaan tersebut harus diapresiasi dengan bijaksana dan waspada. Sebab, banyaknya perbedaan tersebut, rentan sekali mengalami gesekan yang dapat memanas jika tidak ada&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kesadaran untuk saling menghormati perbedaan. Jika suhu telah memanas, maka akan mudah sekali terbakar, walau hanya dengan sedikit sumber api.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dalam hal ini, pendekatan multikultural dalam pendidikan sangat diperlukan untuk mengapresiasi perbedaan dengan bijaksana. Karena perbedaan adalah rahmat jika dapat dikelola dengan kesadaran positif. Makalah ini diharapkan dapat memberikan pencerahan pemikiran kepada setiap peserta didik bagaimana mengapresiasi perbedaan setiap individu dengan bijaksana. Sehingga tercipta kehidupan sejahtera&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Perbedaan adalah rahmat, dengan perbedaan itu wawasan menjadi kaya pengetahuan menjadi luas. Jika perbedaan dianggap bomerang yang bermasalah dan berusaha menghilangkan perbedaan, hal itu adalah pemikiran negatif dan usaha yang sia-sia serta mustahil.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Usaha menjadikan perbedaan rahmat adalah proyek mulia yang harus dikerjakan oleh semua elemen masyarakat. Pendekatan multicultural dalam pendidikan Islam, merupakan salah satu formula terbaru dalam dunia pendidikan Islam, sebagai upaya menjadikan perbedaan itu rahmat di dunia.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Multikultural dalam pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Secara etimologi, multicultural berasal dari kata kultur yang berarti budaya atau kebudayaan. Sedangkankultural berarti berdasarkan budaya/kebudayaan; mengenai kebudayaan. Dengan begitu multikultural adalah keragaman kebudayaan, aneka kesopanan, atau banyak pemeliharaan budaya sebagai ejawantah dari keragaman latar belakang seseorang.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Secara terminologis, pendidikan multikultural berarti proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran (agama). Menurut M. Ainul Yakin, pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis pendidikan pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan cultural yang ada pada para siswa agar proses belajar menjadi efektif, sekaligus membangun karakter siswa yang demokratis, humanis dan pluralis. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Dalam dunia pendidikan pasti ditemui keanekaragaman&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;peserta didik, baik dari segi intelektual, kebudayaan, kultur keluarga, tingkat ekonomi dan lainnya. keperbedaan tersebut tentunya akan mempengaruhi bagaimana cara mereka menjalani proses pendidikan. Itu sebabnya pendidikan multicultural sangat diperlukan untuk mencapai pendidikan yang dapat dinikmati oleh seluruh ragam etnis dan jenis.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ainurrrofiq Dawam, menjelaskan konsep pendidikan multicultural;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; pendidikan multikultural merupakan proses pengembangan. Pengembangan atau proses &lt;i&gt;developing &lt;/i&gt;adalah sebuah proses yang berusaha meningkatakan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sesuatu sejak awal atau sebelumnya sesudah ada. Pengembangan disini lebih dimaknai sebagai, sebab tidak dibatasi dengan ruang dan waktu, subjek, objek dan relasinya. Dengan demikian pendidikan multikultural tidak mengenal batasan atau sekat-sekat sempit yang sering menjadi tembok tebal bagi interaksi sesama manusia. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; pendidikan multikultural adalah mengembangkan seluruh ptensi manusia. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan seluruh potensi manusia. Potensi-potensi yang ada sebelumnya atau sejak awal sudah ada dalam diri manusia. Potensi-potensi yang sudah ada diharapkan dapat dikembangkan secara maksimal dan seimbang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt; pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai pluralitas dan heterogenitas. Pluralitas dan heterogenitas adalah sebuah keniscayaan ketika berada pada masyarakat sekarang ini. Pluralitas bukan hanya dipahami keragaman etnis suku, akan tetapi juga dipahami kergaman tentang pemikiran, kergaman paradigma. Pemaksaan hasil pemikiran dengan paradigma tertentu tentang sistem ekonomi yang berjuang pada aspirasi politik kepada orang atau kelompok lain adalah proses dominasi dan hegeminisasi. Dominasi dan hegemonisasi pada dasarnya merupakan penyimpangan secara radikal terhadp multikultural. Karena dengan dominasi dan hegemonisasi mengakibatkan tereduksinya pluralitas dan heterogenitas dan diganti dengan komunitas dan homogenitas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; tab-stops: 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 2;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai dan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran (agama). Penghormatan dan penghargaan, bahkan menjunjung tinggi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran (agama) adalah sikap uregen untuk disosialisasikan. Sebab mustahil dalam satu negara terdapat satau budaya. Dengan melihat sikap keragaman diatas, maka sikap menghormati dan menghargai bahkan menjunjung tinggi harkat martabat sesearang sangat penting.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn2" name="_ftnref2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selanjutnya konsep pendidikan multikultural adalah suatu pendidikan demokratis yang luas artinya bukan saja mengakui akan pentingnya mengembangkan rasa kebangsaan didalam &lt;i&gt;nation&lt;/i&gt; &lt;i&gt;state&lt;/i&gt; tetapi juga menekankan kepada keanggotaan negara bangsa Indonesia dalam pergaulan dunia yang terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pendidikan mutkultural merupakan rekonstruksi sosial. Suatu rekontruksi sosial artinya upaya melihat kembali kehidupan sosial yang ada dewasa ini. Salah satu masalah yang berkembangnya kedaerahan, identitas kesukuan, the right to culture dari perorangan maupun bangsa Indonesia, telah menimblkan rasa kelompok yang berlebihan dan tidak jarang menyebabkan pergeseran-pergeseran horisontal yang tidak dikenal sebelumnya. Rasa kesukuan yang berlebihan menimbulkan ketidak harmonisan didalam kehidupan bangsa yang pluralistis. Konflik horisontal yang muncul dibeberapa derah bukan saja merupakan berlatar belakang ekonomi, juga sosial-budaya, agama dan adat istiadat. Memang pergeseran-pergeseran tersebut suatu yang lumrah karena tidak dikenal sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Oleh sebab pendidikan multikultural tidak akan dikenal oleh adanya fanatisme atau fundamentalisme sosial-budaya termasuk agama, karena masing-masing komunitas mengenal dan mengahargai perbedaan-perbedaan yang ada. Demikian pula dalam pendidikan multikultural dalam masa trasnsisi dewasa ini mempunyai tugas yang tidak ringan. Pertama-tama pendidikan mutikultural bertugas untuk memperdalam identitas kesukuan yang kemudian secara terbuka mengenal dan mengerti akan nilai-nilai sosial budaya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan agama dari suku-suku yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pada tahap berikutnya adalah penghargaan yang sama terhadap system nilai dari masing-masing suku, mengetahui dan menghargai kelebihanya, dan membatasi dari kemungkinan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;clash &lt;/i&gt;dari sistem nilai yang berbeda. akhirnya pendidkan multicultural sebagai rekontruksi social mempunyai tugas dalam mewujudakan kebudayaan Indonesia yang sedang menjadi atau konsep keindonesiaan yang bersatu diatas pluralitas suku-suku&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang beragam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pengembangan PAI Berbasis Multikultural&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;PAI, dalam hal ini adalah materi-materi PAI. Merupakan materi yang memiliki karakteristik tersendiri, yaitu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;normatif dan historis. Secara normatif materi PAI adalah Al-Qur’an (kalam Allah) dan Hadist Rasulullah yang berbentuk teks yang kita yakin akan kebenaranya. Ketika kita berbicara dengan teks, maka terkadang akan mengalami perbedaan makna dari setiap pembaca yang tentunya karena beberapa faktor.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Keragaman pemahaman dan penafsiran tersebut pada gilirannya memunculkan pola-pola artikulasi keberagaman, yang menurut Azra, 1999 (Dalam Muhaimin) dikelompokkan ke dalam tiga tipologi, yaitu: (1) Subtansialisme yang lebih memntingkan subtansi/isi daripada label atau simbol-simbol eksplisit.(2) Formalisme/legalisme yang cenderung sangat literal dan keagamaan.(3) Spiritualisme yang lebih menekankan kepada pengembangan sikap batiniyah, melalui keikutsertaan dalam kelompok spiritual-mistik, tasawuf/tarekat, bahkan kelompom kultus.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn3" name="_ftnref3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Proses dan produk penafsiran yang bermacam-macam tersebut direalisasikan oleh umat Islam dalam perjalanan sejarahnya (Islam historis), sehingga menurut pandangan Islam pada zamannya hasil penafsiran ytersebut dipandang relevan, sementara bagi generasi berikutnya bisa dianggap kurang relevan atau perlu penyempurnaan. Uraian tersebut menggaris bawahibahwa pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam berpotensi mengarah pada intoleran atau toleran terhadap pandangan-pandangan lain yang dirasa berbeda dengan keyakinannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Jika pandangan teologi agama dan ajaran yang dipegangi bersifat ekstrim, dibarengi dengan model pemahaman dan penghayatan agama yang simbolik, tekstual dan scriptural karena penjelasan-penjelasan dari guru agama yang bersifat doktriner dan mengembangkan sifat fanatisme buta serta di dukung oleh lingkungan sosio-kultural yang eksklusif , maka bisa jadi melahirkan sikap intoleren. Dan agama dapat berperan sebagai factor disintegratif yang pada gilirannya ide multicultural berubah menjadi mono-kultural. Allah swt telah menjelaskan dalam QS Al-Maidah : 48.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Z&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;…&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;x&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;©&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;ª&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Z&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;p&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;¨&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;é&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&amp;amp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Z&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;º&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;`&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Å&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;»&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;û&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB3; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB3;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB3;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;F&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ó&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;º&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ø&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&amp;lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;«&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Å&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;_&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;_&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;¥&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;^&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ó&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;G&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ÿ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;F&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ø&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Í&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Ñ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;È&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="mso-ascii-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;\(normal text\)&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 9.0pt;"&gt;&lt;i&gt;“…..Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan begitu pembelajaran PAI berbasis multikultural diharapkan agar tidak sampai : (1) menumbuhkan semangat fanatisme buta; (2) menumbuhkan sikap intoleran di kalangan peserta didik dan masyarakat; (3) memperlemah kerukunan hidup beragama serta persatuan dan kesatuan umat. Sebaliknya adanya pendidikan PAI berbasis multikultural diharapkan mampu menciptakan ukhuwah Islamiyah dalam suasana multikultural, yaitu persaudaraan yang bersifat Islami, bukan sekedar persaudaraan antar umat Islam, tetapi juga mampu membangun persaudaraan antar sesama, serta mempu membentuk kesalehan pribadi sekaligus kesalehan sosial.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn4" name="_ftnref4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Diantara model pengembangan pembelajaran PAI berbasis multikultural adalah :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 54.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-style: italic; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Model pembelajaran &lt;i&gt;Forum Group Discusion&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Diskusi pada dasarnya adalah saling menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu, diskusi bukanlah debat, karena debat adalah perang mulut, beradu argumentasi, beradu paham, dan kemampuan persuasi untuk memenangkan pahamnya sendiri.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn5" name="_ftnref5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 54.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;Ø&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Model pembelajaran &lt;i&gt;Making Group Competision&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pembelajaran model ini adalah pendidik membentuk beberapa group atau kelompok dari seluruh peserta didik. Setiap anggota kelompok harus terdiri dari anak yang pandai, sedang dan tingkat bawah. Perkelompok diberi tugas untuk diselesaikan bersama. Kelompok yang menjadi juara adalah yang mendapatkan nilai tertinggi. Nilai diambil dari mayoritas nilai setiap anggota kelompok, jika ada satu anggota yang mendapatkan nilai jelek maka seluruh anggota akan mendapatkan nilai jelek. Dengan begitu akan terjalin kerjasama dan persaudaraan di dalam kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Mengenai model pembelajaran berbasis multikultural tentunya tidak hanya dua model saja. Masih banyak model lain yang bisa dikembangkan, setiap pendidik pasti memiliki segi kreatifitas tersendiri dalam mengembangkan model pembelajarannya. Yang terpenting dari pembelajaran adalah bagaimana membentuk pola pikir peserta didik untuk senantiasa dapat mengakui terhadap adanya multi budaya dan dapat menumbuhkan kepedulian untuk mengupayakan agar kelompok minoritas terintegrasi dalam masyarakat dan kelompok yang besar, demi tercapai kesejahteraan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Pendidikan multikultural adalah proses pendidikan atau pengembangan potensi manusia yang menghargai pluralisme dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, bahasa, aliran dan lain-lain. Pendidikan multicultural adalah sebuah pendidikan yang memberikan perlakuan sama berdasarkan kesadran dan kesetaraan serta demokrasi dalam memperlakukan anak didik, di mana pendidik memahami latar belakang anak didik yang berbeda-beda. Pendidikan ini menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat yang heterogen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Dalam pembelajaran agama diperlukan pendekatan multikultural demi menjaga kedamaian kehidupan beragama. Sebab di Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan berbagai suku budaya, ras dan etnis serta mesyarakat dengan ajaran agama yang berbeda rentan sekali terjadi perselisihan jika tidak ada kesadaran untuk saling menghormati dan menghargai. Islam sebagai ajaran yang terdiri dari dua pilar, normative dan histories memerlukan koridor khusus dalam mengaplikasikan pendekatan ini. Sebab, tanpa batasan-batasan tersebut, dikhwatirkan kehormatan dan karakter Islam yang mulia akan tercemar dan mudah dimasuki paham-paham yang merusak. Untuk itu, pendekatan multicultural seharusnya hanya digunakan sebagai paradigma yang memandang Islam sebagai agama yang dapat berkembang dengan sopan dalam kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dalam keberagaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Abdullah Amin, (2005), &lt;i&gt;Pendidikan Agama Multi cultural Multi religius&lt;/i&gt;. Jakarta: PSAP.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpLast" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 36.0pt; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;Ismail, (2008), &lt;i&gt;Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM,&lt;/i&gt; Semarang:RaSAIL Media Group&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpFirst" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Muhaimin, (2009), &lt;i&gt;Rekonstruksi Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. Jakarta: Rajawali Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Naim, Ngainun dan Ahmad Sauqi, (2008), &lt;i&gt;Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi&lt;/i&gt;. Jogjakarta: Arruz Media.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Progresiva, (2006), &lt;i&gt;Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpLast" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Titin Nur Afidah. &lt;i&gt;Konsep dan Paradigma Pendidikan Multikultural Menurut UU RI Nomor 20 Tahun 2003 &lt;/i&gt;Progresiva, (2006) hal. 223&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref2" name="_ftn2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ainurofiq Dawam, “ &lt;i&gt;“emoh” Sekolah; Menolak “komersialisasi Pendidilkan...hlm103&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="ListParagraph" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref3" name="_ftn3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 150%;"&gt; Muhaimin, &lt;i&gt;Rekonstruksi Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. (Jakarta:2009) Hal. 285.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref4" name="_ftn4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, Hal.288.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref5" name="_ftn5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Ismail, &lt;i&gt;Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM&lt;/i&gt;, (Semarang:2008) Hal. 20.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-5936717087593984264?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/5936717087593984264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/09/banyak-baca-banyak-tahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5936717087593984264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5936717087593984264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/09/banyak-baca-banyak-tahu.html' title='BANYAK BACA BANYAK TAHU'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-7848024736763030294</id><published>2011-07-03T17:12:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T17:12:46.649-07:00</updated><title type='text'>MENGENAL PESANTREN</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}table.MsoTableGrid {mso-style-name:"Table Grid"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; border:solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt:solid windowtext .5pt; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-border-insideh:.5pt solid windowtext; mso-border-insidev:.5pt solid windowtext; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;MENGENAL LEBIH DEKAT &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;DENGAN PESANTREN &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;(Oleh Ika Romika Mawaddati*) &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, sebagai keperluan dasar dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat. Proses pendidikan dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja, dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Namun, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sesuai harapan, proses pendidikan harus dilaksanakan dengan penuh seksama dan serius. Bentuk keseriusan tersebut dapat diaplikasikan melalui pengadaan lembaga pendidikan yang dikelola dengan kesungguhan dan professional.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Diantara bentuk lembaga pendidikan yang ada di Indonesia adalah pesantren. Menurut beberapa literatur mengenai pesantren, lembaga ini disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan tua yang mulai terprogram dengan teratur, sejak kolonial penjajah bercokol di tanah air. Di awal kelahirannya, lembaga ini merupakan lembaga yang tersebar di pedesan-pedesaan dan berorientasi kepada pendidikan agama Islam dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai satu-satunya materi kajian pembelajaran dalam proses pengajaran. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Seiring perputaran zaman, lembaga ini pun mengalami berbagai perubahan, baik dari segi bentuk, jenis, pengelolaan, proses pembelajaran, orientasi pendidikan dan berbagai hal yang berhubungan dengan pesantren. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dilaksanakan dengan sistem asrama, tentunya memiliki karakteristik yang berbeda dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Selain memiliki ciri tersendiri, pesantren juga memiliki berbagai problem yang mewarnai setiap langkahnya. Namun demikian, pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang masih diminati oleh masyarakat muslim di Indonesia, yang tentunya memiliki harapan mendalam terhadap hadirnya pesantren.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui berbagai perkembangan pesantren. Dengan mengetengahkan sejarah serta latar belakang munculnya pesantren, bentuk, tujuan, unsur-unsur pesantren, peran dan tantangan pesantren dalam dunia pendidikan. Makalah ini diharapakan mampu memberikan wawasan bagi para akademisi pendidikan Islam mengenai pesantren sebagai salah satu lembaga yang masih atau bahkan diharapkan mampu menyelamatkan akhlaq generasi bangsa. Sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengembangan pesantren ke depannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, tentunya memiliki andil besar dalam mencetak generasi bangsa yang membanggakan dengan akhlaqnya yang karimah. Hasil tersebut, telah melalui proses dan perjalanan panjang dengan berbagai kerikil masalah yang dihadapinya. Hingga saat ini pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan Islam yang tetap di minatai masyarakat dengan semakin bertambahnya jumlah pesantren yang berarti jumlah peserta didiknya juga banyak. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;A.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Lahirnya Pesantren &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Perkataan pesantren berasal dari kata &lt;i&gt;santri&lt;/i&gt;, dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri. Sedangkan asal usul kata santri, menurut pandangan Nurcholis madjid, sesungguhnya bersal dari bahasa Jawa, dari kata “&lt;i&gt;cantrik&lt;/i&gt;”, berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pendapat lain ditulis dalam penelitian Karel A. Steenbrik : Secara &lt;i&gt;terminologis&lt;/i&gt; dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa, setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa, sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Secara garis besar ada dua pendapat mengenai lahirnya pesantren; tradisi pra Islam dan Islam:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;i&gt;1. Tradisi Pra Islam.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pendapat pertama (pra Islam) diwakili oleh A.H. Johns dan C.C. Berg (dalam Dhofier, 1984:18), yang menganalisis dari segi semantik kebahasaan. Istilah &lt;i&gt;santri&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn2" name="_ftnref2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;berasal dari bahasa Tamil, berarti guru mengaji, istilah tersebut berasal dari istilah &lt;i&gt;shastri,&lt;/i&gt; dalam bahasa India berarti orang yang mengetahui buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Ini menunjukkan, secara semantic pesantren lebih dekat ke tradisi pra Islam atau India.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;F. Fokkens (dalam Martin Van Bruinessen, 1995:24), menganggap desa &lt;i&gt;perdikan &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sebagai sarana kesinambungan pesantren dengan lembaga keagamaan pra-Islam. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Tanah perdikan merupakan desa zaman &lt;i&gt;pra&lt;/i&gt; Islam hingga abad ke-19, &lt;i&gt;perdikan&lt;/i&gt; sebagai tanah yang bebas dengan keistimewaan tertentu, biasanya berhubungan dengan lokasi keagamaan di mana pajak dan beban dari Negara ditiadakan oleh penguasa. Pada masa berikutnya tanah perdikan berkembang menjadi sebuah desa khusus dengan fungsi-fungsi keagamaan tertentu seperti menjaga makam-makam keramat yang dianggap suci. Keluarga yang diberi kepercayaan memegang perdikan memiliki wibawa keagamaan tertentu, dan beberapa anggotanya menjadi guru agama berpengaruh. Ketika itulah peranan mengajar orang-orang tersebut menjadi terlembaga dalam bentuk pesantren, yaitu ketika banyak orang yang berdatangan untuk belajar agama kepada keluarga perdikan, yang pada akhirnya terlembaga dan membentuk institusi pesantren. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;2. Tradisi Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pendapat ini dikemukakan oleh Mahmud Yunus, beliau menjelaskan bahwa asal usul pendidikan individual yang dipergunakan dalam pesantren serta pendidikan yang dimulai dengan pelajaran Bahasa Arab, ternyata dapat ditemukan di Bagdad ketika menjadi pusat pemerintahan Islam. Istilah pesantren memang bukan berasal dari Arab, tapi istilah &lt;i&gt;pondok&lt;/i&gt; mungkin berasal dari bahasa Arab; yaitu &lt;i&gt;funduk&lt;/i&gt; yang berarti pesanggrahan atau penginapan bagi orang yang bepergian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Suprayogo (1987: 19), menilai perjalanan panjang pendidikan pesantren di Indonesia dapat ditelusuri melalui bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan di langgar, masjid atau rumah-rumah penduduk dan guru ngaji yang bersangkutan. Perkembangan selanjutnya, lembaga-lembaga pendidikan yang pada mulannya tidak lebih dari sekedar berupa kumpulan anak-anak yang belajar pengetahuan agama pada tingkat dasar seperti membaca Al-Qur’an, shalat dan semacamnya ini berubah bentuk dan isinya hingga berkembang menjadi madrasah diniyah dan akhirnya menjadi pondok pesantren dan seterusnya dalam bentuk yang lebih akhir berupa madrasah yang bertingkat-tingkat.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn3" name="_ftnref3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pendapat lain menjelaskan jika pesantren tidak bisa dipisahkan dari sejarah pengaruh walisongo abad XV-XVI di Jawa. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia. Maulana Malik Ibrahim (meninggal 1419 di Gresik, Jawa Timur), &lt;i&gt;spiritual father&lt;/i&gt; Walisongo, dalam masyarakat santri Jawa biasanya dipandang sebagai gurunya-guru tradisi pesantren di tanah Jawa. Beliau dikenal sebagai pendiri pertama pesantren di Jawa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Guna mengantisipasi dan mengakomodir pertanyaan-pertanyaan sosial keagamaan serta dalam rangka menghimpun anggota, Ibrahim menggunakan system pesantren. Ibrahim yang memang sudah memiliki pengikut banyak tidaklah kesulitan mendirikan pesantren. Di siang hari beliau membawa masyarakatnya seharian penuh ke lahan pertanian. Sementara malam hari, mengajarkan mereka pelajaran dasar khususnya Al-Qur’an dan hadist. Karena caranya berdakwah inilah Ibrahim biasa disebut sebagai bapak atau guru pesantren masa awal di Jawa. Adalah sangat mungkin bahwa pendirian system pendidikan ini terilhami oleh pendidikan Hindu yang dilakukan di candi-candi terpencil yang dilihatnya di India dan Jawa. Barangkali berdasarkan fenomena ini perkembangan pesantren diasumsikan sebagai hasil perpaduan antara elemen-elemen budaya Hindu, Jawa dan Islam. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn4" name="_ftnref4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;B.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Bentuk-Bentuk Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Jika dilihat dari kaca mata lahirnya pesantren, memang pesantren pada saat itu merupakan lembaga pendidikan tradisional yang tidak memiliki ruang-ruang untuk belajar seperti lembaga sekolah saat ini. Namun, seiring perkembangan zaman, pesantren juga mengalami perkembangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjawab harapan masyarakat terhadap pesantren. Dari perubahan itu, maka saat ini telah ada beberapa bentuk pesantren dengan beberapa perbedaan antara satu dengan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l6 level1 lfo2; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pesantren salafi, yaitu pesantren yang mempertahankan pelajarannya dengan kitab-kitab klasik, dan tanpa diberikan pengetahuan umum. Model pengajaranya pun masih tradisional, dengan metode &lt;span style="color: black;"&gt;sorogan dan weton.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l6 level1 lfo2; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pesantren Khalafi, yaitu pesantren yang menerapkan system pengajaran klasikal, memberikan ilmu umum dan agama serta ketrampilan, jenis ini lebih di kenal dengan pesantren moderen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l6 level1 lfo2; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pesantren kilat, yaitu pesantren yang berbentuk semacam training dalam waktu singkat, biasanya sat liburan sekolah. Aspek yang ditekankan adalah ketrampilan ibadah dan kepemimpinan. Para santrinya adalah siswa sekolah yang dipandang perlu mengikuti kegiatan keagamaan di pesantren kilat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l6 level1 lfo2; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pesantren terintegrasi, yaitu pesantren yang lebih menekankan pada pendidikan vocasional atau kejuruan, sebagaimana balai latihan kerja di Departemen Tenaga Kerja, dengan program terintegrasi. Santrinya kebanyakan berasal dari kalangan (anak) putus sekolah atau para pencari kerja.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn5" name="_ftnref5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;C.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Tujuan Pendidikan Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Tujuan Pesantren adalah setiap maksud dan cita-cita yang ingin dicapai pesantren, terlepas apakah cita-cita tersebut tertulis atau hanya hanya disampaikan secara lisan. Pesantren &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki tujuan yang pastinya tidak berbeda jauh dengan lembaga pendidikan Islam lainnya, yaitu membentuk para santrinya menjadi manusia yang berakhlaqul karimah, rajin beribadah, dan berpengetahuan ilmu agama yang mendalam, sehingga mampu bermanfaat bagi agama, masyarakat bangsa dan Negara., dan yang menjadi tujuan akhir adalah menjadi insan yang senantiasa mendapat Ridho dari Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Tujuan tersebut diprediksi sebagai tujuan pokok. Namun, semakin berkembangnya zaman, maka, kebutuhan manusia juga berkembang dan berbeda-beda. Demi menjawab kebutuhan tersebut, pesantren berusaha memberikan pilihan tujuan sesuai kebutuhan mereka. Dari situ muncullah berbagai bentuk pesantren yang memiliki ciri khas, biasanya ditunjukkan dengan &lt;i&gt;goal setting&lt;/i&gt; setiap pesantren yang berbeda. Berkembanglah pesantren khusus tahfidz, lebih mengutamakan hafalan Al-Qur’an. Pesantren anak-anak, khusus menerima santri usia Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar, pesantren khusus mempelajari Bahasa Arab dan Inggris, pesantren yang mengutamakan Ulumul Hadist, pesantren yang konsen terhadap Hukum Islam, ada juga pesantren khusus mahasiswa yang lebih kintens terhadap ekonomi Islam dan jenis pesantren lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Secara sederhana Manfred (1986:158), mengutip pendapat Kamla Bhasin, bahwa secara umum tujuan pesantren mengikuti dalil, bahwa “Pendidikan dalam sebuah pesantren ditujukan untuk menjadi pemimpin yang tidak resmi atau kadang-kadang pemimpin resmi dari masyarakatnya”. Sementara Madjid (dalam Rahardjo, 1985: 15) menyatakan, bahwa tujuan pendidikan pesantren berada sekitar terbentuknya manusia yang memiliki kesadaran setinggi-tingginya akan bimbingan agama Islam, yang bersifat menyeluruh, dan diperlengkapi dengan kemampuan setinggi-tingginya untuk mengadakan responsi terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup, dalam konteks ruang dan waktu yang ada; Indonesia dan dunia abad sekarang. Pendek kata, berbagai nilai yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi tujuan pokok bagi pesantren.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn6" name="_ftnref6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;D.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Unsur-Unsur Pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Selain sebagai lembaga pendidikan tertua di Jawa, pesantren di awal kelahiranya juga disebut sebagai jenis pendidikan tradisional. Namun, anggapan tersebut sudah tidak berlaku lagi pada saat ini. Bahkan banyak pesantren yang awalnya merupakan lembaga pendidikan non formal telah mentransformasikan dirinya menjadi lembaga pendidikan formal, tidak jauh beda dengan madrasah atau aliyah umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Diantara status di atas, ada satu ciri yang hanya dimiliki pesantren, yaitu unsur-unsur yang harus terpenuhi hingga disebut pesantren. Jika unsur tersebut tidak terpenuhi, maka lembaga tersebut tidak berhak disebut pesantren. Berikut unsur-unsur yang harus dipenuhi sebuah lembaga pendidikan jika ingin disebut sebagai pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l3 level1 lfo3; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pelaku, terdiri dari kyai, ustad, santri dan pengurus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l3 level1 lfo3; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Sarana perangkat keras; misalnya masjid, rumah kyai, rumah ustad, pondok gedung sekolah, gedung-gedung lain untuk pendidikan, seperti perpustakaan, aula, kantor pengurus pesantren, kantor organisasi santri, keamanan, koperasi, gedung-gedung keterampilan dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l3 level1 lfo3; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Sarana perangkat lunak; kurikulum, buku-buku dan sumber belajar lainnya, cara belajar – mengajar (bandongan, sorogan, halaqah dan menghafal), evaluasi belajar-mengajar.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn7" name="_ftnref7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Dari ketiga unsur tersebut, ketika lembaga pendidikan Islam telah memiliki masjid, ada kyai dan santri, sudah memenuhi criteria dasar sebagai pesantren. Keberadaan kyai dalam sebuah pesantren, ibarat jantung bagi manusia. Intensitas kyai memperlihatkan peran yang otoriter, disebabkan karena kyailah perintis, pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin bahkan juga pemilik tunggal sebuah pesantren. Kyai mengatur irama perkembangan dan kelangsungan kehidupan pesantren dengan keahlian kedalaman ilmu dan ketrampilannya mengatur pesantren yang dipimpinnya. Kyai sebagai tokoh kunci, keputusan dan kata-katanya dipegang teguh oleh seluruh penghuni pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Masjid sebagai pusat ibadah dan belajar mengajar. Masjid merupakan sentral sebuah pesantren karena di masjidlah bertumpu seluruh kegiatan di pesantren. Perkembangan selanjutnya, karena semakin bertambahnya santri, maka pelajaran berlangsung di ruang-ruang khusus. Hingga muncullah kelas-kelas sebagaimana terdapat pada madrasah-madrasah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Santri, sebagai unsur penting lainnya, memiliki peran sebagai penerima sekaligus pelaksana setiap kegiatan di pesantren. Berdasar keadaanya santri dapat dikelompokkan menjadi dua ; &lt;i&gt;Pertama, Santri Mukim&lt;/i&gt;, yaitu santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pesantren. &lt;i&gt;Kedua, santri kalong&lt;/i&gt; ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren, biasanya mereka tidak menetap di pesantren. Mereka pulang ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti pelajaran di pesantren. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn8" name="_ftnref8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Diawal kelahiranya, dalam menentukan kurikulum, biasanya diserahkan sepenuhnya kepada kyai dan kyai tidak memberikan batasan waktu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kepada para santri untuk &lt;i&gt;mondok&lt;/i&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn9" name="_ftnref9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kurikulum kyai adalah mengikuti kitab yang diajarkan, biasanya disebut dengan kitab kuning,. Maksudnya, santri disebut naik kelas jika telah menyelesaikan pembelajaran di salah satu kitab kuning. Dan bisa melanjutkan ke &lt;i&gt;kitab kuning&lt;/i&gt; selanjutnya. Kemudian, bagi santri yang ingin menyelesaikan studinya bisa sesuka hatinya, karena tidak ada batasan ilmu apa yang harus diselesaikan di pesantren. Dengan system pembelajaran seperti itu, santri tidak memerlukan ijasah, sebagai bukti kelulusanya di pesantren. Yang terpenting bagi mereka adalah ilmu dan pembiasaan spiritual yang didapatkan di pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Santri tinggal di asrama-asrama yang berjejer rapi dekat rumah kyai. Mereka hidup bersama dalam lingkungan tersendiri yang terpisah dengan masyarakat kampung. Biasanya untuk memisahkan, pesantren dikelilingi oleh pagar pembantas. Kyai dan santri hidup bersama dalam sebuah kesederhanaan dan kebersahajaan. Mereka saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kadang-kadang, karena lingkungan yang terpisah dari masyarakat kampong, menjadikan pesantren sebagai penjara bagi penghuninya, sebab diantara peraturan pesantren yang juga dibuat oleh kyai, adalah dilarangnya para santri untuk keluar pagar pesantren, kecuali ada kepentingan penting yang mengharuskan keluar dari pagar pesantren. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga santri dari keterpengaruhan kebiasan buruk&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masyarakat di luar pesantren. Akibat dari kesendirian itu, masyarakt pesantren seperti kelompok lain yang terasing, memiliki pola hidup yang berbeda , bahkan juga memiliki aturan-aturan yang berbeda pula. Disinilah letak keunikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;E.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Peran Pesantren &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Secara subtansial, pesantren merupakan institusi keagamaan yang tidak mungkin bisa dilepaskan dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Lembaga ini tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya sebagai bagian masyarakat dalam pengertiannya yang transformative. Dalam konteks ini, pendidikan pesantren pada dasarnya merupakan pendidikan yang sarat dengan nuansa transformasi sosial. Pesantren berikhtiar meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral keagamaan dan kemudian dikembangkan kepada rintisan-rintisan pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pada awal berdirinya, pengabdian pesantren terhadap masyarakat, sesuai zamannya, berbentuk sangat sederhana dan bisa dibilang sangat alami. Pengabdian tersebut diwujudkan misalnya dengan pelayanan keagamaan kepada masyarakat, menyediakan wadah bagi sosialisasi anak-anak, dan sebagai tempat bagi para remaja yang dating dari berbagai daerah yang sangat jauh untuk menjalani semacam “ritus peralihan” dari fase remaja ke fase selanjutnya. Dalam bentuk seperti itu, pesantren terlibat aktif dalam pengkajian keagamaan dan pola-pola sejenis yang dikembangkan di masyarakat luas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pengabdian masyarakat yang dilakukan pesantren itu merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dianut pesantren. Nilai pokok yang selama ini berkembang dalam komunitas santri (lebih tepatnya lagi, dunia pesantren) adalah : seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah. Maksudnya, kehidupan duniawi disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai Ilahi yang telah mereka peluk sebagai sumber nilai tertinggi. Dari nilai pokok ini berkembang nilai-nilai luhur yang lainnya, seperti nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian. Nilai-nilai merupakan dasar yang dijadikan landasan pesantren dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat, yang tahap berikutnya dikembangkan sebagai nilai yang perlu menjadi anutan masyarakat luas.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn10" name="_ftnref10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;F.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Tantangan Pesantren &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pesantren yang pada tahap awal berdirinya merupakan lembaga sederhana dengan berbagai nilai keikhlasan, kesederhanaan, pengabdian dan kesahajaan dalam setiap gerak langkahnya. Namun, seiring perkembangan zaman, berkembang pula berbgai persoalan ruwet dalam tubuh pesantren. Hal tersebut berakar dari masuknya pesantren dalam sistem pendidikan modern telah melahirkan problem cukup ruwet yang berdampak langsung atau tidak atas pengabdian yang selama ini telah dikembangkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Penerimaan pesantren terhadap pendidikan moderen dalam bentuk sekolah telah memberi peluang bagi ikut campurnya negara ke dalam dunia pesantren. Dominasi Negara yang begitu kuat membuat nilai-nilai pesantren selama ini mengalami pemudaran. Pendidikan yang pesantren yang berorientasi nilai mengalami perubahan menjadi pendidikan Negara dengan capaian yang bersifat formalistic. Akibatnya, selain ketergantungan pesantren kepada Negara menjadi tidak terelakkan, hal itu juga membuat pendidikan pesantren mulai berorientasi pada ijazah. Cita-cita baik bagi santri maupun pesantren untuk mengabdi kepada masyarakat sebagai pendidik agama dan pengembnagan kewiraswastaan mulai hilang, berganti dengan cita-cita misalnya menjadi pegawai. Dengan demikian upaya pesantren untuk memberdayakan masyarakat sebagai masyarakat mandiri menjadi terantuk ke dalam kesia-siaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Selanjutnya adalah fenomena yang berkembang belakangan ini adalah menunjukkan bahwa pesantren belum bisa sepenuhnya membumikan nilai-nilai akhlaq, sebagai bagian intrinsic keberagamaan masyarakt. Hal itu dapat dilacak dari merebaknya kekerasan dan kejahatan lain yang sebagainya melibatkan masyarakat yang memiliki “hubungan” dengan pesantren. Padahal sejatinya, pemberdayaan masyarakat dalam perspektif pesantren merupakan upaya pengembangan masyarakat agar mereka menjadi masyarakat yang berkeadaban, mandiri, dan sejahtera, sesuai nilai dan ajaran Islam yang menjadi anutan pesantren.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn11" name="_ftnref11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tantangan pesantren makin lama makin komplek seiring perkembangan zaman yang juga memunculkan berbagai persoalan komplek dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Tantangan ini menyebabkan terjadinya pergeseran nilai yang menyangkut pondok pesantren, baik nilai sumber belajar maupun nilai yang berkaitan dengan proses pengelolaan pendidikan (manajemen).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Terdapat beberapa indikator pergeseran nilai yang dialami pondok pesantren, diantaranya seperti dikemukakan oleh Dr. Mastuhu ;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level4 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kyai bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Dengan semakin beraneka ragam sumber belajar baru, maka semakin tinggi dinamika komunikasi antara system pendidikan pondok pesantren dengan system lain. Santri dapat belajar dari banyak sumber. Namun kondisi objektif ini tidak segera menggeser kedudukan kyai sebagai tokoh kunci yang menentukan corak pondok pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level4 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dewasa ini hampir seluruh pesantren menyelenggarakan jenis pendidikan formal, yaitu madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi. Jenis pendidikan pesantren sendiri sebagai jenis pendidikan non-formal tradisional yang hanya mempelajari kitab-kitab klasik merupakan bagian yang sangat kecil, sekitar satu sampai dua persen dari seluruh kegiatan pendidikan pesantren. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level4 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Seiring dengan pergeseran pola tersebut, maka kebanyakan santri saat ini membutuhkan ijazah dan penguasaan bidang keahlian-ketrampilan yang jelas agar dapat mengantarkannya untuk menguasai dan memasuki lapangan kehidupan baru. Dalam kehidupan modern, kita tidak cukup hanya dengan berbekal moral yang baik, tetapi perlu dilengkapi dengan keahlian (skill) atau ketrampilan yang relevan dan dan sinergis dengan kebutuhan dunia kerja.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn12" name="_ftnref12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level4 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sehubungan dengan hal tersebut, maka di kalangan santri terdapat kecenderungan yang semakin kuat untuk mempelajari sains dan tekhnologi pada lembaga-lembaga pendidikan formal, untuk memperoleh keahlian dan atau ketrampilan yang dimaksud, tetapi mereka juga ingin tetap belajar di pesantren untuk mendalami agama. Apabila telah keluar dari pesantren sering mencari ijazah persamaan pada lembaga pendidikan formal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level4 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Belajar dengan biaya, sudah memasuki dunia pesantren. Santri dipungut biaya pendidikan dan living cost setiap bulan atau tri-wulan, sehingga hamper semua santri mendapatkan kiriman uang dari orang tuannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level4 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Sejak awal tahun 1920-an, dengan telah dikenalnya model madrasah dengan system kelas dengan diajarkannya ilmu pengetahuan umum ke dalam pesantren, maka sejak itu sebenarnya pesantren telah memasuki system pendidikanumum, dan akhirnya secara resmi telah menjadi model pendidikanalternatif di masa mendatang.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn13" name="_ftnref13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dari beberapa indikator pergeseran nilai pesantren, maka pesantren dengan teologi yang dianutnya hingga kini, ditantang untuk menyikapi globalisasi secara kritis dan bijak. Pesantren harus mampu mencari solusi yang benar-benar mencerahkan, sehingga pada satu sisi,dapat menumbuhkembangkan kaum santri yang memiliki wawasan luas yang tidak gamang menghadapi modernitas dan sekaligus tidak kehilangan identitas dan jati dirinya, dan pada sisi lain dapat mengantarkan masyarakat menjadi komunitas yang menyadari tentang persoalan yang dihadapi dan mampu mengatasi dengan penuh kemandirian dan keadaban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;G.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dimensi Kualitas Pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam yang dianggap tradisional dan pinggiran. Seiring perputaran waktu, berusaha menghapus “status” tersebut dengan berbagai upaya dan daya. Karena, begitu menggebunya keinginan tersebut, terkadang pesantren melupakan identitas “keunikan” sebagai pesantren. Hingga melahirkan lingkaran problem yang tersambung tanpa ada ujung penyelesaianya. Itu sebabnya, bagi pesantren yang menginginkan perubahan diri, hendaknya tetap menjaga cirri khasnya sebagai lembaga yang bersahaja dengan keikhlasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Perubahan dan pembaharuan bagi pesantren, tampaknya sebagai kewajiban yang haarus dilakukan, jika tetap menginginkan penerimaan yang menyenangkan dari masyarakat. Sebagai salah satu bentuk penjual jasa pendidikan yang melibatkan tingkat interaksi tinggi antara penyedia dan pemakai jasa, terdapat lima dimensi pokok yang menentukan kualitas pesantren:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level7 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Keandalan (&lt;i&gt;Reliability)&lt;/i&gt;, yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera atau tepat waktu-akurat-memuaskan. Contohnya adalah penawaran masa sekolah yang sesuai dengan kebutuhan berupa ketrampilan, profesi, dan dunia kerja. Pesantren yang laku di masyarakat sekarang ini, misalnya harus menampilkan satu keandalannya dengan menyebut program unggulannya dengan setiap hari memakai bahasa Arab ataupun Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level7 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Daya tanggap (&lt;i&gt;Responsiveness),&lt;/i&gt; yaitu kemauan/kesediaan para staf untuk membantu para santri untuk mendapatkan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pelayanan dengan tanggap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level7 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Jaminan (&lt;i&gt;Assurance)&lt;/i&gt; terhadap kemampuan pengajar, mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, respek terhadap santri, dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki para pengajar maupun staf.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level7 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan santri. Misalnya para ustadz harus mengenal nama santri, atau para ustadz harus bisa dihubungi santri kapan saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l1 level7 lfo4; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bakti langsung (&lt;i&gt;Tangibles),&lt;/i&gt; meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan, ustadz, sarana ibadah, tersedianya tempat penjualan barang-barang kebutuhan santri.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn14" name="_ftnref14" style="mso-footnote-id: ftn14;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Berdasar keterangan tersebut, diharapkan bagi para pengelola pesantren yang mendambakan pesantren yang dikelolannya berkualitas hendaknya mampu memenuhi kelima dimensi kualitas pesantren.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selanjutnya untuk melihat karakteristik pengelolaan pesantren serta usaha-usaha yang telah dilakukan dalam beberapa pesantren terhadap pembaharuan system pendidikan dan pengelolaannya dapat dibandingkan antara dulu, sekarang dan kecenderungan mendatang, yang antara lain dapat dideskripsikan sebagai berikut: (Mastuhu, 1994: 154-157 )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoTableGrid" style="border-collapse: collapse; border: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-insideh: .5pt solid windowtext; mso-border-insidev: .5pt solid windowtext; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-yfti-tbllook: 480;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0;"&gt;   &lt;td style="border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;No&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-left: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Hal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-left: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Tradisional&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-left: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Sekarang dan Mendatang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 1;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Status&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Uzlah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Milik pribadi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Sub system pendidikan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;- Milik Institusi/yayasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 2;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Jenis Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Pesantren non formal (PNF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Pesantre (PNF)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Madrasah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Sekolah Umum (PF)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Sekolah Tinggi (PF)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 3;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Sifat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Bebas waktu, tempat, bebas biaya &amp;amp;syarat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Masih berlaku bagi PNF dan tidak berlaku untuk PF&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 4;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Agama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Memahami dan mengamalkan secara tekstual&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Agama (Duniawi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Memahami dan mengamalkannya sesuai dengan tempat dan zamannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 5;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Bahasa Pengantar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Daerah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Arab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Daerah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Arab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Inggris&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 6;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Kepemimpinan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Karismatik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Rasional&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 7;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Corak Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Fikih-Sufistik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Orientasi Ukhrawi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Sakral&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Manusia sebagai objek (fatalistic)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Fikih-Sufistik+Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Ukhrawi + Duniawi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Sakral + Profan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Manusia objek + Subjek (Vitalistik)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 8;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Perpustakaan, dokumentasi dan alat pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Tidak ada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Manual&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Ada&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Manual, Elektronika&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Komputer, dst.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 9;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Air&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-“Dua kullah”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Kran/ledeng&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 10;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Asrama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Hidup bersama menerima, memiliki ilmu dan mengamalkannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Hidup bersama&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Dialog&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Menjadikan ilmu sebagai sarana pengembangan diri&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 11; mso-yfti-lastrow: yes;"&gt;   &lt;td style="border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 25.5pt;" valign="top" width="34"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;11.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 96.9pt;" valign="top" width="129"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;Pengurus&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;" valign="top" width="144"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Mengabdi Kyai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 212.4pt;" valign="top" width="283"&gt;   &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Yayasan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Bertanggungjawab pada unit kerjanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 11.0pt;"&gt;-Memberikan masukan/pertimbangan Kyai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Berdasar&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tabel di atas, dapat dipahami jika pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki butir-butir positif dan negatif. Untuk menghasilkan lembaga pendidikan yang benar-benar mampu mencapai harapan yang dicita-citakan hendaknya tetap menjaga butir-butir positif dan meninggalkan butir-butir negatif untuk disempurnakan menjadi lebih baik:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-list: l2 level1 lfo5; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Butir-butir positif yang perlu dikembangkan dalam system pendidikan Islam / pesantren:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Pandangan pesantren bahwa      manusia dilahirkan menurut fitrahnya masing-masing. Tugas pendidikan      adalah untuk mengembangkan daya positif dan mencegah daya negative.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Pandangan bahwa tugas      pendidikan sebagai bentuk ibadah. Oleh karena itu dalam melaksanakan      proses pendidikan seyogyanya dengan ikhlas dan mengharap ridho Allah.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Hubungan yang baik antara      guru dan murid.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Pesantren sebagai tempat      mencari ilmu, bukan mencari ijazah.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Metode belajar halaqoh dan      sorogan (disesuaikan zaman)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Nilai pendidikan dengan      system asrama; bahwa sebagai manusia harus bisa hidup bersosialisasi,      tolong menolong, saling menghargai hak setiap orang dan menyadari      kewajiban yang harus dilakukan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Pandangan hidup jangka      panjang dan menyeluruh; bagi orang beriman dia akan optimis menjalani      hidup, tabah, sabar tidak putus asa, jika tertimpa musibah, sabar dan      berusaha serta tawakal.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 51.0pt; mso-list: l2 level1 lfo5; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -51.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Butir-butir negatif yang tidak perlu dikembangkan:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 38.25pt; mso-list: l7 level1 lfo7; tab-stops: list 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -20.25pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pandangan bahwa ilmu adalah hal yang sudah mapan dan dapat diperoleh melalui berkah Kyai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 38.25pt; mso-list: l7 level1 lfo7; tab-stops: list 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -20.25pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pandangan tidak kritis yang menyatakan bahwa apa-apa yang diajarkan Kyai dan kitab-kitab agama yang diterima sebagai kebenaran yang tidak perlu lagi dipertanyakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 38.25pt; mso-list: l7 level1 lfo7; tab-stops: list 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -20.25pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pandangan bahwa kehidupan ukhrawi paling penting, sedang duniawi tidak penting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 38.25pt; mso-list: l7 level1 lfo7; tab-stops: list 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -20.25pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;d.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Metode belajar menghafal dan pemikiran tradisional yang diterapkan untuk semua ilmu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 38.25pt; mso-list: l7 level1 lfo7; tab-stops: list 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -20.25pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;e.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kepatuhan mutlak kepada guru dan pada kehidupan kolektif (asrama), sehingga dapat menghambat perkembangan individualitas (jati diri) dan menghambat timbulnya pemikiran kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 38.25pt; mso-list: l7 level1 lfo7; tab-stops: list 38.25pt; text-align: justify; text-indent: -20.25pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;f.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pandangan hidup fatalistis yang menyerahkan nasib kepada realita kehidupan keduniawian sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 51.0pt; mso-list: l2 level1 lfo5; tab-stops: list 51.0pt; text-align: justify; text-indent: -33.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Butir-butir positif-negatif system pesantren yang perlu dikembangkan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo8; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Sistem asrama. Untuk      mencegah ekses-ekses negatif, maka system “asrama masa depan” harus mampu      berfungsi sebagai forum dialog, mengasah ketrampilan bermasyarakat,      berkepribadian dengan pembiasaan akhlaq mulia serta mengasah karakter      positif setiap peserta didik.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo8; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Metode halaqoh, metode ini      mengarah pada menghafal, yaitu mengarah untuk menanyakan dari segi      “apanya’ dan untuk “memiliki” ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadanya.      Hal tersebut perlu dirubah dan ditingkatkan menjadi menanyakan ilmu dari      segi “mengapa” dan “bagaimana”. Intinya menjadikan model halaqoh menjadi      lebih kreatif dan inovativ.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo8; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Jenis kepemimpinan.      Kepemimpinan karismatik (agama) perlu dilengkapi atau dikembangkan dengan      kepemimpinan rasional (ilmu), agar lebih mampu menghadapi tantangan zaman.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn15" name="_ftnref15" style="mso-footnote-id: ftn15;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Menurut goresan sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Dipelopori oleh salah satu &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;walisongo (abad XV-XVI), yaitu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Maulana Malik Ibrahim (meninggal 1419 di Gresik Jawa Timur). Di awal terbentuknya pesantren, pendidikan dikelola secara konvensional dengan Kyai sebagai titik sentra utama, masjid&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sebagai pusat lembaga dan proses pembelajaran dilaksanakan dengan system asrama (pondok). Karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, pesantren sering disebut sebagai lembaga pendidikan yang “unik”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Seiring perkembangan zaman, pesantren mengalami banyak perubahan. Sehingga, banyak bermunculan jenis-jenis dan bentuk-bentuk pesantren yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, tujuan dari setiap pesantren adalah sama, yaitu berusaha mengejewantahkan syariat Allah melalui pendidikan, sehingga terbentuklah lulusan-lulusan pesantren yang berakhlaq mulia, bermanfaat dan diridhoi Allah. Pendek kata, hadirnya pesantren sebagai sarana untuk tercapainya Islam sebagai agama &lt;i&gt;Rahmatan lil Alamin.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tak dapat dipungkiri hadirnya pesantren (dengan berbagai warna di dalamnya), yang diyakini sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Jawa dianggap telah memberikan sumbangan penting dan krusial dalam proses transmisi ilmu-ilmu Islam, reproduksi ulama, pemeliharan ilmu dan tradisi Islam, bahkan pembentukan dan ekspansi masyarakat muslim santri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Demikian besar pengaruh pesantren begi pengembangan kehidupan keberagamaan bagi masyarakat, maka perlu penanganan serius dan professional. Pesantren dengan teologi yang dianutnya hingga kini, ditantang untuk menyikapi globalisasi secara kritis dan bijak. Pesantren harus mampu mencari solusi yang benar-benar mencerahkan sehingga, pada satu sisi, dapat menumbuhkembangkan kaum santri memiliki wawasan luas yang tidak gamang menghadapi modernitas dan sekaligus tidak kehilangan identitas dan jati dirinya, dan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pada sisi lain dapat mengantarkan masyarakat menjadi komunitas yang menyadari tentang persoalan yang dihadapi dan mampu mengatasi dengan penuh kemandirian dan keadaban.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn16" name="_ftnref16" style="mso-footnote-id: ftn16;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l8 level1 lfo9; tab-stops: list 36.0pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Penulis      adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UMM &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Program Studi Pendidikan Agama Islam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 200%;"&gt;A,LA, Abd. (2006). &lt;i&gt;Pembaruan Pesantren&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 200%;"&gt;Fadjar, Malik. (1998). &lt;i&gt;Visi Pembaruan Pendidikan Islam. &lt;/i&gt;Jakarta: LP3NI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 200%;"&gt;Halim, Suhartini et al. (2005). &lt;i&gt;Manajemen Pesantren&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -54.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;Khozin. (2006). &lt;i&gt;Jejak-Jejak Pendidikan Islam di Indoneisa: Rekonstruksi Sejarah Untuk Aksi &lt;/i&gt;(rev. ed.). Malang: UMM Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -54.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -45.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;Malik. (Ed). (2005). &lt;i&gt;Pemberdayaan Pesantren: Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan. &lt;/i&gt;Yogyakarta: Pustaka Pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -45.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -54.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;Marno, Triyo Supriyatno. (2008). &lt;i&gt;Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. Bandung:Refika Aditama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -54.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -54.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;Mas’ud, Abdurrahman. (2004). &lt;i&gt;Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi&lt;/i&gt;. Yogyakarta: LKiS.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -54.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -45.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;Yasmin. (2005). &lt;i&gt;Modernisasi Pesantren : Kritik Nurcholish Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional.&lt;/i&gt; Jakarta: Quantum Teaching.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Yasmadi, &lt;i&gt;Modernisasi Pesantren&lt;/i&gt; (Jakarta:2005), hal. 62.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref2" name="_ftn2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dalam penelitiannya, Clifford Geertz berpendapat , kata santri mempunyai arti luas dan sempit. Santri arti sempit adalh murid di pesantren. Arti luas, santri adalah bagian penduduk Jawa yang memeluk Islam secara benar-benar, bersembahyang, pergi ke masjid dan berbagai aktifitas lainnya. Lihat Clifford Geertz , Abangan Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Dikutip dari Abdurrahman Mas’ud, &lt;i&gt;Intelektual Pesantren&lt;/i&gt; (Yogyakarta:2004),hal. 61.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref3" name="_ftn3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Khozin, &lt;i&gt;Jejak-Jejak Pendidikan Islam di Indonesia:Rekonstruksi Sejarah Untuk Aksi&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;rev. ed&lt;/i&gt;.;Malang: 2006), hal. 97-98.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref4" name="_ftn4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Abdurrahman Mas’ud. &lt;i&gt;Intelektual Pesantren:Perhelatan Agama dan Tradisi&lt;/i&gt; (Yogyakarta:2004),hal. 54.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref5" name="_ftn5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Khozin, &lt;i&gt;Op. Cit&lt;/i&gt;., hal. 101. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref6" name="_ftn6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;.,hal. 103.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref7" name="_ftn7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Jamaludin Malik, &lt;i&gt;ed&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Pemberdayaan Pesantren, Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan&lt;/i&gt; (Yogyakarta: 2005), hal. 3-4.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref8" name="_ftn8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Yasmadi.&lt;i&gt; Op. Cit&lt;/i&gt;.,&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;hal. 66&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref9" name="_ftn9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Istilah bagi para santri yang studi di pesantren.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn10" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref10" name="_ftn10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Abd A’la. &lt;i&gt;Pembaruan Pesantren&lt;/i&gt; (Yogyakarta: 2006), hal. 2-4.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn11" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref11" name="_ftn11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;., hal.6.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn12" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref12" name="_ftn12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Malik Fadjar. &lt;i&gt;Visi Pembaruan Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. (Jakarta:1998), hal. 126-127.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn13" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref13" name="_ftn13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Marno dan Triyo Supriyanto. &lt;i&gt;Manajemen dan Kepemimpinan Perndidikan Islam&lt;/i&gt;. (Bandung:2008), hal.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;65.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn14" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref14" name="_ftn14" style="mso-footnote-id: ftn14;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Parasuraman, Zeithaml &amp;amp; Berry, 1985:41-50 dalam A.Halim, Rr.Suhartini dkk. &lt;i&gt;Manajemen Pesantren &lt;/i&gt;(Yogyakarta:2005),hal. 32-33.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn15" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref15" name="_ftn15" style="mso-footnote-id: ftn15;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Marno dan Triyo Supriyanto. &lt;i&gt;Op, Cit&lt;/i&gt;,.hal.68-69.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn16" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref16" name="_ftn16" style="mso-footnote-id: ftn16;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Abd A’la. &lt;i&gt;Op,Cit&lt;/i&gt;,.hal. 8-9&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-7848024736763030294?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/7848024736763030294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/07/mengenal-pesantren.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7848024736763030294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7848024736763030294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/07/mengenal-pesantren.html' title='MENGENAL PESANTREN'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-5639889616016823683</id><published>2011-07-03T17:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-03T17:04:27.065-07:00</updated><title type='text'>silahkan dibaca-baca</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;MENGAPA HARUS BELAJAR...? &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-list: l2 level1 lfo1; tab-stops: list 27.0pt; text-align: justify; text-indent: -36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 27.0pt;"&gt;Kemampuan belajar yang dimiliki manusia merupakan bekal yang sangat baik, berdasarkan kemampuan tersebut umat manusia telah berkembang selama berabad-abad tahun lamanya hingga saat ini. Dan kesempatan yang luas tetap terus terbuka bagi manusia untuk terus berkembang memperkaya diri dalam&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mencapai taraf kebudayaan yang lebih tinggi, misalnya para ahli tekhnologi berusaha terus untuk menemukan sumber-sumber energi baru, dengan mempergunakan hasil penemuan ilmiah yang telah digali oleh generasi terdahulu. Namun tanpa dibekali dengan kemampuan belajar, kemampuan di bidang tekhnologi ini tidak mungkin berjalan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; tab-stops: 27.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setiap manusia tentunya mengalami banyak perkembangan di bidang kehidupan. Perkembangan ini dimungkinkan karena adanya kemampuan untuk belajar. Sehingga manusia dapat terus mengalami perubahan dari waktu-ke waktu hingga mencapai usia tua.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Untuk memfokuskan permasalahan, maka dalam makalah ini hanya akan membahas mengenai hubungan antara belajar, perkembangan dan tujuan pendidikan, serta mengulas sederhana tentang pendidikan sekolah. Hasil dari makalh ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca khususnya bagi siapa saja yang konsen dalam dunia pendidikan tentang hubungan belajar, perkembangan dan tujuan pendidikan. Sehingga pembaca dapat mengetahui betapa penting peran belajar di sekolah. Semoga bermanfaat.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;b&gt;Pembahasan &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&amp;nbsp;Manusia sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi, tentunya terus mengalami perubahan. Dalam mencapai perubahan, pastinya setiap manusia mengharapkan perubahan menjadi lebih baik. Usaha untuk berubah menuju lebih baik dapat dilakukan dengan belajar setiap saat. Proses belajar yang paling formal di Indonesia biasanya di lakukan dalam lembaga sekolah. Di sekolah setiap manusia dituntut untuk terus belajar demi mencapai tujuan yang diharapkan atau tujuan pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Ditetapkannya aneka tujuan pendidikan dimaksudkan untuk memberikan arah yang jelas pada usaha-usaha pendidikan, supaya belajar dan perkembangan peserta didik berjalan sesuai harapan. Dengan begitu dapat dipahami bahwa antara belajr, perkembangan, dan pendidikan sangat berhubungan erat antara satu dengan lainnya.&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="A"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level1 lfo2; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Hubungan antara belajar- perkembangan-pendidikan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Belajar&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;Belajar itu meliputi tiga bidang belajar, yaitu &lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l3 level1 lfo4; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Belajar di bidang kognitif, anak memperoleh      pengetahuan dan pemahaman, misalnya mengetahui struktur pemerintahan      Negara dan memahami hubungan antara bilangan dalam system bilangan decimal      0-9, sehingga mampu mengalikan dua bilangan secara tepat.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l3 level1 lfo4; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Belajar melalui bidang sensorik-motorik, anak      memperoleh setumpuk ketrampilan yang melibatkan otot, urat serta      persendian tubuhnya (motorik) dan alat-alat indra seperti mata, telinga      (sensorik); namun pemikiran, perasaan dan kemauan berperan juga      (psikomotorik).&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l3 level1 lfo4; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Belajar melalui bidang dinamik-afektif, anak      memperoleh berbagai sikap dan perasaan yang ikut menentukan tindakan-tindakan      yang akan diambil; sikap dan perasaan itu memberikan energi psikis      (dinamik) dan semangat melalui rasa-rasa tertentu yang meresapi tingkah      lakunya (afektif).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Selama belajar di tiga bidang tersebut anak bergaul secara aktif dengan lingkungan hidup di sekitarnya. Dari orang-orang lain dan bermacam-macam sumber yang dibaca atau didengarkan, anak memperoleh pengetahuan, pemahaman, sikap, dan nilai. Dengan kata lain; belajar adalah sesuatu yang bersifat pribadi, yang hanya dapat dilakukan oleh orangnya sendiri. Belajar di tiga bidang itu, bersama-sama akan menunjang perkembangan psikis/mental anak. (Psikologi Pengajaran, W.S. Winkel: 2004)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Belajar pada pihak anak didik, merupakan kunci dalam proses perkembangan mental/ psikis, namun bukan setiap pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap perasaan, dan nilai ketrampilan yang diperoleh melalui belajar akan dengan sendirinya menjamin arah perkembangan yang seharusnya. Itu sebabnya tujuan belajar harus dimaksudkan hanya untuk meraih perkembangan ke arajh yang lebih baik. Tidak dikatakan belajar jika seseorang yang mengetahui sesuatu yang baru tapi semakin membawanya kepada perkembangan yang lebih jelek. Karena diktakan telah belajar jika telah berubah kepada yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pada hakikatnya, orang belajar adalah berusaha untuk menghubung-hubungkan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki dengan materi baru yang dipelajari, sehingga pengaitan antara sesuatu yang baru dengan hal-hal yang sudah ada dapat mempermudah penerimaan akan sesuatu yang baru. Hal ini kemudian menjadi salah satu prinsipbelajar yang utama dan dikenal sebagai prinsip asosiasi. Secara lengkap, prinsip tersebut berbunyi “belajar pada dasarnya adalah menghubungkan sesuatu yang baru dengan sesuatu yang dimiliki.”(Inspiring Teaching, Taufik Tea: 2009)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Proses belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkunganya. Dengan begitu belajar adalah proses yang komplek yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga liang lahat nanti. Salah satu tanda bahwa seseorang telah belajar jika terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya.perubahan menuju lebih baik dan hendaknya terjadi sebagai akibat interaksinya dengan lingkungannya, tidak karena proses pertumbuhan fisik atau kedewasaan; tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. Perubahan tersebut harus bersifat relative permanent, tahan lama dan menetap tidak berlangsung sesaat saja. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Dalam proses belajar tentunya manusia membutuhkan sumber sebagai bahan belajar. Jika selama ini banyak yang menganggap bahwa satu-satunya sumber belajar atau bahan yang perlu dipelajari adalah buku atau materi pelajaran yang disampaikan para pendidik di dalam kelas. Padahal sumber belajar segala sesuatu yang menjadikan manusia berubah, bisa berupa nasehat dari orang lain, pengalaman diri sendiri atau orang lain, media elektrinik seperti televise, radio, internet bisa juga media masa. Berikut beberapa jenis sumber belajar:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="A"&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Bahan (materials). Jenis ini biasa disebut dengan       istilah perangkat lunak atau software. Di dalamnya terkandung pesan-pesan       yang perlu disajikan baik dengan bantuan alat penyaji maupun tanpa alat       penyaji. Contoh buku, modul, film, radio dan lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Alat (Device), bisa disebut istilah hardware atau       perangkat keras dan digunakan untuk menyajikan pesan. Contoh, proyektor,       film, film bingkai, video, tape recorder, TV dan sebagainya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Tekhnik adalah prosedur rutin atau acuan yang       disiapkan untuk menggunakan alat, bahan, orang dan lingkungan untuk       menyampaikan pesan, misalnya tekhnik demonstrasi, kuliah, ceramah, Tanya       jawab, pengajaran terprogrm dan belajar sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Lingkungan atau setting, memungkinkan siswa       belajar. Misalnya : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, pusat       sarana belajar, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik dan       tempat-tempat lain baik yang sengaja dirancang untuk belajar atau untuk       hal lain tetapi dimanfaatkan untuk belajar. (Media Pendidikan, Arief       Sadiman dkk : 2008)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Perkembangan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Dalam Kmaus Bahasa Indonesia Kontemporer, Perkembanganadalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata berkembang diartikan mekar, terbuka, membentang, menjadi besar, luas, banyak dan menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan lain sebagainya. Dengan demikian, kata berkembang tidak saja meliputi aspek yang bersifat abstrak, seperti pikiran dan pengetahuan, tetapi dapat juga bersifat konkret seperti ; menjadi besar, menjadi luas dan menjadi tinggi. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Dengan kata lain perkembangan adalah perubahan jasmani dan rohani manusia menuju kea rah yang lebih maju dan sempurna. Juga merupakan proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmani, bukan organ-organ jasmaninya itu sendiri. Dengan demikian, penekanan pada perkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik. (Psikologi Pendidikan, Romlah: 2010)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Perkembangan dapat diartikan sebagai proses berlangsungnya perubahan-perubahan dalam diri seseorang, yang membawa penyempurnaan dalam kepribadiannya. Pada anak didik proses itu memuncak, bila dia telah mencapai kedewasaan. Salah satu aspek pokok dari perkembangan ialah “pertumbuhan”, yaitu proses berlangsungnya sejumlah perubahan jasmani pada diri seseorang dengan meningkatnya umur, sampai kejasmanian telah terbentuk sepenuhnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pertumbuhan berlangsung sejak saat terjadi pembuahan dan menyumbangkan struktur jasmaniah yang memungkinkan perkembangan mental/psikis, yang meliputi aspek perkembangan kognitif, perkembangan konatif, perkembangan afektif, perkembangan sosial dan perkembangan motorik. Berikut keterangan singkat mengenai beberapa perkembangan dalam diri manusia.&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="A"&gt;&lt;ol start="5" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Perkembangan kognitif meliputi peningkatan       pengetahuan serta pemahaman yang sering disebut “perkembangan       intelektual”, dan perluasan kemampuan berbahasa. Misalnya anak mulai       mengenal benda-benda tertentu yang dapat dipakai sebagai tempat duduk;       kemudian dia mulai mengerti, bahwa ada variasi dalam ukuran dan warna       semua benda itu, namun terdapat sejumlajh cirri yang sama antara       benda-benda itu. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Perkembangan konatif meliputi penghayatan berbagai       kebutuhan, baik biologis maupun psikologis, dan penentuan diri sebagai       makhluk yang bebas dan rasional. Akan lahir pula berbagai motif, yaitu       suatu daya penggerak yang memberikan arah pada beraneka aktivitas.       Misalnya, penghayatan akan kebutuhan untuk makan menimbulkan daya       penggerak untuk berbuat sesuatu, sehingga kebutuhan akan makanan dapat       dipenuhi.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Perkembangan afektif menyangkut pemerkayaan alam       perasaan. Kalau anak pada awal mula, hanya mengenal perasaan senang atau       perasaan tidak senang, lama kelamaan dia akan mengalami berbagai bentuk       perasaan yang senang. Seperti rasa puas, gembira, kagum. Demikian pula       dengan rasa tidak senang, akan mengalami berbagai variasi; seperti takut,       benci, kesal, kecewa dan rasa marah.suatu reaksi perasaan akan       disesuaikan dengan situasi dan kondisi kehidupan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l1 level2 lfo2; tab-stops: list 72.0pt; text-align: justify;"&gt;Perkembangan sosial menyangkut kemampuan untuk       bergaul secara memuaskan dengan seluruh anggota keluarga, semua teman di       sekolah serta warga masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Perkembangan motorik meliputi kemampuan untuk menggunakan otot-otot, urat-urat dan persendian-persendian dalam tubuh sedemikian rupa. Sehingga anak dapat merawat diri sendiri dan bergerak dalam lingkungan secara efisien dan efektif. Misalnya anak kecil belajar berjalan tegak, menaiki tangga, naik sepeda, memegang dan mengambil benda dan sebagainya. Semua aspek perkembangan yang telah disebutkan tersebut, bersama-sama membentuk keseluruhan perkembangan mental/psikis anak. (Psikologi Pengajaran, W.S. Winkel: 2004)&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Pendidikan Sekolah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;Supaya anak didik dapat belajar dengan maksimal dan mampu mencapai perkembangan seperti harapan, maka proses belajar harus dijalankan dalam lembaga yang tersistematis, berkesinambungan dan resmi. Dengan begitu perkembangan hasil belajar dapat terkontrol dan terawasi dengan baik. Lembaga yang dimaksud di sini adalh lembaga pendidikan sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pendidikan ialah bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada yang belum dewasa, agar dia mencapai kedewasaan. Bantuan yang diberikan oleh pendidikberupa pendampingan, yang menjaga agar anak didik belajar hal-hal yang positif, sehingga sungguh-sungguh menunjang perkembanganya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sekolah merupakan lingkungan pendidikan formal. Yang mana serangkaian kegiatan pendidikanya dilaksanakan secara terencana dan terorganisasi, termasuk kegiatan dalam rangka proses belajar-mengajar dalam kelas. Kegiatan tersebut tiada lain hanyalah untuk menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam diri anak yang sedang menuju kedewasaan, sejauh berbagai perubahan itu dapat ditempuh dalam belajar. Dengan belajar yang terarah dan terpimpin anak dapat memperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai yang mengantar ke kedewasaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ada beberapa karakteristik proses pendidikan yang berlangsung di sekolah:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Pendidikan diselenggarakan secara khusus dan dibagi      atas jenjang yang memiliki hubungan herarkis.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Usia anak didik di suatu jenjang pendidikan      relative homogen.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Waktu pendidikan relative lama sesuai dengan      program pendidikan yang harus diselesaikan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Materi atau isi pendidikan lebih banyak bersifat      akademis dan umum.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l5 level1 lfo6; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Adanya penekanan tentang kualitas pendidikan      sebagai jawaban terhadap kebutuhan di masa yang akan dating.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Sebagai lembaga pendidikan formal sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. (Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Hasbullah : 2005)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah hendaknya memiliki tujuan, sehingga memiliki orientasi yang jelas dalam menjalankan proses pendidikan bagi seluruh masyarakat sekolah. Tujuan sekolah pastinya tidak terlepas dari tujuan pendidikan yang telah banyak dibicarakan dalam dunia pendidikan. Berikut tujuan pendidikan Islam yang telah dirumuskan al-Ghazalai. Tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi yaitu:&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo5; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify;"&gt;Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada      Allah SWT.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan      hidup di dunia dan di akhirat. Kebahagiaam dunia akhirat dalam pandangan      al-Ghazali adalah menempatkan kebahagiaan dalam proporsi yang sebenarnya.      Kebahagiaan yang lebih memiliki nilai universal, abadi, dan lebih hakiki      itulah yang diprioritaskan. (Ilmu Pendidikan Islam, Mujib Abdul dan Jusuf      Mudzakkir: 2006)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pendidikan di sekolah mengarahkan belajar anak supaya dia memperoleh pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap dan nilai yang semuanya menunjang perkembanganya. Dengan demikian, jelas terdapat kaitan yang erat antara pendidikan, belajar dan perkembangan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Setiap manusia dalam menjalani kehidupanya, mau tidak mau pastimengalami perkembangn dan pertumbuhan baik secara fisik maupun psikis. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Pada dasarnya tanpa adanya arahan setiap perkembangan dan pertumbuhan tersebut akan berjalan dengan sendirinya dengan berbagai factor yang mempengaruhinya dari luar dan dalam dirinya. Untuk mengarahkan perkembangn dan pertumbuhan itulah (supaya sesuai yang diharapkan) manusia harus belajar. Karena tanpa belajar bisa jadi mengalami perkembangn dan pertumbuhan yang tidak sesuai harapan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal, manusia membutuhkan alat atau sarana berupa tempat dan lingkungan yang kondusif. Di sinilah fungsi pendidikan sekolah yang menyedikan tempat kondusif bagi berlangsungnya proses belajar manusia. secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kaitan belajar, perkembangn dan pendidikan sekolah ibart tiga bersaudara yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Perkembangan sebagai alasan seseorang untuk belajar dan sekjolah sebagai tempat untuk belajar. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;DAFATAR PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;Hasbullah. (2006). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -45.0pt;"&gt;Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. (2006). &lt;i&gt;Ilmu Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. Jakarta: Kencana Prenada Media.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;Romlah. (2010). &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan&lt;/i&gt;. Malang: UMM Press.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;Sadiman, Arief dkk. (2008). Media Pendidikan: Pengertian, pengembangan, dan pemanfaatanya. Jakarta: Rajawali Press.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -45.0pt;"&gt;Tea, Taufik. (2009). &lt;i&gt;Inspiring Teaching:&lt;/i&gt; Mendidik Penuh Inspirasi. Jakarta: Gema Insani.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -45.0pt;"&gt;Winkel, W.S. (2004). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;br style="mso-special-character: line-break;" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-5639889616016823683?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/5639889616016823683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/07/silahkan-dibaca-baca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5639889616016823683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5639889616016823683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/07/silahkan-dibaca-baca.html' title='silahkan dibaca-baca'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-2385608556505435878</id><published>2011-03-09T03:20:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T03:20:22.004-08:00</updated><title type='text'>STRAT</title><content type='html'>Semua dimulai dari strat&lt;br /&gt;banyak yang bilang, kalau posisi menentukan prestasi...betul juga sih..&lt;br /&gt;kalau saya boleh ngomong..Strat, yang menentukan DAPAT&lt;br /&gt;Artinya...kalau pingin dapat baik...pilih Strat yang terbaik..&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kalau pingin dapat banyak...pilih strat yang baik juga..&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kalau pingin dapat cepat..ya..pilih strat tercepat...&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kalau pingin dapat bagus&amp;nbsp; pilih juga strat yang bagus...&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nah...kalau mulai strat seadanya..dapatnya juga seadanya...&lt;br /&gt;kalau strat...terakhir ya daptnya terakhir...juga...betul gakkk..&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; WAALLAHU A'LAM BISHOWAB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-2385608556505435878?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/2385608556505435878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/03/strat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/2385608556505435878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/2385608556505435878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/03/strat.html' title='STRAT'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-7264395262521027009</id><published>2011-02-09T04:35:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T04:35:02.824-08:00</updated><title type='text'>Menengok Kejayaan ISLAM</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 150%;"&gt;Kerajaan Syafawi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Islam hadir di muka bumi menyelamatkan manusia dari kejahiliyahan, hadirnya membawa kemaslahatan bagi penghuni dunia. Kedatangan Islam ditandai dengan ditusnya Muhammad SAW sebagai utusan Allah penyebar risalah Islamiyah. Sekitar 610 M Nabi Muhammad SAW menerima wahyu al-Qur’an pertama kalinya di Mekkah dan dua tahun kemudian mulai mengajarkannya. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam perjalanannya, Islam mengalami beberapa periode dalam hal pemegang tampuk kepemimpinan. Periode awal dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW, kemudian para &lt;i&gt;Khulafaur Rosyidin&lt;/i&gt;, yang selanjutnya dilanjutkan oleh para sahabat dan tabi’in hingga generasi selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ditinjau dari sisi sejarah peradaban Islam, banyak terjadi beberapa model periodesasi sejarah Islam diantaranya adalah periodesasi menurut Harun Nasution yang terbagi dalam tiga periode, Periode Klasik (650-1250 M), Periode Pertengahan (1250-1800 M) dan Periode Moderen (1800 M sampai sekarang). &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Periode pertama adalah masa Rasulullah SAW hingga jatuhnya pemerintahan Bani Abbas di Bagdad. Periode pertengahan dimulai dari jatuhnya Bani Abbas hingga datangnya pengaruh modernisasi di Eropa ke dalam dunia Islam. Dalam periode ini ditandai dengan masa-masa kemunduran pertama peradaban Islam yang sering disebut masa stagnan, yakni sejak jatuhnya Bani Abbas hingga lahir tiga kerajaan besar; Safawi di Persia, Mughol di India dan Usmani di Turki. Periode terakhir atau periode moderen ditandai dengan masa penjajahan Eropa terhadap dunia Islam. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn2" name="_ftnref2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Berdasarkan periodesasi tersebut, penulis berusaha mendeskripsikan salah satu tiga kerajaan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;besar Islam masa periode pertengahan yaitu Kerajaan Safawi di Persia, dengan beberapa sub bahasan yaitu; spesifikasi kebudayaan Islam Persia, perwujudan Negara Syi’i di Persia, prestasi-prestasi yang telah diraih, dan doktrin keimaman serta pengaruhnya terhadap kepemimpinan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; mso-list: l2 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;A.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Kebudayaan Islam &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Persia&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn3" name="_ftnref3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Pada awalnya &lt;country-region w:st="on"&gt;Persia&lt;/country-region&gt; adalah sebuah tempat di wilayah barat daya Negara &lt;country-region w:st="on"&gt;Iran&lt;/country-region&gt; yang mengitari teluk &lt;country-region w:st="on"&gt;Persia&lt;/country-region&gt; dan mencakup daerah pusat kekuasaan terakhir Kekaisaran &lt;country-region w:st="on"&gt;Persia&lt;/country-region&gt;, &lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Persepolis&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;, dan Pasar Godea. &lt;country-region w:st="on"&gt;Persia&lt;/country-region&gt; yang kemudian disebut &lt;country-region w:st="on"&gt;Iran&lt;/country-region&gt; oleh penduduknyaterdiri atas dataran tinggi yang membentang dari tanah rendah Mesopotamia (sekarang Irak) kea rah timur sampai ke dataran di lembah sungai Indus (&lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Pakistan&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 72pt; mso-list: l2 level2 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Periode pra-Islam&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;Berabad-abad sebelum Islam lahir, &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Persia&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt; telah dikuasai tiga dinasti kerajaan dengan daerah taklukan yang cukup luas. Dinasti tersebut adalah:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; mso-list: l2 level3 lfo1; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a)&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Dinasti Akhamenida (Kerajaan Persia Lama). Cyrus II (549-529 SM), putra Raja Elam (Cambyses I), mendirikan dinasti ini setelah menaklukkan kerajaan media yang dipimpin kakeknya (Astyages).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; mso-list: l2 level3 lfo1; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b)&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Dinasti Arsacid (Kerajaan Parthia). Dinasti ini berhasil menguasai wilayah Persia dalam waktu relatif panjang, sekitar 476 tahun. Dinasti ini runtuh saat masa kepemimpinan Raja Artabanus V pada tahun 226 dibunuh oleh pasukan Raja Ardashir dari Kerajaan Persia (Dinasti Sasaniyah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; mso-list: l2 level3 lfo1; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c)&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Dinasti Sasaniyah (Kerajaan Persia). Setelah mengalahkan Artabanus V, Ardasir segera menobatkan dirinya sebagai raja penguasa wilayah yang dulunya dikuasai Dinasti Arsacid. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Setelah Ardasir meninggal tampuk kekuasaan digantikan oleh putranya dan keturunan-keturunan selanjutnya. Hingga akhirnya pada masa raja terakhir yaitu Yazdarij III (raja yang mengakhiri symbol kekuasaan Sasaniyah) kerajaan ini runtuh setelah ditaklukkan paskan Islam yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqas (sahabat) pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Yazdarij III wafat dalam kesendiriannya di elarian pada masa khalifah Usman bin Affan.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn4" name="_ftnref4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;2. Periode Kedatangan Islam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ketika melakukan invasi ke Persia, Khalifah Umar hingga Usman tidak melakukan berbagai perubahanberarrti kecuali aspek keagamaan dan kebudayaan. Sebelum Islam di Persia lebih banyak mengadopsi kebudayaan hellenisme (Yunani), pada masa Islam kebudayaan tersebut diabsorpsi dengan menambahkan nilai keislaman di dalamnya. Di negeri inilah budaya hellenisme Islam berkembang dengan pesat, misalnya dalam ilu filsafat, yang dampaknya dapat disaksikan sampai sekarang di Negara Iran modern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Pada masa Khulafaur Rosyidin berakhir, secara berturut-turut wilayah Persia dikuasai oleh Daulah Umayyah (661-750 M) dan Daulah Abbasiyah (749-1258 M). kedua dinasti tersebut menempatkan anggota garnisun dari kalangan suku Arab untuk mengontrol area Persia. Politik arabisasi dilancarkan penguasa Daulah Umayyah sebagai upaya memperkukuh hegemoni politik daulah ini terhadap rakyat Persia yang jauh dari pusat kekuasaan. Sedangkan pada masa Daulah Abbasiyah politik arabisasi tidak diberlakukan lagi, tetapi dengan memindahkan pusat kekuasaan dari Damaskus ke Bagdad. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Akibat tindakan politik tersebut terjadi pergolakan dalam pemerintahan, hingga akhirnya terjadi pemberontakan di beberapa daerah hingga terwujud beberapa dinasti kecil di Persia diantaranya adalah Dinasti Samaniyah (819-1005 M) yang menguasai wilayah utara Persia dan Asia Tengah, pemerintah Samaniyah dikenal karena berhasil membawa Persia menuju kemakmuran dan kedamaian yang ditandai dengan pertumbuhan dunia artistik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Periode selanjutnya Persia dipegang Dinasti Seljuk (1038-1194). Dinasti ini termotivasi untuk menguasai Persia untuk menumpas sisa-sisa kaum Ghaznawiyah yang melarikan diri ke Persia. Pada saat bersamaan pengaruh kekuasaan Umayyah di Persia melemah, ketika itulah Dinasti Seljuk menancapkan pengaruh kekuasaanya di Persia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Seiring dengan runtuhnya imperium Islam di semenanjung Arabia dan sekitarnya akibat invansi tentara Mongol pada abad ke 13, Dinasti saljuk pun jatuh ke tangan Mongol. Persia dikuasai Mongol selama kurang lebih 3 abad. Selanjutnya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Persia diperintah Dinasti Safawi (1501-1732 M).&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn5" name="_ftnref5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: FI;"&gt; &lt;span lang="FI"&gt;Dari sekelumit sejarah tersebut (rentetan kepemimpinan di Persia) menjadikan suatu kewajaran jika Persia merupakan daerah yang telah memiliki peradaban cukup maju di bandingkan tempat-tempat lainnya, sehingga peradaban tersebut sangat mempengaruhi perdaban umat manusia di dunia.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; mso-list: l2 level1 lfo1; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;B.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Kerajaan Syafawi di Persia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Safawi, kerajaan yang didirikan Syah Ismail (907 H/ 1501 M), dinisbahkan kepada Tarekat Safawiyah yang didirikan Syeh Safiuddin Ishaq (650 H/ 1252 M-735 H/1334 M) di Ardabil PADA 1300-an. Dalam perkembangannya, tarekat Safawiyah cenderung beralih dari lembaga tasawuf menjadi aliran agama yang cenderung kepada gerakan politik dan kekuasaan. &lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Setelah berkuasa selama lebih dari dua abad, Kerajaan Safawi semakin melemah. Wilayah propinsi yang demikian luas menimbulkan proses pelemahan system pertahanan militer. Akhirnya pasukan Afghan menguasai Kerajaan Safawi pada 1722 M. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn6" name="_ftnref6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 72pt; mso-list: l2 level2 lfo1; tab-stops: list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Pembentukan dan Perkembangan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Syafawi merupakan salah satu tiga kerajaan besar yang hadir setelah dinasti Abbasiyah runtuh. Kekuasaan Syafawi di sebelah barat berbatasan dengan daerah kekuasaan Usmaniyah, menguasai daerah Irak, Iran, Afganistan dan Khurosan dan di Tenggara berbatasan dengan daerah kekuasaan Mughol India.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn7" name="_ftnref7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Berbeda dari dua kerajaan Islam lainnya (Usmani dan Mughol), &lt;span style="color: black;"&gt;kerajaan syafawi menyatakan syiah sebagai mazhab negaranya. Karena itu kerajaan ini dapat di anggap sebagai peletak pertama dasar terbentuknya Negara &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Iran&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn8" name="_ftnref8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kerajaan Syafawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah &lt;city w:st="on"&gt;kota&lt;/city&gt; di &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Azerbaijan&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;. Tarekat ini dinisbahkan kepada tarekat Safawiyah yang didirikan Syeh Safiuddin Ishaq&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn9" name="_ftnref9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (650 H/1252 M-735 H/1335 M). Tujuan tarekat ini adalah memerangi orang-orang yang ingkar dan kelompok ahli bid’ah. Karena itu, tarekat bersikap fanatik dan menentang kelompok selain Syi’ah. Itu sebabnya gerakan ini merasa perlu memasuki wilayah politik.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn10" name="_ftnref10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kepemimpinan tarekatnya dilanjutkan oleh anak cucu beliau hingga sampai pada masa keturunanya yaitu Imam Junaid (1447-1460 M) tarekat yang lebih bersifat ukhrawi menjadi aliran yang mempunyai kecenderungan kepada politik dan kekuasaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Sepeninggal Junaid, pimpinan tarekat Safawiyah digantikan oleh anaknya yang bernama Haidar. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Haidar mengawini putri Uzun Hasan dan melahirkan anak bernama Isma’il. Kekuatan Safawiyah mulai bangkit kembali dalam kepemimpinannya, hingga berhasil menaklukkan Tibriz, pusat kekuasaan Ak-Koyunlu. Di kota ini Isma’il memproklamirkan berdirinya kerajaan safawiyah dan menobatkan diri sebagai raja pertamanya.(1501-1524 M)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Dilihat dari asal usulnya, Safawi dipimpin oleh dua kekuatan. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt; kepemimpinan agama (tarekat) sebagai perintisnya. &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; kepemimpinan kerajaan dan bercorak formal, yaitu sejak kepemimpinan Ismail bin Haidar &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;hingga Abbas III (1732-1736 M ). Ismail berhasil mengawali perluasan wilayah kekuasaannya yang meliputi Persia dan wilayah subur “Bulan Sabit” bahkan sampai daerah Turki Usmani.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Setelah Ismail meninggal tampuk kekuasaan digantikan oleh beberapa sultan yang berjumlah sembilan orang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tahmasp I, Ismail II, Muhammad Khudabanda, Abbas I, Safi Mirza, Abbas II, Sulaiman, Husaen, Tahmasp II. Jadi seluruh sultan berjumlah 11 orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Masa kekuasaan sultan kelima yaitu Abbas I (1588-1628 M) , tercatat sebagai puncak kejayaan Kerajaan Syafawi. Secara politik ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas Negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn11" name="_ftnref11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;2. Doktrin Keimaman dan Pengaruhnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Awal munculnya kerajaan Safawi merupakan kegiatan tarekat yang pada akhirnya karena semakin berkembang pesat, merasa perlu memasuki dunia politik demi menjaga dan melebarkan eksistensi tarekat tersebut hingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan yang besar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Dari kenyataan tersebut dapat dipahami jika munculnya Syafawi pada dasarnya karena keyakinan keberagamaan yang terorganisir hingga mampu berkembang menjadi sebuah ideologi suatu kerajaan. Latar belakang tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap pola pemerintahan raja-raja yang memimpinnya. Diantara pengaruh yang tampak adalah pada masa Imam Junaed yang mengerahkan para pengikut tarekat untuk menentang Negara tetangga yang beragama Kristen, selain itu Junaed juga menggunakan alasan jihad untuk melawan orang Georgia di Kaukasus yang masuk wilayah Syirwanid. Dengan kata lain penguasa Syrwanid menganggap gerakan Junaid sebagai gerakan pencaplokan terhadap wilayahnya. Maka terjadi pertempuran antara kedua belah pihak dan Junaid terbunuh dalam pertempuran tersebut pada 865 H/1461 M.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn12" name="_ftnref12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt; &lt;span lang="FI"&gt;Dengan doktri keagamaan Junaid mampu mengerahkan pengikutnya untuk mengikuti keinginannya sebagai pemimpin. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Selain pengerahan pasukan dalam berperang, Junaid juga berhasil menanamkan kefanatikan terhadap tarekat kepada para pengikutnya. Keberhasilan tersebut dapat dilihat ketika Junaid telah meninggal para pengikutnya yang sangat ekstrim menganggap Junaid sebagai “Tuhan”. Bahkan, menurut salah satu versi, semasa kepemimpinan karismatiknya ia telah dianggap sebagai penjelmaan “Tuhan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Setelah Junaid meninggal, anaknya pun mewarisi strateginya dalam memimpin. Haidar putra Junaid memanfaatkan pola kepemimpinan karismatik ayahnya, yang telah dianggap sebagai sebagai “Tuhan” oleh para pengikutnya yang fanatic dan ekstrem. Atas dasar inilah kemudian Haidar dianggap sebagai “anak Tuhan”. Untuk meneruskan ambisi politik ayahnya, Haidar membentuk semcam kesatuan tentara agama yang dikenal dengan &lt;i&gt;Qizilbasy&lt;/i&gt; (si kepala merah,karena memakai topi warna merah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Setelah Haidar wafat, tampuk kepemimpinan diganti oleh anaknya Ismail I, sejak mengukuhkan dirinya sebagai sebagai raja, ia juga memproklamasikan Syiah Isna Asyariyah (dua belas)sebagai agama Negara. Karena Persia sebelumnya berada di bawah kekuasaan Suni, Ismail harus mendatangkan ulama Syiah dari wilayah yang kuat mempertahankan tradisi Syiah, seperti Irak, Bahrein, Dan terutama Jabal Amil, Libanon. Selain usaha tersebut Ismail juga terus melancarkan penaklukkan ke seluruh Iran dan ke sebelah timur sampai ke Heart maupun Diyarbakr (Turki), serta Bagdad, Irak. Usaha ini didukung sepenuhnya oleh pasukan Qizilbasy yang sangat fanatik dan ekstrem mendukung Ismail. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Mewarisi tradisi ayah dan kakeknya Ismail juga mengklaim dirinya sebagai titisan Tuhan dan wakil imam mahdi melalui keturunan Imam Ketujuh (Musa al-Kazim) dari dua belas imam Syiah Isna Asyariyah. Dengan cara ini, ia dapat menuntut kepatuhan mutlak dari para pendukung dan rakyatnya. Hal itu dilakukan tiada lain untuk memperkukuh kekuasaan barunya, syah Ismail memerlukan dukungan keagamaan dan politik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Posisi kekuasaanya diletakkan di atas tiga dasar: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a)&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Konsep kekuasaan Persia Kuno bahwa raja adalah “Bayangan Tuhan di Bumi”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 66.75pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -30.75pt;"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b)&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Tuntutan kepatuhan dari pengikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 54.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c)&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Pengakuannya bahwa ia adalah keturunan Imam ketujuh dan wakil imam Mahdi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Dalam hal ideologi Syiah, Syah Abbas I melanjutkan kebijakan Syah Ismail I, guna lebih memperlancar sosialisasi dan memapankan ajaran Syiah beliau mendirikan lembaga pendidikan Syiah (sekolah teologi). Ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam proses pengembangan lembaga dan system pendidikan Syiah pada permulaan abad ke-17di &lt;country-region w:st="on"&gt;Iran&lt;/country-region&gt; terutama di ibukota &lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Isfahan&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn13" name="_ftnref13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 72pt; mso-list: l3 level1 lfo4; tab-stops: list 45.0pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Kemajuan di Bidang Filsafat dan Seni&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Selama perjalananya menguasai Persia, kerajaan Syafawi telah mencapai kemajuan dalam peradabanya, di bidang tasawuf misalnya, kemajuan utama sepanjang sejarah kerajaan tersebut dimulai pada masa Syah Abbas I. kemajuan di bidang tasawuf (Tasawuf Filsafat)ditandai dengan berkembangnya filsafat ketuhanan (al-Hikmah al-Ilahiyyah), yang kemudian terkenal dengan sebutan filsafat “pencerahan” (Isyraqi) atau aliran Isfahan. Alairan ini didirikan oleh Muhammad Baqir Astarabadi, yang dikenal dengan Mir Damad (w. 1631 M) adapun tokoh besarnya adalah Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi, dikenal dengan Mulla Sandra (w. 1640 M). nama lain pendukung aliran Isfahan ini termasuk Abu al-Qasim Astarabadi, yang dikenal dengan Mir Findiriski (w. 1640 M), dan Mulla Rajab Ali Tabrizi (w. 1669 M).&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn14" name="_ftnref14" style="mso-footnote-id: ftn14;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Dibanding dengan Turki Usmani, Safawi lebih unggul dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya filsafat. Para Filosuf dari ilmuwan yang terkenal di masa itu adalah Baha’uddin Al-Syairazi, ahli berbagai macam ilmu; Sadr al-Din al-Syairazi, seorang filosuf yang menulis Al-Hikmah al-Muta’aliyah; Muhammad Baqir Astarabaqi (pendiri aliran Isfahan) ahli berbagai pengetahuan termasuk peneliti kehidupan lebah-lebah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Selain pendidikan (khususnya filsafat ) yang berkembang pada saat itu (kepemimpinan Syah Abbas I) unsur seni sangat ditonjolkan pada arsitektur bangunan-bangunannya, misalnya adalah dua masjid yang sangat indah; &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yaitu masjid Syah dibangun pada 1611 M. dan masjid Syekh Luth Allah dibangun pada 1603 M. unsure seni juga ditampakkan pada kerajinan 6tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian, tenunan, mode, tembikar, dan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Bizad seorang pelukis kenamaan, pernah didatangkan ke Tabriz pada maa sultan Tahmasp pada 1522 M. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn15" name="_ftnref15" style="mso-footnote-id: ftn15;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;. Selain itu ada juga Riza-I Abbari (w.1635 M) , yang menghasilkan miniatur-miniatur impian dan berkilauan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Isfahan berubah menjadi kota taman, istana dan lapangan terbuka yang luas dengan banyak masjid dan madrasah.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn16" name="_ftnref16" style="mso-footnote-id: ftn16;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Dari uraian yang telah dijelaskan dapat dipertegas bahwa Persia merupakan daerah yang telah berkebudayaan tinggi sebelum Islam datang, sehingga ketika Islam telah masuk ke daerah tersebut bisa dengan mudah memoles kebudayaan yang ada dengan nilai-nilai keislaman. Dari kebudayaan tinggi tersebut, Persia telah mempengaruhi kebudayaan dan peradaban umat manusia di muka bumi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt; tab-stops: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebagai kerajaan yag berkesempatan berkuasa di Persia Syafawi termasuk salah satu dari tiga&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kerajaan besar pada masa itu. Kebudayaan Persia kuno sedikit banyak juga mempengaruhi pola pemerintahan Syafawi hal tersebut tampak pada masa kepemimpinan Ismail yang mengklaim dirinya sebagai titisan “Tuhan” hingga menuntut ketaatan mutlak kepada pengikutnya. Dan sejak tahun pertama kekuasaanya, Ismail telah membentuk suatu jabatan yang disebut &lt;i&gt;vakil-i nafs-i nafis-humayun&lt;/i&gt; yaitu jabatan wakil Syah, baik sebagai pemimpin politik (&lt;i&gt;padishah&lt;/i&gt;), maupun sebagai pemimpin spiritual.&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sejak diresmikannya kerajaan Syafawi oleh Ismail I dan berakhirnya pada masa Abbas III maka kekuasaan kerajaan Syafawi diperkirakan sekitar dua abad (1501-1722 M) dengan 12 sultan yang memimpinnya dapat dibagi menjadi tiga fase perkembangan struktur :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; mso-list: l1 level1 lfo3; tab-stops: list 18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Periode peralihan, ketika terjadi banyak perubahan dan penyesuaian struktur administrasi pemerintahan (1501 M-1588 M)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 36pt; mso-list: l1 level1 lfo3; tab-stops: 18.0pt list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; mso-ansi-language: SV;"&gt;Syah Abbas I melakukan penataan kembali system administrasi Safawi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(1588 M – 1629 M )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 51.75pt; mso-list: l1 level1 lfo3; tab-stops: 18.0pt list 36.0pt; text-align: justify; text-indent: -33.75pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="color: #333333; mso-ansi-language: FI;"&gt;Fase kemunduran yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan Syafawi (1629M- 1722 M )&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Kemunduran Kerajaan Syafawiyah pada awalnya ditandai oleh ketidakcakapan para penguasanya untuk mengendalikan system pemerintahan. Selain itu, sejumlah raja pasca Syah Abbas I hamper tidak memiliki perhatian terhadap persoalan social kemasyarakatan dan kenegaraan. Hingga akhirnya pada tahun 1722 M kerajaan Syafawi yang telah berkuasa selama 222 tahun (1501-1722), jatuh ke tangan pasukan Afgan dengan kekuatan militer 20.000 prajurit.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftn17" name="_ftnref17" style="mso-footnote-id: ftn17;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Amstrong, Karen, 2003. &lt;i&gt;Islam a Short History; Sepintas Sejarah Islam&lt;/i&gt;, Terj,.Ira Puspito Rini. Yogyakarta: Ikon Teralitera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ensiklopedi Tematis Dunia Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;/ Editor Taufik Abdullah …[et al]. 2002. Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ensiklopedi Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt; / editor bahasa, Nina MArmando…[et al]. 2005. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Nurhakim, Moh, 2004. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sejarah dan Peradaban Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;. Malang: UMM Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sunanto, Musyrifah, 2003. &lt;i&gt;Sejarah Islam Klasik&lt;/i&gt;, Jakarta: Prenada Media.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Yatim, Badri, 1998, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam,&lt;/i&gt; Jakarta: Raja Grafindo Persada. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Karen Amstrong, Islam: &lt;i&gt;a short history, sepintas sejarah Islam, terj&lt;/i&gt;. Ira Puspito Rini (&lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Jogjakarta&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;: Ikon Teralitera, 2003), hal. Xi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref2" name="_ftn2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Moh. Nurhakim, &lt;i&gt;Sejarah dan Peradaban Islam&lt;/i&gt; (&lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Malang&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;: UMM Press, 2004), hal. 5-6&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref3" name="_ftn3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Istilah “&lt;country-region w:st="on"&gt;Persia&lt;/country-region&gt;” muncul ketika bangsa Arya (ras Indo-Eropa) menetap setelah menyerbu &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Iran&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt; sekitar 2000 SM. Mereka berasal dari oase di timur dan utara laut Kaspia. Pada 549 SM Cyrus Agung mendirikan Kekaisaran &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Persia&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;. Pada 641 M, &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Persia&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt; jatuh ke tangan Islam. Setelah itu muncul dinasti kecil seperti Samaniyah, Ghaznawiyah, dan Saljuk .Lihat &lt;i&gt;Ensiklopedi Islam&lt;/i&gt; / editor bahasa, Nina M Armando [et al…]. &lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005. hal. 294 &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref4" name="_ftn4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, hal. 294-295&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref5" name="_ftn5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref6" name="_ftn6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ensiklopedi Tematis Dunia Islam&lt;/i&gt; / Editor Taufiq Abdullah..[et al.]. (&lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002) hal, 263.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn7" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref7" name="_ftn7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Musyrifah Sunanto, &lt;i&gt;Sejarah Islam Klasik&lt;/i&gt; (&lt;city w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;; Prenada Media, 2003) hal, 243&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn8" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref8" name="_ftn8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Badri Yatim, &lt;i&gt;Sejarah Peradaban Islam&lt;/i&gt; (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998) hal, 138&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn9" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref9" name="_ftn9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black; font-size: 10pt;"&gt;Syeh Safiuddin selain sebagai guru tarekat (mursyid), juga pedagang dan politisi, namun beliau tidak terlalu tertarik kepada dunia perpolitikan, dan lebih tertarik untuk mengislamkan orang Mongol, penganut agama Budha. Ia sendiri adalah seorang Sunni. Popularitasnya tidak terbatas hanya di wilayah Ardabil barat laut &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Iran&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;. Jaringan para murid dan wakilnya (khalifah) terbentang dari&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 10pt;"&gt;wilayah Oxus sampai teluk &lt;country-region w:st="on"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;Persia&lt;/place&gt;&lt;/country-region&gt;, dan wilayah kaukasus sampai Mesir. Lihat &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Ensiklopedi Tematis Dunia Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; / Editor Taufiq Abdullah..&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn10" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref10" name="_ftn10" style="mso-footnote-id: ftn10;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Moh. Nurhakim, O&lt;i&gt;p Cit&lt;/i&gt;,. hal. 141&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn11" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref11" name="_ftn11" style="mso-footnote-id: ftn11;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Badri Yatim, &lt;i&gt;Op Cit&lt;/i&gt;,. Hal. 143&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn12" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref12" name="_ftn12" style="mso-footnote-id: ftn12;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Op Cit. &lt;/i&gt;hal.&lt;i&gt; 264&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn13" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref13" name="_ftn13" style="mso-footnote-id: ftn13;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;,. hal. 268&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn14" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref14" name="_ftn14" style="mso-footnote-id: ftn14;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;,. hal. 269&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn15" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref15" name="_ftn15" style="mso-footnote-id: ftn15;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Moh. Nurhakim, O&lt;i&gt;p Cit&lt;/i&gt;,. hal 144&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn16" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref16" name="_ftn16" style="mso-footnote-id: ftn16;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt; Karen Amstrong, &lt;i&gt;Op Cit,.&lt;/i&gt; hal. 141.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn17" style="mso-element: footnote;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6343449624309957090#_ftnref17" name="_ftn17" style="mso-footnote-id: ftn17;" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt; Baca Ensiklopedi Tematis Dunia Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-7264395262521027009?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/7264395262521027009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/02/menengok-kejayaan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7264395262521027009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7264395262521027009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/02/menengok-kejayaan-islam.html' title='Menengok Kejayaan ISLAM'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-5819735833097047066</id><published>2011-02-09T04:30:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T04:30:58.928-08:00</updated><title type='text'>Belajar Dari Sang Penyair SEJATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Sang Penyair Pencetus Pakistan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Islam patut bangga memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia di dunia. Seperti Ibnu Sina bapak kedokteran, Al-Ghozali seorang filsuf terkemuka sekaligus bapak pendidikan, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, bapak penemu angka ‘nol’, Jabir Ibn Hayyan Al-Kufi, perintis kimia moderen, Ibnu Majid, navigator penemu kompas moderen dan masih banyak lagi tokoh yang sangat berpengaruh di muka bumi. Lebih-lebih Muhammad Rasulullah SAW, seorang pemimpin bijaksana, pedagang handal, panglima pemberani, manusia berakhlaqul karimah sebagai teladan yang paling sempurna bagi umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara tokoh-tokoh terkemuka tersebut, ada seorang penyair yang filosof sekaligus politisi ulung dan diakui sebagai salah seorang reformis (mujaddid) Islam abad 20. gagasan-gagasannya yang cemerlang tak pelak lagi membawa angin pencerahan bagi umat Islam yang sedang mengalami penjajahan di berbagai pelosok dunia, bahkan memberikan kontribusi yang tidak kecil artinya bagi kelahiran sebiah Negara yang kita kenal dengan Pakistan. Tokoh terkemuka adalah Muhammad Iqbal sang penyair dari Timur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengenal lebih dekat tentang Muhammad Iqbal, telah ditulis dalam makalah ini mengenai sejarah hidupnya, kondisi sosial yang mempengaruhi karnyanya, metode pemikiran tentang Islam, pengaruhnya bagi perkembangan pemikiran Islam dan beberapa hal lainnya mengenai Muhammad Iqbal. Penulis berharap, makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan tentang salah satu tokoh Islam yang telah berjuang demi kesejahteraan umat manusia. Semoga mampu menjadi secerah sinar inspirasi dan motivasi bagi generasi Islam dalam mensyiarkan cahaya Ilahi di masa selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Tentang Iqbal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Muhammad Iqbal dilahirkan pada 22 Februari 1867 bertepatan bulan Dzulhijjah 1289 H di Sialkot, kota tua di perbatasan antara Punjab Barat dengan Kashmir India. Berasal dari keluarga menengah keturunan Brahmana Kashmir yang telah memeluk Islam kira-kira setengah abad sebelum Iqbal lahir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakek Iqbal, Muhammad Rafiq, bermigrasi dari kediaman nenek moyangnya di Khasmir untuk bermukim di Sialkot. Ayahnya, Syeih Noor Muhammad, adalah seorang sufi dan sangat mementingkan nilai-nilai kerohanian. sedang ibunya, Imam Bibi, juga dikenal sebagai muslimah yang salehah. Di bawah pimpinan spiritual ayahnya, dan pengawasan gurunya yang terkenal, Maulana Mir Hasan, perkembangan pertama kerohanian dan pikiran Iqbal telah berlangung. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak lahir Iqbal telah menunjukkan sebagai anak yang luar biasa, menjadi mahasiswa cerdas dan mulai menulis sajak sejak sekolah. Ketika itu Iqbal mengirimkan karyanya kepada seorang yang terkenal menguasai sastra Urdu yang bernama Dagh (1831-1905) untuk dikoreksi. Dagh bersedia melakukan hal tersenbut, namun beberapa bulan berlalu Dagh memberitahukan Iqbal bahwa sajak-sajaknya tak memerlukan perbaikan lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B. Perkenalan dengan Filsafat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada 1895, Iqbal telah menyelesaikan pendidikannya di Murray College Sialkot. Kemudian pindah ke Lahore untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Lahore, merupakan salah satu kota pusat pengetahuan, seni dan kebudayaan India. Di kota ini juga dibentuk berbagai perhimpunan sastra yang sering mengadakan symposium sastra, dan Iqbal embacakan sajak-sajaknya. Dalam waktu yang singkat Iqbal membangun reputasinya dan menjadi bintang di dunia sastra hingga beberapa sajaknya diterima oleh berbagai jurnal dan mendapatkan resensi. Nampaknya dari kota inilah Iqbal mulai dikenal sebagai penyair yang berbakat dan professional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada 1897 Iqbal menyelesaikan program BA dan dilanjutkan ke program MA dalam bidang filsafat. Selama menyelesaikan pendidikannya di Lahore, Iqbal bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pengajar Filsafat di sekolahnya yang kemudian mengenalkannya pada kesusastraan dan pemikiran Barat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sir Thomas mendorong Iqbal untuk melanjutkan studinya ke Inggris, maka pada 1905, berangkatlah Iqbal ke Cambridge University untuk mendalami filsafat. Di sana ia dibimbing oleh RA Nicholson, seorang spesialis sufisme dan John ME Taggart, seorang neo-Hegelian. Pada masa inilah, hari-hari yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan pemikirannya, Iqbal seringkali mengunjungi perpustakaan Cambridge, London dan Berli. Ia mengadakan diskusi-diskusi dengan para pemikir dan sarjana Eropa. Ia belajar filsafat di bawah bimbingan John ME Taggart. Dua tahun kemudian Iqbal pindah ke Munich, Jerman dan di sanalah Iqbal menyabet gelar PhD dalam studi Tasawuf dengan mengajukan disertasi berjudul ‘The Development of Methaphysics in Persia’ (Perkembangan Metafisika di Persia).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mendapat gelar tersebut, Iqbal ke London dan muali belajar keadvokatan sambil mengajar bahasa dan sastra Arab di Universitas London. Tahun 1908, ia kembali ke Lahore dan mengajar di Government College pada mata kuliah filsafat dan sastra Inggris sambil menggeluti profesi pengacara. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menetap 3 tahun di Eropa memberi kesempatan kepada Iqbal untuk mempelajari serta mengamati pengetahuan dan peradaban Barat secara dekat. Dari hasil pengamatan ini, Iqbal menyimpulkan jika peradaban Barat yang kala itu menjadi peradaban yang dikagumi masyarakat dunia, kususnya orang Timur, merupakan peradaban yang terbelenggu dalam ketelanjangan. Hingga akhirnya dari yang mulanya mengagumi peradaban Barat, menjadi pengritik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa tinggalnya di Eropa dan kunjungannya ke Spanyol dan SIsilia, memberi kesadaran bagi Iqbal tentang kejayaan Islam pada masa lampau dan menggugah kesadarannya terhadap kesuraman dan kegelapan yang dialami dunia muslim. Kesadaran itu juga telah menyalakan hasrat di dadanya untuk memberi semangat baru kepada kaum Muslim. Setelah sekembalinya dari Eropa, ia mengungkapkan hasratnya yang menyala ini dalam puisi yang kini sangat terkenal, yang ditujukan kepada Sir Abdul Kadir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;C.Perkenalan dengan Politik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terjunya Iqbal di dunia Politik, dimulai ketika ia mulai ambil bagian dalam kehidupan politik di negerinya. Ia terpilih menjadi anggota Majelis Legislatif Punjab di tahun 1927 dan pada tahun 1930 dipilih sebagai presiden tahunan dari liga Muslimin. Selama periode inilah ia menguraikan rencananya untuk pemecahan masalah-masalah Anak Benua India. Ia menjadi pendukung gagasan tentang sebuah Negara Islam di wilayah Timur Laut India, dan sejak saat itu pendukung-pendukung Pakistan menganggapnya sebagai pemimpin mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun mengecap pendidikan di Barat, negeri asal kapitalisme dan imperialisme saat itu, Iqbal tidak mengambil mentah-mentah faham dari Barat. Kapitalisme dan imperialisme Barat tidak disetujuinya karena telah banyak dipengaruhi materialisme dan lari dari agama. Iqbal justru bersikap simpatik pada sosialisme, karena melihat ada segi-segi persamaan antara faham tersebut dengan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan di bidang politik, setelah menjadi presiden Liga Muslim, Iqbal menjadi semakin aktif dan bersemangat memperjuangkan nasib bangsanya untuk merdeka dari imperialis Inggris. Awalnya Iqbal adalah pendukung kemerdekaan India dan menyokong bersatunya umat Hindu dan umat Islam dalam satu Negara, tetapi kemudian ia mengubah pandanganya. Konsep nasionalisme India yang mencakup umat Hindu dan umat Islam sebenarnya bagus, menurut dia, namun lebih jauh dalam pandanganya hal itu hanya utopia belaka karena keduannya bagaikan minyak dan air yang sulit untuk disatukan, Iqbal mencurigai adanya konsep Hinduisme di belakang nasionalisme India tersebut. India memiliki dua komunitas agama besar yang masing-masing kuantitasnya cukup signifikan, maka jika mengacu pelaksanaan demokrasi, realitas tersebut haruslah diperhatikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuntutat umat Islam untuk memperoleh kemerdekaan dan Negara terpisah dari India menurutnya wajar dan perlu. Konsep pembentukan Negara Islam ini pun dituangkan dalam rapat tahunan Liga Muslim pada tahun 1930, Iqbal menyatakan “saya ingin melihat Punjab, daerah perbatasan utara Sindhi dan Bulukhistan menjadi satu Negara” dari sanalah garis perjuangan umat Islam India ditancapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembentukan Negara Pakistan ini, pembaharu-pembaharu Muslim di India sebelumnya, memegang peranan yang cukup penting dalam mewujudkan terbentuknya sebuah Negara yang diidam-idamkan oleh komunitas Muslim India tersebut. Sebutlah nama Sayyid Ahmad Khan dengan ide agar umat Islam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, kemudian ada Sayyid Amir Ali dengan ide agar umat Islam tidak menolak modernisme, Iqbal dengan konsep dinamikanya, semuanya dalam tataran ide dan langkah nyata untuk membantu upaya-upaya Muhammad Ali Jinnah, Bapak Pakistan, dalam mewujudkan sebuah Negara Pakistan yang kita kenal saat ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bidang pembaharuan Islam, Iqbal berpendapat bahwa kemunduran umat Islam, selama 500 tahun terakhirdisebabkan oleh kebekuan dalam pemikiran. Dengan alas an untuk mempersatukan umat, sebagian ulama membuat syariat menjadi alat untuk membuat umat menjadi junub, dengan cara menutup pintu ijtihad, seolah-olah qaul ulama terdahulu adalah sesuatu yang sacral dan tak boleh diperdebatkan. Padahal menurut Iqbal hukum tidak statis, tetapi dapat berkembang sesuai perkembangan zaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ijtihad tidak boleh tertutup, kebebasan menggunakan rasio dan berpikir harus dikembangkan. Secara prinsip, lanjutnya Islam mengajarkan dinamisme, al-Qur’an selalu menganjurkan pemakaian akal serta ayat atau tanda kekuasaan yang terdapat dalam alam raya. Orang yang tidak peduli dengan tanda-tanda itu akan ‘butek’ (buta tekhnologi) dan ketinggalan. Islam mengajarkan dinamisme untuk maju dan berkembang. Islam pun mengakui adanya gerak dan perubahan dalam hidup sosial manusia. Satu hal yang prinsipil adalah ijtihad. Iqbal dalam syair-syairnya mendorong umat Islam agar selalu bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak dan hukum hidup adalah berkreasi, maka Iqbal dengan semangat tinggi mengajak umat Islam agar bangkit dari ‘tidurnya’ dan berkreasi, menciptakan tatanan dunia baru. Bahkan, begitu tingginya Iqbal menghargai gerak sampai-sampai ia menyatakan bahwa seorang kafir yang aktif dan gesit lebih baik daripada seorang Muslim yang suka tidur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;D. Mengenal Pemikiran Iqbal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai pemikirannya, secara umum Iqbal merupakan penyair yang filosof dalam artian karya-karya puisi bukanlah puisi biasa tanpa terkandung maksud dan tujuan. Tetapi bakat Iqbal dalam menuangkan pemikirannya tidak hanya masalah politik atau seni tapi juga masalah lain. Diantaranya adalah pandangan Iqbal tentang Tuhan, seperti penjelasan berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Tuhan Bagi Iqbal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pemikiran filsafat, Iqbal mengumandangkan misi kekuatan dan kekuasaan Tuhan, selain itu beliau juga menyatakan bahwasanya pusat dan landasan organisasi kehidupan manusia adalah ego yang dimaknai sebagai seluruh cakupan pemikiran dan kesadaran tentang kehidupan. Pemikiran Iqbal tentang Tuhan dapat diperiodesasikan secara sederhana ke dalam tiga periode;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a.1901-1908 : Masa Kelahiran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iqbal menyakini Tuhan sebagai keindahan abadi, yang ada tanpa tergantung pada dan mendahului segala sesuatu, dan karena itu menampakkan diri dalam semuanya itu. (28)pada dasarnya pemikiran itu bersifat Platonis, bahwasanya Plato juga menganggap tuhan sebagai keindahan abadi, sebagai alam universal yang mendahului segala sesuatu dan terwujud pada kesemuannya itu sebagai bentuk. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b.1908-1920 : Masa Pertumbuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kunci untuk memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal ke arah perbedaan yang ia tarik antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu, di satu pihak, dan cinta kepada keindahan pada pihak lainnya. Sikap tersebut bermula dari kesangsian yang memunculkan semacam pesimisme, yang menyelinap ke dalam dirinya, tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya serta kausalitas-akhirnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan menyatakan dirinya bukan dalam dunia terindera melainkan dalam pribadi terbatas; dank arena itu usaha mendekatkan diri kepadaNya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan demikian, mencari Tuhan bersifat kondisional terhadap pencarian diri sendiri. Demikian pula, tuhan tidak bias diperoleh dengan meminta-minta dan memohon semata, karena hal seperti itu menunjukkan kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati Tuhan haruslah konsisten dengan ketinggian martabat pribadi.manusia harus mencari dengan kekuatan dan kemauannya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.1920-1938 : Masa Kedewasaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tahun ini Iqbal mengumpulkan unsur-unsur dari sintesisnya dan kini menghimpunya dalam suatu sistem yang menyeluruh. Tuhan adalah “hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual – dalam arti suatu individu dan suatu ego.Ia dianggap sebagai ego karena, seperti pribadi manusia, Dia adalah“. Suatu prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan konstruktif”. Tepatnya, Dia bukanlah ego melainkan Ego mutlak. Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi segalanya, dan tidak ada sesuatupun di luar Dia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai konsep Wahdah al-Wujud Iqbal memiliki perspektif bahwapengidentifikasian keinginan pribadi dengan kehendak Tuhan melalui cara penyempurnaan diri, bukan penafian diri. Kehendak manusia pada posisi demikian menjadi otonom, tetapi tetap dalam koridor bimbingan Ilahi. Iqbal tidak serta merta mengakui kedaulatan postulat milik Descartes, cogito ergo sum, karena eksistensi manusia tidak ada hanya dengan melakukan kegiatan berpikir untuk mengeksiskan diri. Intelektualisme yang hanya mendewakan rasionalitas tidak akan eksis tanpa ada aktivisme yang berdimensi praktis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.Keindahan dan Seni Bagi Iqbal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain pemikirannya tntang Tuhan, Pandangan membuat Negara Islam di Pakistan, Iqbal juga memiliki rumus tersendiri mengenai keindahan dan seni. Menurut Iqbal dengan mengikuti tradisi Neo-Platonis, Iqbal menganggap keindahan sebagai abadi, dan sebagai sebab yang efisien dan final dari segala macam cinta, setiap hasrat, dan semua gerak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam masa pertama dan kedua pemikiran Iqbal, ia menganggap keindahan menciptakan cinta. Namun pada masa berikutnya, yang berlangsung dari tahun 1920 hingga akhir hidupnya, proses penciptaan yang terjadi adalah sebaliknya. Sekarang, kehendak akan kekuasaan atau tenaga – ego menjadi pencipta keindahan. Esensi dari hakikat bukan lagi keindahan, tetapi cinta atau kemauan sang ego. Tuhan, Ego Tertinggi. Dia adalah pencipta alam semesta. Manusia juga adalah ego merdeka, dan seperti Dia, pencipta segala sesuatu. Tuhan membuat alam, tetapi manusialah, sebagai wakil Tuhan, yang membuatnya indah. Dengan kemampuannya ini, manusia dapat menghadapi penciptannya dengan kebanggaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iqbal memandang kemauan adalah sumber utama dalam seni, sehingga seluruh isi seni, sensasi, perasaan, sentimen, ide-ide dan ideal-ideal harus muncul dari sumber ini. Karena itu, seni tidak sekedar gagasan intelektual atau bentuk-bentuk estetika melainkan pemikiran yang lahir berdasarkan dan penuh kandungan emosi sehingga mampu menggetarkan manusia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, Iqbal memberi kriteria tertentu pada karya seni ini. Pertama, seni harus merupakan karya kreatif sang seniman, sehingga karya seni merupakan buatan manusia dalam citra ciptaan Tuhan. Ini sesuai dengan pandangan Iqbal tentang hidup dan kehidupan. Menurutnya, hakekat hidup adalah kreativitas karena dengan sifat-sifat itulah Tuhan sebagai sang Maha Hidup mencipta dan menggerakan semesta. Selain itu, hidup manusia pada dasarnya tidaklah terpaksa melainkan sukarela, sehingga harus ada kreativitas untuk menjadikannya bermakna. Karena itu, dalam pandangan Iqbal, dunia bukan sesuatu yang hanya perlu dilihat atau dikenal lewat konsep-konsep tetapi sesuatu yang harus dibentuk dan dibentuk lagi lewat tindakan-tindakan nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pemikiran filsafat, gagasan seni Iqbal tersebut disebut sebagai estetika vitalisme, yakni bahwa seni dan keindahan merupakan ekspresi ego dalam kerangka prinsip-prinsip universal dari suatu dorongan hidup yang berdenyut di balik kehidupan sehingga harus juga memberikan kehidupan baru atau memberikan semangat hidup bagi lingkungannya, atau bahkan mampu memberikan “hal baru” bagi kehidupan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep-konsep seni dan keindahan Iqbal tersebut hampir sama dengan teori seni Benedetto Croce (1866-1952 M), seorang pemikir Italia yang sezaman dengan Iqbal. Menurutnya, seni adalah kegiatan kreatif yang tidak mempunyai tujuan dan juga tidak mengejar tujuan tertentu kecuali keindahan itu sendiri, sehingga tidak berlaku kriteria kegunaan, etika dan logika. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan seni hanya merupakan penumpahan perasaan-perasaan seniman, visi atau intuisinya, dalam bentuk citra tertentu, baik dalam bentuk maupun kandungan isinya. Jika hasil karya seni ini kemudian diapresiasi oleh penanggap, hal itu disebabkan karya seni tersebut membangkitkan intuisi yang sama pada dirinya sebagaimana yang dimiliki oleh sang seniman1. Dengan pernyataan seperti ini, teori Croce berarti terdiri atas empat hal, (1) bahwa seni adalah kegiatan yang sepenuhnya mandiri dan bebas dari segala macam pertimbangan etis, (2) bahwa kegiatan seni berbeda dengan kegiatan intelek. Seni lebih merupakan ekspresi diri atas pengalaman individu (intuitif) dan menghasilkan pengetahuan langsung dalam bentuk individualitas kongkrit, sedang intelek lebih merupakan kegiatan analitis dan menghasilkan pengetahuan reflektif. (3) bahwa kegiatan seni ditentukan oleh perkembangan kepribadian seniman, (4) bahwa apresiasi adalah penghidupan kembali pengalaman-pengalaman seniman di dalam diri penanggap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandangan seni Iqbal tidak berbeda dengan teori Croce tersebut, kecuali pada bagian pertama. Iqbal menolak keras kebebasan seni dan keterlepasaannya dari etika. Iqbal justru menempatkan seni dibawah kendali moral, sehingga tidak ada yang bisa disebut seni betatapun ekspresifnya kepribadian sang seniman kecuali jika mampu menimbulkan nilai-nilai yang cemerlang, menciptakan harapan-harapan baru, kerinduan dan aspirasi baru bagi peningkatan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Dengan demikian, gagasan seni Iqbal tidak hanya ekspresional tetapi sekaligus juga fungsional. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Karya Iqbal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang kembali dari Eropa, Iqbal menulis sajak-sajaknya yang membuka pintu baru bagi pemikiran dunia Islam Syikwa dan Jawab-i-Syikwa (keluhan dan jawaban terhadap keluhan) yang menjadi saksi tentang perubahan yang terjadi dalam dirinya. Ia merumuskan risalahnya yang pertama kali dalam Asrar-i-Khudi dan Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia Pribadi dan Misteri Peniadaan Diri) yang masing-masing diterbitkan dalam tahun 1915 dan 1918., yang ditulis dalam bahasa Persi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asrar-i-Khudi, yang memberi gambaran tentang tema pusat dari filsafat Iqbal, karya tersebut membuat seorang Profesor R.A. Nicholson sangat terkagum-kagum karena kekuatan yang dimiliki sajak tersebut, sehingga ia menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris dan diterbitkan tahun 1920.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumus-i-Bekhudi membicarakan subyek yang serupa. Sajak tersebut merupakan himbauan untuk peningkatan individual yang ditujukan pada kebangunan kembali semua orang dalam suatu masyarakat Islam yang sejati. Dalam Bang-i-Dara (Panggilan Lonceng), sebuah kumpulan sajak dalam bahasa Urdu, ditemukan keseimbangan yang penuh antara penyair dan filosof. Pada 1923 muncul Payam-i-Masyriq (Risalah dari Timur) yang ditulis sebagai pasangan “Divan”nya Goethe, dan merupakan sebuah kumpulan sajak dalam Bahasa Persi. Ia memperlihatkan kecakapan tingkat tinggi dan penguasaan yang sempurna dalam bahasa. Karya-karya Iqbal yang telah disebutkan merupakan sekelumit dari karyannya yang dapat ditulis dalam makalah ini. Dan masih banyak lagi karya Iqbal yang telah menjadi kekayaan berharga dalam khazanah keilmuan Islam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KESIMPULAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umat Islam India patut bersyukur karena memiliki tokoh hebat yang telah memberikan pencerahan dalam membangun semangat berjuang menuju kemerdekaan dari belenggu keterpurukan dan kemerosotan Islam multi dimensi. Muhammad Iqbal sang penyair, penulis prosa, filosof, ahli bahasa, ahli hukum, politisi, guru dan berbagai kecakapan lain yang dimiliki telah mewariskan semangat perjuangan menuju pembebasan dari belenggu penjajahan bangsa lain. Dialah yang memimpikan Pakista dan pada 1930 menguraikan skema suatu Negara Islam di anak benua itu dalam pidato pembukaan sidang Liga Muslim seluruh India di Allahabad.n (yang akhirnya dapat terbentuk Negara Pakistan pada 1947 setelah beliau meninggal dunia) itulah warisan terbesar yang telah dititipkan Iqbal kepada kaum Muslim. Pandanganya mengenai pendidikan telah diuraikan oleh K.G. Saiyidain dalam karyanya “Filsafat Pendidikan Iqbal” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemikiran Iqbal yang cemerlang tidaklah terlepas dari didikan kedua orang tuanya yang telah menanamkan kekritisan dan kedisiplinan sejak kecil, serta guru-gurunya yang telah membimbing dan mendorongnya untuk terus berkarya dan juga teman-teman diskusinya yang telah membuka wawasan berpikirnya. Iqbal telah menempatkan kita pada jalan yang benar kearah pencapaian kehidupan dan pemikiran yang paling tinggi. Ia telah mengantarkan kita melewati jalan panjang dengan tuntunanya. Kemudian ia meninggalkan kita dengan berkata: Jangan berhenti; teruslah berjalan. Engkau mencapai tingkat demi tingkatan. Jangan berhenti di antara salah satu tingkatan itu ambillah selalu yang paling akhir. Teruslah mendaki dan mendaki hingga ke ketinggian yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Tidak ada batas bagi prestasimu, asalkan engkau tetap gigih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Iqbal, Filosof penyair itu wafat pada tahun 1938 M, tetapi semangat dan pengaruhnya masih membekas di dada generasi-generasi penerusnya. Sebelum wafat, ia sempat bersyair di hadapan sahabat-sahabat setianya. “Ku katakan pada mu bahwa seorang Mukmin, jika maut datang senyumnya kan merekah di bibir”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Ahmad, Jamil, Seratus Muslim Terkemuka, Terj Tim Pustaka Firdaus (1987) Jakarta:Pustaka Firdaus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luce, Miss-Claude Maitre, Pengantar ke Pemikiran Iqbal, terj Djohan Effendi (1981) Jakarta: Pustaka Kencana&lt;br /&gt;Pemikiran Pembaharuan Muhammad Iqbal,diakses dari www.lfaliqi's Blog, com,diakses 9 Januari 2011&lt;br /&gt;RA Gunadi, penyuting, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angka Nol (2002) Jakarta : Republika&lt;br /&gt;Syarif, Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan, terj. Yusuf Jamil.(1993) Jakarta: Mizan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-5819735833097047066?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/5819735833097047066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/02/belajar-dari-sang-penyair-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5819735833097047066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5819735833097047066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/02/belajar-dari-sang-penyair-sejati.html' title='Belajar Dari Sang Penyair SEJATI'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-3920128142029228467</id><published>2011-02-09T04:17:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T04:17:18.183-08:00</updated><title type='text'>Asalnya UIN...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Periodesasi Pertumbuhan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia (PTAI)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: xx-small;"&gt;Oleh: Ika Romika Mawaddati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: xx-small;"&gt;NIM. 201010290211017&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Keinginan umat Islam untuk mendirikan perguruan tinggi telah terbersit sejak Belanda bercokol di tanah air. Namun keinginan tersebut masih dalam bentuk rancangan dan tahapan agitasi. Hingga akhirnya keinginan tersebut terwujud dengan banyaknya PTAI di Indonesia yang telah berkembang hingga saat ini. Bagi umat Islam kehadiran lembaga pendidikan tinggi sangat penting guna menjaga eksistensi Islam di Indonesia sebagai agama Rahmatan lil Alamin. Bagaimana perjalanan munculnya PTAI hingga berkembang sampai sekarang? Berikut penjelasan singkat PTAI di Indonesia. &lt;br /&gt;Perjalanan PTAI Indonesia dapat diperiodesasikan dalam tiga periode:&lt;br /&gt;1. Periode Perintisan (Pra Kemerdekaan ; 1930 – 1948 )&lt;br /&gt;2. Periode Pertumbuhan (Pasca Kemerdekaan ; 1948 – 1957 )&lt;br /&gt;3. Periode Perkembangan (Munculnya IAIN, STAIN dan UIN ; 1957 – sekarang )&lt;br /&gt;Berikut penjelasan singkat mengenai ketiga periode tersebut:&lt;br /&gt;1. Periode Perintisan (Pra Kemerdekaan ; 1930 – 1948 )&lt;br /&gt;Pada periode ini, PTAI masih dalam bentuk wacana dan keinginan yang membuncah di kalangan tokoh muslim, wacana yang masih berbentuk hasutan mulai berkembang sejak 1930-an. Wacana ini semakin matang ketika Muhammadiyah dalam muktamar 1936 di Jakarta memutuskan mendirkan universitas Islam. Hanya, keseriusan ini baru sampai tahap agitasi. Pada 1938 Satiman Wirjosudjoyo dalam Pedoman Masyarakat No. 15 tahun IV melontarkan gagasan akan pentingnya lembaga pendidikan tinggi Islam.&lt;br /&gt;Tepat tanggal 8 Juli 1945 bersamaan dengan peringatan Isra’Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1364 H. Dengan bantuan Jepang, didirikanlah Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta, di bawah pimpinan A. Kahar Muzakkir. STI adalah realisasi kerja dari Yayasan / Badan Pengurus Sekolah Tinggi Islam pimpinan Moh. Hatta dan M. Natsir. STI bertujuan untuk mengeluarkan alim ulama yang intelektual. &lt;br /&gt;STI ternyata tidak bertahan lama di Jakarta, karena pada Desember 1945, sekutu di bawah pimpinan Jenderal Cristianson, menutup STI sementara waktu. Baru pada 10 April 1946 dibuka kembali dan dipindahkan ke Yogyakarta seiring berpindahnya ibukota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Untuk perbaikan STI maka, pada November 1947 dibentuk panitia perbaikan STI untuk dikonversi menjadi universitas. Tepat pada 10 Maret 1948, STI berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) dengan empat fakultas; Agama, Hukum, Pendidikan dan Ekonomi. &lt;br /&gt;2. Periode Pertumbuhan (Pasca Kemerdekaan ; 1950 – 1957 )&lt;br /&gt;Disebut periode pertumbuhan, karena setelah UII hadir di Yogyakarta, muncullah sekolah tinggi Islam lainnya. Sekolah tinggi yang berikutnya adalah Pertungguan Tinggi Islam Indonesia (PTII) di Solo tanggal 22 Januari 1950 yang dipelopori Moh. Adnan, Imam Ghozali dan Tirtodiningrat. Namun, satu tahun kemudian, pada 20 Februari 1951 PTII di Solo bergabung dengan UII Yogyakarta.&lt;br /&gt;Dengan bergabungnya PTII dengan UII maka, di Yogyakarta ada dua universitas; UII dikelola kelompok Islam dan UGM oleh kelompok nasionalis. Sebagai bentuk penghargaan atas dua universitas tersebut, pemerintah menawarkan pe-negeri-an UII dan UGM. UGM menyambut baik tawaran itu dan menjadi negeri di bawah kementrian PP&amp;amp;K. Sedangkan, UII menerima dengan syarat harus di bawah kementrian agama. Akibatnya, hanya Fakultas Agama UII yang bisa dinegerikan. Hingga akhirnya Fakultas Agama menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) dengan PPN no.34 tahun 1950, dan resmi dibuka pada 26 September 1951.&lt;br /&gt;Setelah PTAIN berdiri di Jogyakarta 1951, enam tahun kemudian berdiri pula Akademi Dinas Agama Islam (ADIA) pada 14 Agustus 1957 berdasarkan penetapan Menteri Agama no.1 tahun 1957 di Jakarta.Dari dua perguruan tinggi Islam inilah Institut Agama Islam (IAIN) lahir dan menjadi titik tolak perkembangan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia pada tahun-tahun berikutnya.&lt;br /&gt;3. Periode Perkembangan (Munculnya IAIN, STAIN dan UIN ; 1957 – sekarang )&lt;br /&gt;IAIN yang muncul atas bergabungnya PTAIN dan ADIA tahun 1957 merupakan wujud dari cita-cita kaum Muslimin sejak Belanda menjajah Indonesia dan menjadi awal berkembangnya sekolah tinggi Islam lainnya. Kemunculan pertama diawali di Aceh, pada akhir September 1959 Gubernur Aceh Hasjmy dan Menteri PP&amp;amp;K Dr. Prijono dan Menteri Agama Kyai Wahib Wahab melakukan perundingan untuk mendirikan Fakultas Agama Islam Negeri di Kampus Darussalam. Dengan proses yang berliku akhirnya Fakultas Agama Islam Negeri di Aceh berubah menjadi IAIN Aceh dan baru diresmikan tahun 1962. &lt;br /&gt;Pada 9 Mei 1960 dikeluarkan peraturan Presiden no.11 tahun 1960 tentang pembentukan IAIN, hingga akhirnya IAIN yang terbentuk atas gabungan PTAIN di Jogyakarta dan ADIA di Jakarta baru diresmikan pada 24 Agustus 1960, di mana PTAIN Yogyakarta memiliki dua fakultas (Ushuluddin dan Syari’ah) sebagai induk. Sementara ADIA juga dua fakultas (Tarbiyah dan Adab) sebagi cabangnya. &lt;br /&gt;Dari IAIN Yogyakarta inilah akhirnya berkembang cepat fakultas-fakultas cabang di kota-kota besar nusantara. Begitu pesatnya perkembangan tersebut, hingga akhirnya pemerintah mengeluarkan regulasi pembentukan IAIN mandiri. Pada 1963, dikeluarkan peraturan presiden yang memungkinkan didirikannya suatu IAIN yang terpisah dari pusat. Maka ADIA yang semula menjadi cabang IAIN Yogyakarta terlepas dari induknya dan menjadi IAIN kedua setelah Yogyakarta.&lt;br /&gt;Bertepatan dengan lustrum pertamanya., menteri agama mengeluarkan keputusan no 26 tahun 1965 yang menyatakan bahwa terhitung sejak 1 Juli 1965, nama IAIN Yogyakarta dilengkapi dengan nama salah satu walisongo yaitu Sunan Kalijaga, dan IAIN Jakarta dengan Syarif Hidayatullah. Kini, terdapat 14 buah IAIN yang tersebar di berbagai pelosok tanah Air, termasuj IAIN terakhir di Sumatera Utara yang diresmikan Menteri Agama Mukti Ali tahun 1973.&lt;br /&gt;Setelah IAIN berkembang cukup pesat, maka tahun 1997, Keputusan Presiden no. 11 tahun 1997 tentang pendirian Sekolah Tinggi Islam Negeri (STAIN), yang melepaskan fakultas-fakultas cabang IAIN menjadi 33 perguruan tinggi mandiri dan terlepas dari 14 induk IAIN yang ada. Dengan berlakunya keputusan tersebut, maka semua fakultas di lingkungan IAIN yang berlokasi di luar IAIN induk diintegrasikan ke dalam lembaga pendidikan baru yaitu STAIN. Hingga akhirnya sampai saat telah terbentuk sekitar 33 STAIN di Indonesia.&lt;br /&gt;Seiring perkembangan zaman, maka kebutuhan akan manusia-manusia cerdas juga semakin bertambah. Berdsarkan hal tersebut, IAIN / STAIN sebagi lahan pembetukan manusia cerdas yang berakhlaqul karimah berusaha memenuhi kebutuhan tersebut dengan terus berusaha memperbaiki kualitas pendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan wacana konsep pengembangan IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Hingga akhirnya IAIN Jakarta telah merancang pengembanganya menjadi UIN yang telah dirancang sejak tahun 1990-an. Dan sekarang kita telah tahu bahwa IAIN Jakarta berubah menjadi UIN Syarif Hidayatullah kemudian IAIN Malang menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Reverensi:&lt;br /&gt;Khozin, (2006), Jejak-Jejak Pendidikan Islam di Indonesia (Edisi Revisi), Malang: UMM Press.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-3920128142029228467?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/3920128142029228467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/02/asalnya-uin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/3920128142029228467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/3920128142029228467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/02/asalnya-uin.html' title='Asalnya UIN...'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-75563428809278300</id><published>2011-01-27T04:03:00.000-08:00</published><updated>2011-01-27T04:03:44.411-08:00</updated><title type='text'>BACAAN CINTA</title><content type='html'>PONDOK PESANTREN: ASAL-USUL, SISTEM dan &lt;br /&gt;DINAMIKANYA DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;FATMAWATI EL-FAQIH&lt;br /&gt;(Mahasiswa Pasca Sarjana UMM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Pesantren mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita saat ini, karena banyak dari orang sekitar kita yang sudah banyak mengenalnya. Meskpin bukan satu-satunya, namun pesantren adalah bentuk pendidikan yang sudah mengakar sejak lama, yang sudah melembaga secara permanen di pedesaan. Pesantren dewasa ini juga mulai berkembang di lingkungan perkotaan, seperti fenomena kemunculan beberapa pesantren mahasiswa atau pelajar yang ada saat ini.&lt;br /&gt;Kecenderungan ini menunjukkan, bahwa meskipun system pendidikan pesantren memiliki beberapa kelemahan, namun pesantren ternyata masih dianggap sebagai tempat yang yang paling efekif untuk mengenalkan ajaran Islam.&lt;br /&gt;A. Asal-usul Pesantren&lt;br /&gt;Secara garis besar, ada dua pendapat mengenai asal-usul pesantren. Pendapat pertama, yang mengatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi pra Islam. Sementara pendapat kedua berpendapat, bahwa pesantren adalah model pendidikan yang berasal dari Islam.&lt;br /&gt;Pendapat A. H Johns dan C. C  Berg, yang menganalisis dari segi semantik kebahasaan, mungkin dianggap salah satu atau mewakili pendapat pertama. Istilah santri  berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, . . .Istilah tersebut berasal dari istilah Shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri  berasal dari shastra  yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan, bahwa secara semantik pesantren lebih dekat ke tradisi pra Islam atau lebih tepatnya India. &lt;br /&gt;F. Fokkens, menganggap desa perdikan  sebagai sarana kesinambungan pesantren dengan lembaga keagamaan pra-Islam. Perdikan,  adalah desa zaman pra-Islam hingga abad ke-19, yang dibebaskan membayar pajak dan kerja rodi. Pemberian bebas pajak dan kerja rodi ini karena keberadaan makam-makam penting. Pemeliharaan makam-makam keramat secara tradisional merupakan suatu tugas keagamaan. Keluarga tertentu, dan tidaklah mengherankan bila beberapa anggota keluarganya yang menjadi guru agama berpengaruh (terutama dalam mengajarkan Tasawuf dan Magi). Ketika itulah peranan mengajar orang-orang tersebut terlembaga dalam bentuk pesantren, yaitu ketika banyak orang yang berdatangan untuk belajar agama kepada keluarga perdikan, yang pada akhirnya terlembaga dan membentuk institusi pesantren. &lt;br /&gt;Geertz (dalam Manfred Ziemek, 1986: 101) mendeskripsikan suasana kehidupan di pesantren, sebagai “ satu kompleks asrama siswa dikelilingi tembok yang berpusat pada suatu masjid, biasanya pada sebuah lapangan berhutan di ujung desa. Ada seorang guru agama yang biasanya disebut kyai, dan sejumlah siswa pria muda, kebanyakan mereka bujangan yang mengaji al-Qur’an, melakukan latihan-latihan mistik dan tampak pada umumnya meneruskan tradisi India yang terdapat sebelumnya, dengan hanya sedikit perubahan dan aksen bahasa Arab yang tidak sangat seksama, sehingga suasananya jauh lebih mengingatkan kepada India atau Persia ketimbang Arab atau Afrika Utara. &lt;br /&gt;Mahmud Yunus cenderung kepada pendapat yang kedua. Ia menyatakan bahwa asal-usul pendidikan individual yang dipergunakan dalam pesantren serta pendidikan yang dimulai dengan pelajaran bahasa Arab, ternyata dapat ditemukan di Bagdad ketika pusat pemerintahan Islam. Tradisi menyerahkan tanah wakaf dalam Islam. Unsur-unsur lain dari sistem pesantren juga dapat ditemukan dalam kebudayaan Islam. Istilah pesantren memang bukan berasal dari bahasa Arab: yaitu funduk yaitu berarti pesanggrahan atau penginapan bagi orang yang bepergian. Agaknya terlalu simplistis kalau istilah yang bukan berasal dari Arab, lalu dikatakan bukan berasal dari Islam seperti pesantren ini. &lt;br /&gt;Suprayo menilai perjalanan panjang pendidikan pesantren di Indonesia dapat ditelusuri melalui bentuk-bentuk pendidikan yang diselenggarakan di langgar, masjid atau rumah-rumah penduduk dan guru  ngaji  yang bersangkutan. Perkembangan selanjutnya, lembaga-lembaga pendidikan yang pada mulanya tidak lebih sekedar berupa kumpulan anak-anak yang belajar pengetahuan agama pada tingkat dasar seperti membaca Al-Qur’an, shalat dan semacamnya ini, berubah bentuk dan isinya. Lembaga-lembaga tersebut telah menjelma menjadi madrasah diniyah, kemudian berkembang menjadi pondok pesantren dan seterusnya dalam bentuk yang lebih akhir berupa madrasah yang bertingkat-tingkat.  &lt;br /&gt;Perkembangan ini belum final, karena masih ada kecenderungan mencari bentuk-bentuk baru yang lebih ideal menurut ukuran zaman dan tempatnya. Sebab, madrasah sudah menjadi sekolah umum, dan banyak pula lembaga pendidikan Islam yang dalam bentuk sekolah umum dan perguruan tinggi umum dengan label keislaman. Proses berdirinya sebuah pesantren biasanya diprakarsai sekelompok santri, yang mengadakan perhitungan dan memperkirakan kemungkinan kehidupan bersama para ustadz atau kyainya. Tidak jarang pesantren juga berdiri di atas inisiatif kyai untuk mengamalkan ilmunya, sehingga perlu membangun sebuah lembaga pendidikan. Atas dasar itu berdirilah sebuah pondok, tempat yang tetap untuk kehidupan bersama bagi para santri dengan para ustadz dan kyainya.  &lt;br /&gt;B. Bentuk-bentuk Pesantren&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk pesantren yang tersebar luas di Indonesia menurut Manfred mengandung unsur-unsur tertentu sebagai karakteristiknya, seperti kyai sebagai pendiri, pelaksana dan guru, santri sebagai murid yang diajar naskah-naskah Arab tentang faham (aqidah) Islam. Kyai dan santri tingal bersama-sama untuk masa yang lama, di mana terjadi proses belajar-mengajar. Sedangkan unsur fisik pesantren, yaitu masjid, langgar atau surau yang dikelilingi bangunan tempat tinggal kyai dan asrama untuk tempat tinggal dan belajar santri. Pesantren biasanya berada di batas sekitar desa dan berpisah atau dibatasi dengan pagar.  &lt;br /&gt;Unsur-unsur dan suasana pendidikan pesantren yang dianggap sebagai elemen pokok sebuah pesantren yaitu kyai, pondok, masjid, santri dan pengajian kitab klasik. Lima elemen ini merupakan unsur yang membedakan antara kegiatan pendidikan di masjid atau di langgar, sehingga elemen yang terakhir ini agaknya sekaligus membedakan antara pondok dan bukan pondok. &lt;br /&gt;Seiring dengan lajunya perkembangan masyarakat, maka pendidikan pesantren baik tempat, bentuk hingga substansinya telah jauh mengalami perubahan. Pesantren tidak lagi sesederhana seperti yang digambarkan Geertz dan Dhofier, pesantren dewasa ini dapat diklasifikasikan menjadi pesantren salafi, khalaf, kilat dan terintegrasi. Pembagian semacam ini sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;a). Pesantren salafi yaitu pesantren yang tetap mempertahankan pelajarannya dengan kitab klasik, dan tanpa diberikan pengetahuan umum. Model pembelajarannya pun sebagaimana yang lazim diterapkan dalam pesantren salaf, yaitu dengan metode sorogan dan weton.&lt;br /&gt;b). Pesantren khalafi yaitu pengajaran yang menerapkan sistem pengajaran klasikal (madrasi), memberikan ilmu umum dan ilmu agama dan juga memberikan pengetahuan tentang ketrampilan.&lt;br /&gt;c). Pesantren kilat, yaitu pesantren yang berbetuk semacam training yang dalam waktu yang singkat dan biasanya dilaksanakan pada waktu libur sekolah.&lt;br /&gt;d). Pesantren terintegrasi yaitu pesantren yang lebih menekankan pada pendidikan vocasional atau kejujuran, sebagaimana yang terintegrasi. Santrinya kebanyakan berasal dari kalangan (anak) putus sekolah atau para pencari kerja. &lt;br /&gt;C. Sistem Pendidikan Pesantren&lt;br /&gt;Tiga hal yang akan diuraikan dalam sub ini, yang merupakan komponen yang sangat erat kaitannya dengan sistem pendidikan pesantren, yaitu tujuan, kurikulum (bahan ajar) dan metode pengajaran. Tujuan pendidikan pesantren adalah setiap maksud dan cita-cita yang ingin dicapai pesantren, terlepas apakah cita-cita tersebut tertulis atau hanya disampaikan secara lisan. Pendidikan dalam sebuah ditujukan untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin berakhlak dan keagamaan. Diharapkan bahwa para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri-sendiri, untuk menjadi pemimpin yang tidak resmi atau kadang-kadang pemimpin resmi dari masyarakat. &lt;br /&gt;Dewasa ini, pembinaan dan pengembangan pesantren di samping dilakukan secara intern, pemerintah juga turut ambil bagian dalam upaya pengembangan pesantren dengan memberikan bimbingan. Bimbingan dan pembinaan yang dilakukan pemerintah memiliki arah (tujuan) sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan dan membantu pondok pesantren, dalam rangka membina dan mendinamisir pondok pesantren di seluruh Indonesia, sehingga mampu mencetak manusia Muslim selaku kader-kader penyuluh pembangunan (agen of development) yang bertaqwa, cakap berbudi luhur dan terampil bekerja, untuk membangun diri dan pembangunan dan keselamatan bangsa.&lt;br /&gt;2. Menetapkan pondok pesantren dalam mata rantai keseluruhan sistem pendidikan nasional, baik pendidikan formal maupun non formal, dalam rangka membangun manusia seutuhnya dan masyarakat kecakapan sebagai tenaga pembangunan.&lt;br /&gt;3. membina warga Negara agar berkepribadian Muslim sesuai ajaran Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi-segi agama, masyarakat dan Negara.&lt;br /&gt;Sedangkan secara khusus, tujuan pembinaan dan pengembangan pesantren oleh pemerintah adalah:&lt;br /&gt;1. Mendidik siswa atau santri menjadi anggota masyarakat, seorang Muslim yang bertagwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, ketrampilan dan sehat lahir dan bathin.&lt;br /&gt;2. Mendidik siswa atau santri menjadi manusia Muslim dan kader-kader ulama serta mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh memiliki semangat wiraswasta serta mengamalkan syari’at Islam.&lt;br /&gt;3. Mendidik siswa atau santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;4. Mendidik siswa atau santri agar dapat menjadi tenaga penyuluh pembangunan makro, regional dan nasional.&lt;br /&gt;5. Mendidik siswa atau santri agar dapat menjadi tenaga yang cakap, terampil dalam berbagai sektor pembangunan spiritual. &lt;br /&gt;6. Mendidik siswa atau santri agar dapat memberi bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka usaha pembangunan masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;Meskipun lulusan pesantren pada akhirnya tidak seideal sebagaimana harapan-harapan di atas, namun pesantren telah membuktikan dirinya mampu membentuk dan mengembangkan kepribadian santri menjadi manusia-manusia yang mandiri, dan bertindak sebagai pelopor perubahan masyarakat. Pendek kata, berbagai nilai yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi standar kualitas para santrinya.&lt;br /&gt;Pesantren dengan pola bersama antara santri dengan kyai dan masjid sebagai pusat aktifitas, merupakan sistem pendidikan yang khas yang tidak ada pada lembaga pendidikan manapun. Keunikan lain yang ada pada sistem pendidikan pesantren adalah metode pengajarannya. Meskpiun metode sebenarnya adalah sesuatu yang setiap kali dapat berkembang dan berubah, sesuai dengan penemuan-penemuan baru yang dianggap lebih sesuai untuk mengajarkan disiplin ilmu berbeda-beda. Metode pengajaran di pesantren umumnya secara agak seragam, adalah metode sorogan  dan weton.  Dan metode ini biasanya diberikan di pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Dinamika Pesantren&lt;br /&gt;Dalam perspektif sejarah, lembaga pendidikan yang terutama berbasis di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, sejak sekitar abad ke- 18. seiring dengan perjalanan waktu, pesantren sedikit demi sedikit maju, tumbuh dan berkembang sejalan dengan proses pembangunan dan dinamika masyarakatnya. Ini menunjukkan bahwa ada upaya-upaya yang dilakukan pesantren untuk mendinamisir, dirinya sejalan dengan tuntutan dan perubahan masyarakat.&lt;br /&gt;Dinamika lembaga pendidikan Islam yang relative tua di Indonesia ini tampak dalam beberapa hal:&lt;br /&gt;1. Peningkatan secara kuantitas terhadap jumlah pesantren.&lt;br /&gt;2. Kemampuan pesantren untuk selalu hidup di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami perubahan. &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Dofier, Zamakhasyari. Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kiyai. PT: LP3ES. Jakarta. 1984&lt;br /&gt;Khozin. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia Rekonstruksi Sejarah untuk Aksi edisi Revisi. UMM Press. Malang. 2006&lt;br /&gt;Suprayogo, Imam. Menelusuri Jejak Pendidikan Agama di Pedesaan Tarbiyah II/ V. UMM Press. Malang. 1987&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-75563428809278300?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/75563428809278300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/bacaan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/75563428809278300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/75563428809278300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/bacaan-cinta.html' title='BACAAN CINTA'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-2327654217917188643</id><published>2011-01-20T04:52:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T04:52:24.981-08:00</updated><title type='text'>baca dapat ilmu loo....</title><content type='html'>STUDI HADIST&lt;br /&gt;Dosen Pengampu : Drs. Abdul Haris, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Penelitian Sanad&lt;br /&gt;(Melalui I’tibar dan Meneliti Pribadi Periwayat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;IKA ROMIKA MAWADDATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Hadist adalah segala sesuatu; baik perkataan, perbuatan maupun ketetapan  yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Hadist berfungsi sebagai  dasar hukum Islam setelah al-Qur’an. Karena fungsinya yang sangat krusial dalam pelaksanaan syariat Allah, maka setiap Muslim wajib mengamalkan hadist di setiap lini kehidupannya.&lt;br /&gt; Sebelum hadist Nabi dihimpun dalam kitab-kitab hadist secara resmi dan massal, hadist Nabi pada umumnya diajarkan dan diriwayatkan secara lisan dan hafalan. Hal ini sangat sesuai dengan keadaan masyarakat Arab yang terkenal sangat kuat dalam bidang hafalannya. Walaupun begitu tidaklah berarti bahwa pada saat itu kegiatan pencatatan hadist tidak ada. Kalangan ulama pada masa itu cukup banyak yang membuat catatan hadist, tetapi kegiatan pencatatan seain masih dimaksudkan untuk kepentingan pribadi para pencatatnya, juga belum bersifat missal.1 &lt;br /&gt; Menurut pendapat mayoritas ulama, sejarah penulisan hadist dan penghimpunan resmi dan missal, dalam arti sebagai kebijakan pemerintah, barulah terjadi atas perintah Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. Jadi, tenggang waktunya sekitar 90 tahun sesudah Nabi Wafat. Dalam masa yang cukup panjang ini, telah terjadi pemalsuan-pemalsuan hadist yang dilakukan oleh beberapa golongan dengan berbagai tujuan.&lt;br /&gt; Atas kenyataan ini, maka ulama hadist dalam usahanya menghimpun hadist Nabi, selain harus melakukan perlawatan untuk menghubungi para periwayat yang tersebar di berbagai daerah yang jauh, juga harus mengadakan penelitian dan penyeleksian terhadap semua hadist yang mereka himpunkan. Karena itu, proses penghimpunan hadist secara menyeluruh terpaksa mengalami waktu yang cukup panjang, yakni sekitar lebih dari satu abad.2 &lt;br /&gt; Terdapat dua unsur pokok dalam hadist, isi hadis dan urutan asal-usul hadist hingga dapat menunjukkan ketersambunganya kepada Rasulullah. Itu sebabnya dalam proses penelitiannya juga harus dilakukan kepada kedua unsur tersebut, penelitian terhadap matan dan sanad hadist. Hal tersebut dilakukan demi kehati-hatian dalam pengamalan hadist. Jangan sampai kita mengamalkan hadist yang ternyata hadist itu palsu. Untuk menfokuskan pembahasan, dalam makalah ini hanya membahas tentang kegiatan penelitian sanad melalui I’tibar dan meneliti pribadi periwayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;A.Pengertian Sanad&lt;br /&gt;Secara etimologi, sanad adalah “sandaran”, yang kita bersandar padanya. Maka surat hutang juga dinamai sanad. Dan berarti: “yang dapat dipegangi, dipercayai’. Kaki bukit atau gunung juga disebut sanad. Jama’nya Asnad dan Sanadat.&lt;br /&gt;Sedangkan secara Terminologi dalam ahli hadist, sanad adalah: “Jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadist’. Apabila seseorang perawi berkata: “Dikabarkan kepadaku oleh Malik yang menerimanya dari Nafi’, yang menerimanya dari Abdullah ibn Umar, bahwa Rasul bersabda;….&lt;br /&gt;Maka perkataan perawi itu dari “dikhabarkan kepadaku oleh Malik hingga sampai kepada bersabda Rasul SAW.” Dinamai Sanad.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B.Keutamaan Sanad&lt;br /&gt;Sanad hadist dinyatakan mempunyai kedudukan yang sangat penting, sebab utamanya dapat dilihat dari dua sisi. Yakni:&lt;br /&gt;1.dilihat dari sisi kedudukan hadist dalam kesumberan ajaran Islam.&lt;br /&gt;2.dilihat dari sisi sejarah hadist.&lt;br /&gt;Dilihat dari sisi yang disebutkan pertama, sanad hadist sangat penting karena hadist merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Dari sisi yang disebutkan kedua, sanad hadist sangat penting karena dalam sejarah: &lt;br /&gt;a.Pada zaman Nabi tidak seluruh hadist tertulis.&lt;br /&gt;b.Sesudah zaman Nabi telah berkembang pemalsuan-pemalsuan hadist.&lt;br /&gt;c.Penghimpunan (tadwin) hadist secara resmi dan massal terjadi setelah berkembangnya pemalsuan-pemalsuan hadist.4 &lt;br /&gt;Dikenali unsur yang harus ada pada Hadist, berupa rawi sanad dan matan. Rawi dan sanad dengan matannya merupakan kesatuan yang mutlak harus ada; ini beda dengan al-Qur’an. Teks al-Qur’an diyakini nuzul-nya karena sudah tuntas tertulis pada masa Nabi SAW. Sedang hadist proses tadwinnya panjang, sejak masa Nabi SAW dan baru selesai pada tahun 300-an Hijriyah.&lt;br /&gt;Maka unsur atau faktor pemberita (perawi) dan proses periwayatanya (sanad) nyatanya satu, rawi dalam konotasi subyek riwayah, kalau diurut, mulai dari sahabat, tabi’in sampai dengan mudawin. Sanad konotasi penyandaran pemberitaan hadist (referensi), mulai dari mudawin, gurunya, begitu selanjutnya sampai rawi yang pertama kali menerima hadist, yang biasa disebut asal sanad.5 &lt;br /&gt;Sesungguhnya keutamaan sanad mengikuti hasil yang diperoleh darinya, dan hasil-hasil itulah yang sangat mulia dan sangat tinggi, yaitu hadist. Dengan sanadlah mana yang diterima, mana yang ditolak, mana yang sah diamalkan, mana yang tidak. Dialah jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam.&lt;br /&gt;Abdullah Ibnul Mubarak berkata” Menerangkan sanad hadist, termasuk tugas agama. Andaikata tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara kami dengan mereka, ialah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tanpa memerlukan sanad, adalah setamsil orang yang menaiki loteng tanpa tangga.” Al-Hakim: “Andaikata tidak cukup sempurna adanya segolongan dari ahli-ahli hadist, memelihara sanad, pastilah lenyap tanda-tanda (lentera) Islam.”6. Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan ulama lain yang menyatakan keutamaan sanad yang tidak mungkin pemakalah tulis dalam makalah ini. Penjagaan sanad merupakan hal istimewa yang dimiliki oleh kaum muslimin yang tidak dimiliki kaum lainnya. Usaha tersebut merupakan upaya penjagaan dan penghargaan sejarah, sehingga tidak mudah untuk dirancang demi kepentingan pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Penelitian Sanad&lt;br /&gt;Untuk mengetahui sebuah hadist itu asli atau aspal (asli tapi palsu) atau benar-benar palsu, maka paling tidak, ada tiga unsur dari hadist itu yang mesti diteliti hati-hati.&lt;br /&gt;Matan atau materi hadist, ini tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an, dengan hadist lain yang lebih kuat, atau dengan realita, fakta sejarah, dan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam.&lt;br /&gt;Sanad (sandaran yang dapat dipercaya, atau persambungan antara pembawa dan penerima hadist, atau antara rawi dengan Nabi), artinya, mereka itu secara real berjumpa atau saling berguru, dan hubungan mereka jelas, tidak meragukan.&lt;br /&gt;Rawi (yang membawakan atau yang meriwayatkan hadist) yang syaratnya harus adil (muslim, baligh, jujur, tidak pernah dusta dan tidak pernah membiasakan dosa) dan hafizh (kuat hapalannya dan dpat dipertanggungjawabkan pribadi atau jati dirinya).7 &lt;br /&gt;Seperti yang telah pemakalah jelaskan sebelumnya, jika diantara tiga unsur yang harus diteliti tersebut di atas, hanya penelitian sanad dan pribadi periwayat saja yang dibahas dalam makalah ini. Sedangkan penelitian matan akan dijelaskan di makalah selanjutnya.&lt;br /&gt;Kegiatan kritik atau penelitian sanad hadist bertjuan untuk mengetahui kualitas rangkaian sanad dalam hadist yang diteliti, apabila hadist yang diteliti memenuhi kriteriakesahihan sanad, hadist tersebut digolongkan sebagai hadist sahih.&lt;br /&gt;Penelitian atau kritik sanad hadist, pada masa Rasulullah dan masa Khulafaur Rasyidin belum ditemukan. Hal itu dapat dipahami karena para periwayat hadist pada dua masa tersebut disepakati muhaddistin sebagai masa berkumpulnya periwayat hadist yang adil.8  &lt;br /&gt;Sebelum mengadakan penelitian sanad hadist, tentunya kita harus mengetahui criteria umum kesahihan sanad hadist. Unsur-unsur kaedah mayor kesahihan sanad hadist ialah:&lt;br /&gt;1.Sanad bersambung.&lt;br /&gt;2.Seluruh periwayat dalam sanad bersifat adil.&lt;br /&gt;3.Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dhabith.&lt;br /&gt;4.Sanad hadist itu terhindar dari syudzudz.&lt;br /&gt;5.Sanad hadist itu terhindar dari ‘illat.&lt;br /&gt;Dengan demikian, suatu sanad hadist yang tidak memenuhi kelima unsur tersebut adalah hadist yang kualitas sanad-nya tidak sah.9&lt;br /&gt; Mengenai cara penelitian sanad dan subyek pembawa berita (rawi) telah banyak ditulis di kitab-kitab para ulama. Jadi kita bisa mengetahui keadaan kualitas sanad dan rawi dari kitab-kitab tersebut. Karena ulama hadist ada yang secara khusus telah melakukan penelitian secara khusus dan mendalam terhadap masing-masing pribadi para periwayat. Hasil penelitian mereka dihimpun dalam berbagai kitab. Dengan begitu seseorang yang hendak meneliti kualitas sanad memerlukan “bantuan” dari berbagai kitab yang berisi tentang kualitas para periwayat hadist. Cara tersebut biasanya terkenal dengan istilah I’tibar.&lt;br /&gt;1.Penelitian Sanad dengan I’tibar&lt;br /&gt;I’tibar berarti mendapatkan informasi dari petunjuk literatur, baik kitab/diwan yang asli (Mushannaf, Musnad, Sunan dan Shahih), kitab Syarh dan kitab-kitab Fan yang memuat dalil-dalil hadist, serta mempelajari kitab-kitab yang memuat problematika Hadist. &lt;br /&gt;Dengan mengetahui Diwan yang mengkoleksi suatu hadist, kita dapat mengetahui kualitas hadistnya, sebab menurut Ulama Muhadditsin disepakati, jenis kitab hadist menunjukkan kualitas hadist tertentu. Kitab al-jami’ al-Shahih berisi Hadist Shahih, Hasan dan Dhoif, tapi dhaifnya tidak sampai mawdhu’(rawi dusta), matruk (rawi tertuduh dusta), munkar (rawi fasiq dan atau jelek hafalannya).&lt;br /&gt;Bila atas petunjuk diwan belum didapat informasi dan petunjuk yang jelas tentang kualitas hadist, perlu dilihat komentar kitab-kitab Syarh. Kitab ini merupakan komentar dan pembahasan secara meluas dan mendalam terhadap teks hadist yang tercantum pada diwan hadist asal dan terhadap hadist yang tercantum pada kitab kutipan (takhrij).&lt;br /&gt;I’tibar (Studi literatur) lainnya dalam melihat kualitas hadist adalah dengan menelaah kitab-kitab fan tertentu (Tafsir, Tawhid,Fiqh, Tashawuf, Akhlaq) yang memuat dan menggunakan Hadist sebagai dalil pembahasannya. Apalagi kalau penulisnya termasuk yang ahli dibidangnya dan ahli hadist pula, dan lebih-lebih kalau kitabnya bersifat muqaranah dan pembahasan problematika. 10&lt;br /&gt;Dengan melihat penjelasan dari kitab-kitab diwan ataupun fan, maka peneliti akan mengetahui ketersambungan atau tidak ketersambangunan sebuah sanad dalam hadist. Untuk mengetahui bersambung (dalam arti musnad) atau tidak bersambungnya suatu sanad, biasanya ulama hadist menempuh tata kerja penelitian sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.Mencatat semua nama periwayat dalam sanad yang diteliti.&lt;br /&gt;b.Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat : &lt;br /&gt; Melalui kitab-kitab rijal al-hadist, misalnya kitab Tahdzib al-Tahdzib susunan Ibn Hajar al-Asqalany, dan kitab al-Kasyif susunan Muhammad bin Ahmad al-Dzahaby. Melalui kitab tersebut dimaksudkan untuk mengetahui:&lt;br /&gt;1)Apakah setiap periwayat dalam sanad itu dikenal sebagai orang yang adil dan dhabith, serta tidak suka melakukan penyembunyian cacat (tadlis)&lt;br /&gt;2)Apakah antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad itu terdapat hubungan; kesezamanan pada masa hidupnya, dan guru murid dalam periwayatan hadist.&lt;br /&gt;c.Meneliti kata-kata yang menghubungkan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasany, haddasana, akhbarana, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya. Jadi, suatu sanad hadist barulah dapat dinyatakan bersambung apabila:&lt;br /&gt;Seluruh periwayat dalam sanad itu benar-benar siqat (adil dan dhabith)&lt;br /&gt;Antara masing-masing periwayat dengan periwayat terdekat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadist secara sah menurut ketentuan tahammul wa ada’ al-hadist. 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Meneliti Pribadi Periwayat&lt;br /&gt;Riwayat menurut bahasa, ialah: “Memindahkan dan menukilkan berita dari seseorang kepada orang lain”.&lt;br /&gt;Menurut ilmu hadist, ialah : “Memindahkan hadist dari seseorang guru kepada orang lain, atau mendewankannya ke dalam dewan hadist”.&lt;br /&gt;Pemindah hadist itu, dinamai : Rawi. Rawi pertama, ialah Shahaby dan rawi terakhir, ialah : yang mendewankannya; umpamanya Bukhary. Beliau adalah perawi terakhir bagi kita.12&lt;br /&gt;Jadi meneliti pribadi periwayat adalah penelitian terhadap sifat, akhlaq, dan segala hal yang bersangkutan dengan kepribadian para perawi ( nama-nama ulama’ yang tercantum dalam sanad suatu hadist). Dimaksudkan dalam hal ini, riwayat hidup bagi para rawi yang dijadikan sandaran dalam isnad hadist. Diantara yang dipandang penting meliputi:&lt;br /&gt;1)Nama, gelar (kunyah dan laqab), keturunan dan penisbahannya.&lt;br /&gt;2)Tempat, negeri, tanggal lahir dan meninggalnya bila mungkin. Apabila tidak mungkin masa hidupnya atau  tahun meninggalnya.&lt;br /&gt;3)Kepribadiannya, antara lain menyangkut amanah dan kepercayaan pihak lain, dapat dipercaya atau tidak.&lt;br /&gt;4)Pikiran dan kekuatan hafalannya; sempurna/cukup kuat atau pernah mengalami perubahan (linglung).&lt;br /&gt;5)Siapa saja guru-gurunya tempat pengambilan hadist dan siapa pula murid-murid yang meriwayatkan hadiss dari padanya.&lt;br /&gt;6)Ke mana saja mengadakan perjalanan menuntut ilmu dan hadist.&lt;br /&gt;7)Apa saja keistimewaan yang menonjol dan menjadi cirri khas baginya, sebaliknya apa saja cacat dan cela yang dapat dinilai sebagai kelemahanya.&lt;br /&gt;8)Dan lain-lain yang perlu diungkap yang pada prinsipnya akan dapat dijadikan pegangan bagi penelitian hadist, apakah rawi tersebut termasuk yang dapat dijadikan sandaran dalam isnad hadist atau tidak. Apabila tidak berarti hadistnya akan ditolak karena dinilai djaif, sedang apabila dapat disamping syarat-syarat lain telah terpenuhi maka hadistnya akan diterima karena dinilai hadist shahih.13 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui pribadi rawi, maka seseorang yang meneliti hendaknya melihat di kitab-kitab hadist. Karena tiap-tiap seorang dari rawi-rawi, hendaklah dikenal oleh dua orang dari ahli hadist di zaman masing-masing. Sifat masing-masing rawi pastinya juga telah diterangkan oleh ahli hadist di masing-masing masa.&lt;br /&gt;Semua rawi-rawi hadist dari zaman Nabi SAW, hingga masa-masa setelahnya dicatat oleh imam-imam ahli hadist di kitab-kitab mereka, mulai dari tahun kelahirannya, hingga wafatnya, hal itu merupakan usaha spaya diketahui oleh orang-orang di belakang mereka. Tidak seorangpun rawi-rawi hadist terluput dari catatan ulama hadist. Rawi yang tidak ada catatanya disebut majhul; tidak terkenal, rawi yang tidak terkenal tidak dapat diterima hadist yang ia riwayatkan.&lt;br /&gt;Berikut beberapa contoh kitab yang menerangkan riwayat hidup dari Rawi-rawi hadist.&lt;br /&gt;1.Tah-Dzibut-Tahdzib oleh Ibnu Hajar al-Asqalany, ada 12 juz, mengandung 12.460 nama rawi.&lt;br /&gt;2.Lisanul-Mizan, oleh Adz-Dzahaby, ada 3 juz, mengandung 10.907 nama rawi.&lt;br /&gt;3.Al-ishabah, oleh Ibnu Hajar, ada 8 juz besar, kitab ini khusus menerangkan riwayat hidup sahabat-sahabat Nabi SAW, dan sebagainnya mengandung 11.279 nama sahabat.&lt;br /&gt;4.At-Tarikhul-Kabir, oleh Imam Bukhari, sebanyak 6 jilid, mengandung nama 9.048 rawi hadist.&lt;br /&gt;5.Al-Jarhu Wa Ta,dil, oleh Ibnu Abi Hatim, ada 9 jilid sedang,mengandung 18.040 nama rawi-rawi. 14&lt;br /&gt;Setelah melihat dan memahami pribadi periwayat hadist maka kita akan tahu mana rawi yang diterima dan tidak diterima. Menurut ulama hadist sifat Rawi yang diterima periwayatannya adalah bersifat Adil, Dhabith,  Terhindar dari Syudzudz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Periwayat Bersifat Adil&lt;br /&gt;Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa periwayat yang bersifat adil adalah; beragama Islam, mukalaf, melaksanakan ketentuan agama dan memelihara muru’ah.&lt;br /&gt;Secara umum, ulama’telah mengemukakan cara penetapan keadilan periwayat hadist. Yakni berdasarkan:&lt;br /&gt;a.Popularitas keutamaan periwayat di kalangan ulama hadist.&lt;br /&gt;b.Penilaian dari para kritikus periwayat hadist; pernilaian ini berisi pengungkapan kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri periwayat hadist.&lt;br /&gt;c.Penerapan kaedah al-jarh wa al-ta’dil; cara ini ditempuh bila para kriikus hadist tidak sepakat tentang kualitas pribadi periwayat tertentu. Jadi, penetapan keadilan periwayat diperlukan kesaksian dari ulama, dalam hal ini adalah ulama ahli kritik periwayat.15 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Periwayat Bersifat Dhabith&lt;br /&gt;Menurut Ibn Hajar al-Asqalany dan al-Sakhawy, yang dinyatakan sebagai orang Dhabith adalah orang yang kuat hafalannya itu kapan saja dia menghendakinya. Ada pula ulama yang menyatakan, orang dhabith adalah orang yang mendengarkan pembicaraan sebagaimana seharusnya; dia memahami arti pembicaraan itu secara benar; kemudian dia menghafalnya dengan sungguh-sungguh dan dia berhasil hafal dengan sempurna, sehingga dia mampu menyampaikan hafalannya itu kepada orang lain dengan baik.&lt;br /&gt;Adapun cara penetapan kedhabithan seorang periwayat, menurut berbagai pendapat ulama’ adalah;&lt;br /&gt;a.Kedhabithan periwayat dapat diketahui berdasarkan kesaksian ulama.&lt;br /&gt;b.Dapat diketahui juga berdasarkan kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat lain yang terkenal kedhabithannya. Tingkat kesesuaiannya itu itu mungkin hanya samapi ke tingkat makna atau mungkin ke tingkat harfiah.&lt;br /&gt;c.Apabila seorang periwayat sekali-kali mengalami kekeliruan, maka dia masih dapat dinyatakan sebagai periwayat yang dhabith. Tetapi apabila kesalahannya itu sering terjadi, maka periwayat yang bersangkutan tidak lagi disebut sebagai periwayat yang dhabith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Terhindar dari Syudzudz (Ke-Syadz-an) dan dari Illat&lt;br /&gt;Hadist yang mengandung illat pada mulannya terlihat sebagai hadist shahih. Karena sanadnya tampak bersambung dan periwayatnya tampak bersifat siqat semua. Namun, setelah hadist itu diteliti lebih mendalam, barulah dapat diketahui jika hadist tersebut mengandung Illat. &lt;br /&gt;Dari penjelasan al-Syafi’iy dinyatakan, bahwa hadist syad tidak disebabkan oleh: kesendirian individu periwayat dalam sanad hadist, periwayat yang tidak siqat. Hadist berpeluang mengandung syudzudz, bila; hadist itu memiliki lebih dari satu sanad, para periwayat hadist itu seluruhnya siqat, matan dan atau sanad hadist itu ada yang mengandung pertentangan. &lt;br /&gt;Sebab utama kesulitan penelitian syudzudz dan illah hadist ialah karena kedua hal itu terdapat dalam sanad yang tampak shahih. Dan baru dapat diketahui setelah hadist itu diteliti lebih mendalam dengan diperbandingkan berbagai sanad yang matannya mengadung masalah yang sama. 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Para ulama Muhaditsin berpendapat, bahwa posisi sanad dalam hadist itu sangat penting keberadaannya di samping matan hadist itu sendiri. Bahkan ada yang menyatakan bahwa mengkaji sanad hadist itu termasuk Sunnat Muakkad. Karena ia merupakan mata rantai yang menghubungkan materi (matn) hadist hingga kepada Nabi SAW. &lt;br /&gt;Sanad merupakan keunggulan Islam dalam koleksi ajaran yang berupa hadist Nabi SAW. Sanad dan rawi merupakan unsur mutlak yang harus ada dalam setiap Hadist, selain matannya. Karenanya, unsur atau rukun hadist meliputi matn, rawi, dan sanad. Tidak sah matan itu dinyatakan sebagai hadist, jika tidak adanya persyaratan-persyaratan itu, yakni harus lengkap dengan rawi dan sanadnya.17 &lt;br /&gt;Karena begitu pentingnya keadaan sanad maka, harus dilakukan penelitian terhadap sanad hadist serta para perawinya. Diantara cara yang bisa dilakukan adalah dengan kajian litarure hadist (I’tibar). Sedangkan untuk pribadi perawi dapat dilakukan dengan popularitas keutamaan periwayat yang bersangkutan, penilaian dari para kritikus periwayat hadist, penerapan kaedah al-jarh wa ta’dil, kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat yang telah dikenal kedhabithannya.Waallahu A’lam Bishawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assiba’I, Musthafa. (1982). Al-Hadist Sebagai Sumber Hukum Serta Latar Belakang Historisnya. Bandung: Cv Diponegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash-Shiddieqy, M Hasbi. (1974). Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist. Jakarta: Bulan Bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsyad, Natsir. (1996). Seputar Al-Qur’an Hadist dan Ilmu. Bandung: Al-Bayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bustamin dan M.Isa H.A.Salam. (2004). Metodologi Kritik Hadis. Jakarta: Rajawali Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hassan, A. (2001). Terjemah Bulugul Maram. Bangil: Pustaka Tamaam Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husnan, Ahmad. (1993). Kajian Hadist Metode Takhrij. Jakarta: Pustaka Al-Kaustar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail, Syuhudi. (1988). Kaedah Keshahihan Sanad Hadist; Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Jakarta: Bulan Bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetari, Endang. (1997). Ilmu Hadist. Bandung: Amal Bakti Press.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-2327654217917188643?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/2327654217917188643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/baca-dapat-ilmu-loo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/2327654217917188643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/2327654217917188643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/baca-dapat-ilmu-loo.html' title='baca dapat ilmu loo....'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-6051716154472602962</id><published>2011-01-20T04:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T04:50:11.320-08:00</updated><title type='text'>untuk pengetahuan....</title><content type='html'>&lt;strike&gt;Peran Sahabat Dalam Membentuk Hadist&lt;/strike&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;IKA ROMIKA MAWADDATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah membawa tugas mulia sebagai penyampai ajaran Islam di muka bumi, sehingga menjadi ajaran  rahmatan lil alamin yang membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi penghuni dunia. Telah disepakati oleh para ulam bahwa sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Hadist. &lt;br /&gt;Dalam menyampaikan syariat kepada umat, ada kalanya beliau membawakan peraturan – peraturan yang isi dan redaksinya telah diterima dari Allah, dan ada kalanya hasil ciptaan sendiri atas bimbingan ilham dari Allah.1 Peraturan hasil ijtihad beliau atas bimbingan ilham yang terus berlaku sampai ada nash yang menasakhkan, dan ijtihad itulah yang berkembang menjadi hadist yang terus dipelajari dan diamalkan  hingga saat ini. &lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa yang juga hidup dalam lingkungan masyarakat, perjalanan dakwah Muhammad sebagai Rasulullah, tentunya tidak sendirian saja. Namun  ditemani orang – orang di sekitar beliau yang mendukung perjuangannya. Tetapi tidak sedikit pula orang-orang di sekitar beliau yang menentang bahkan berusaha memerangi usaha Muhammad dalam mensyiarkan ajaran Islam.&lt;br /&gt;Allah telah memberikan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagaian di anatara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Al-Qur’an dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadist Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadist.2&lt;br /&gt;Begitu penting fungsi hadist dalam Islam, maka perlu bagi kita para penerus perjuangan Rasulullah, mengetahui usaha para sahabat dalam menjaga eksistensi dan kevaliditasan hadist hingga sampai pada zaman kita sekarang. Dengan begitu diharapkan kita juga termotivasi untuk menteladani usaha mereka dalam menjaga hadist. Untuk membatasi dan menfokuskan permasalahan dalam makalah ini, maka penulis hanya akan membahas peran sahabat dalam menjaga eksistensi hadist. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Sebelum membahas bagaimana usaha sahabat dalam menjaga eksistensi hadist, ada baiknya penulis paparkan periode sejarah hadist sebagai pengantar pemhasan. Para ulama penulis sejarah hadist berbeda-beda dalam membagi periode-periode sejarah hadist. Karena hanya sebagai pengantar pemahaman isi makalah ini, maka penulis hanya menyebutkan periodesasi perkembangan hadist yang dibagi menjadi 7 periode:&lt;br /&gt;1.Hadist pada masa Rasul (masa turun wahyu dan pembentukan masyarakat Islam)&lt;br /&gt;2.Hadist padamasa sahabat besar, semenjak permulaan masa pemerintahan Abu Bakar al-Shiddiq samapi berakhirnya zaman Ali Ibn Abi Thalib 11 H-40 H (zaman pematerian dan penyederhanaan/penyedikitan riwayah)&lt;br /&gt;3.Masa sahabat kecil dan tabi’in besar, dari berakhirnya zaman khulafa al-Rasyidin atau permulaan masa Muawwiyah (masa penyebaran ke kota-kota/daerah-daerah)&lt;br /&gt;4.Masa pemerintahan daulah Muawwiyah angkatan kedua sampai masa daulah Abbasiyah angkatan pertama, permulaan abad kedua Hijriyah samapi akhir akhir abad kedua Hijriyah (Masa penulisan tan pentadwinan)&lt;br /&gt;5.Masa akhir pemerintahan daulah Abbasiyah angkatan pertama sampai awal pemerintahan Daulah Abbasiyah angkatan kedua (sejak Khalifah Ma’mun sampai Khalifah al-Muqtadir) dari awal abad III H sampai akhir abad III H (masa penyaringan, pemeliharaan dan pelengkapan)&lt;br /&gt;6.Masa pemerintahan Abbasiyah angkat kedua (sejak khalifah Muqtadir samapi al-Mu’tashim) dan permulaan abad IV H sampai jatuhnya Bagdad tahun 656 H (Masa pembersihan, penyusunan, penambahan dan pengumpulan)&lt;br /&gt;7.Masa sesudah daulah Abbasiyah tahun 656 H samapi sekarang (masa penyarahan, penghimpunan, pentakhrijan dan pembahasan.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Sahabat&lt;br /&gt;Secara   etimologi sahabat   berasal dari kata      صحب  يصحب  صحبة  صحابة صاحب   &lt;br /&gt;Yang berarti bersahabat, berteman, dan berkawan &lt;br /&gt;Secara terminologi sahabat adalah :&lt;br /&gt;من لقي النبي ص م مؤمنا به (مسلما ) ومات على الاسلام&lt;br /&gt;“ Siapa saja yang bertemu nabi, mangimaninya dan mati dalam keadaan Islam” 4&lt;br /&gt;Pada saat itu keberadaan Sahabat telah terpencar di berbagai tempat sehingga tidak bisa menghitung secara urut, beberapa ulama menjelaskan bahwa jumlah sahabat lebih dari 100 000 jiwa. Menurut Abu Zur’ah Ar-Raji mengatakan sahabat Rasulullah melingkupi 114 sahabat.5 Sahabat bisa diketahui dengan diketahui keadaan seseorang sebagai sahabat secara mutawatir, dengan ketenaran meskipun belum sampai batasan mutawatir, riwayat dari seorang sahabat bahwa dia adalah sahabat atau dengan kabar dari yang bersangkutan bahwa dia adalah seorang sahabat.6&lt;br /&gt;Jika berkaca dari makna  sahabat dan periode perkembanagn hadist yang telah dijelaskan sebelumnya maka periode yang di dalamnya terdapat sahabat adalah periode pertama, kedua, dan ketiga. (periode Rasulullah hingga berakhirnya masa khulafaur Rasyidin atau permulaan masa Bani. Ummaiyah) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B.Peran Sahabat dalam Pembentukan Hadist&lt;br /&gt;Menurut periodesasi perkembangan sejarah, terdapat beberapa perbedaan kebijakaan tentang hadist,  seperti pada masa Rasulullahterdapat beberapa kebijakan yang berbeda tentang penulisan hadist:&lt;br /&gt;1.Perintah Rasulullah kepada para sahabat untuk menghapal, menyampaikan dan menyebarkan hadist. Diantara sabda beliau:&lt;br /&gt;“Mudah-Mudahan Allah menyinari seseorang yang mendengar ucapanku, lalu menghapal dan memahaminya, serta disampaikan kepada orang lain sebagaimana yang ia dengar. Karena, boleh jadi orang disampikan kepadanya, lebih paham dari orang yang mendengarnya sendiri” (HR Abu Dawud dan At-Turmidzi)&lt;br /&gt;2.Rasulullah melarang para sahabat untuk menulis hadist. Sabda beliau:&lt;br /&gt;“ Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dari padaku, terkecuali al-Qur’an. Dan barang siapa telah menulis dari padaku selain al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya.” (HR Ahmad)&lt;br /&gt;3.Setelah melarang, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menulis kembali hadist. Seperti sabda beliau:&lt;br /&gt;“Tulislah, maka demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku kecuali kebenaran.” (HR. Abu Dawud). 7&lt;br /&gt; Dan dikuatkan pula kebolehan menulis hadist secara tidak resmi, oleh riwayat Al-Bukhori yang meriwayatkan bahwa di ketika Nabi dalam sakit berat, beliau meminta dituliskan pesan-pesannya untuk menjadi pegangan umat. Akan tetapi, karena di kala itu Nabi dalam keadaan berat sakitnya, Umar menghalanginya karena ditakuti menambahkan berat sakit Nabi.8&lt;br /&gt; Dari ketiga kebijakan tersebut tentunya respon para sahabat berbeda-beda. Namun secara umum para sahabat sangat antusias untuk mempelajari hadist baik dari Rasulullah sendiri maupun dari sahabat lain. Berikut penjelasan singkat mengenai kegiatan sahabat terhadap penjagaan hadist.&lt;br /&gt;1.Cara sahabat menerima hadist&lt;br /&gt;Jumlah sahabat yang banyak tidak memungkinkan jika semuannya setiap hari bergaul dengan Rasulullah, di antara mereka ada yang tidak bisa secara rutin bergaul dengan Rasulullah karena kesibukan atau tempat tinggal yang jauh dari Rasulullah. Berikur cara sahabat menerima hadist&lt;br /&gt;a.Langsung dari Rasulullah&lt;br /&gt;Maksudnya langsung mendengar, melihat atau menyaksikan apa yang dilakukan Rasulullah. Hal ini dialami sahabat melalui majelis pengajian atau langsung bertanya.&lt;br /&gt;b.Tidak langsung&lt;br /&gt;Maksudnya tidak langsung tapi mendapatkan hadist dari sahabat lain, beberapa alasannya adalah:&lt;br /&gt;1)kesibukan pribadi&lt;br /&gt;2)tempat tinggal yang jauh dari Rasulullah&lt;br /&gt;3)merasa malu untuk bertanya langsung kepada Rasulullah.nabi sendiri sengaja minta tolong kepada sahabat untuk menjelaskan masalah-masalah khusus.&lt;br /&gt;Bagimana cara sahabat menjelaskan hadist kepada sahabat yang tidak langsung mendapatkan dari Rasulullah?&lt;br /&gt;1)Dengan lafaz asli (Lafzhiyah) yaitu menurut lafaz yang telah mereka terima dari Rasulullah.&lt;br /&gt;Untuk tujuan ini (selain juga tujuan yang lain), para sahabat berusaha senantiasa menghafal hadist dengan sungguh-sungguh. Mereka sangat berhati-hati dalam hafalannya, tidak sedikitpun berani mengubah; menambahi atau mengurangi yang didengarnya dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Ketika Ubaid bin Umair menyitir sabda Nabi; “orang munafik itu bagaikan domba yang sedang berbaring dengan menyimpulkan kaki diantara biri-biri,” Ibnu Umar9 langsung menegurnya, karena bunyinnya tidak sama seperti sabda Rasulullah SAW. Sedangkan sabda Rasulullah yang benar ialah; “Orang munafiq itu bagaikan domba yang lewat di antara biri-biri.” Ibnu Umar juga pernah mendengar seorang lelaki yang kacau mengucapkan hadist mengenai rukun yang lima, sehingga menyalahi riwayat yang ia dengar sendiri dari Rasulullah SAW. Kepada lelaki tersebut Ibnu Umar berkata: “Jadikan puasa bulan Ramadhan sebagai rukun yang terakhir, seperti yang aku dengar dari Rasulullah.” 10&lt;br /&gt;2)Dengan makna saja (ma’nawi) yaitu hadist tersebut disampaikan dengan mengemukakan maknanya saja. 11 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kehati-hatian Sahabat dalam Periwayatan Hadist&lt;br /&gt;Periode Khulafaur Rasyidin, merupakan periode di mana Rasulullah telah meninggal dan tongkat kepemimpinan dipegang oleh para sahabat besar, karena Rasulullah telah tiada tentunya sumber utama hadist telah tiada pula, namun usaha sahabat untuk terus mencari hadist-hadist lain yang belum diketahui tidaklah berhenti. Selain itu kebijakan para pemimpin mengenai hadist pun berbeda di masa Rasulullah. Kebijakan yang paling terlihat adalah kehati-hatian sahabat dalam periwayatan hadist. &lt;br /&gt;Menurut sejarah suasana masyarakat muslim khususnya masa Abu Bakar dan Umar, pada umumnya baik dan tentram. Namun timbul benih-benih kekacauan yang merusak dan menganggu pengamalan umat Islam terhadap agama. &lt;br /&gt;a.Murtadnya beberapa orang Islam sepeninggal Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;b.Masuknya orang-orang yanhudi yang bermuka dua.(Abdullah bin Saba’)&lt;br /&gt;c.Kebijakan Usman yang mengangkat kerabatnya, menimbulkan ketidaksenangan rakyat. &lt;br /&gt;Atas suasana tersebut mendorong para sahabat untuk berhati-hati dalam periwayatan hadist, baik yang menerima maupun yang menyampaikan.tindakan kehati-hatian (Ihtiyath) para sahabat dalam periwayatan hadist berbentuk: &lt;br /&gt;a.menyedikitkan riwayat, yakni hanya mengeluarkan hadist untuk kebutuhan primer.&lt;br /&gt;b.Menepis dalam penerimaan hadist, yakni meneliti keadaan rawi dan marwi.&lt;br /&gt;c.Melarang meriwayatkan secara luas hadist yang belum dapat difahami secara umum. &lt;br /&gt;Dengan tegas sejarah menerangkan bahwa Umar ketika memegang tampuk kekhalifahan meminta dengan keras supaya para sahabat menyelidiki riwayat. Beliau tidak membenarkan orang membanyakkan periwayatan hadist. Ketika mengutus utusan ke Iraq, beliau mewasiatkan supaya utusan-utusan itu mengembangkan Al-Qur’an dan mengembangkan kebagusan tajwidnya, serta mencegah mereka membanyakkan riwayat. Diterangkan bahwa, pernah orang bertanya kepada Abu Hurairah apakah dia banyak meriwayatkan hadist di masa Umar. Abu Hurairah menjawab : “Sekiranya saya membanyakkan, tentulah Umar akan mencambuk saya dengan cambuknya.”12&lt;br /&gt;Adapun menulis hadist masih tetap terbatas dan belum dilakukan secara resmi, walaupun pernah khalifah Umar mempunyai gagasan untuk membukukan hadist, namun niatan tersebut diurungkan setelah Istiharoh. Namun demikian ada beberapa sahabat yang tetap menulis hadist untuk kepentingan sendiri, karena takut lupa atau alasan yang lain (pemhaman mereka bahwa ijin penulisan hadist datangnya lebih dahulu, baru disusul dengan larangan, sehingga banyak yang telah menulis hadist). Tulisan-tulisan tersebut terkenal dengan sebutan Shahifah, misalnya Shahifah Ali ra, Al-Shahifah Al-Shadiqoh oleh Abdullah bin Amr bin Ash, Shahifah Jabir bin Abdullah Al-Anshari.&lt;br /&gt;Suatu hari Abdullah datang meminta tentang penulisan hadist fatwa kepada Rasulullah: “Bolehkah aku menulis apa saja yang aku dengar? “Rasulullah SAW bersabda: Ya, boleh. “Abdullah bertanya lagi: “Dalam ridla dan marah? “Nabi Menjawab: “Ya. Sungguh, aku hanya mengatakan kebenaran dalam hal itu.”&lt;br /&gt;Jadi terlihat bahwa Abdullah bin Amr melakukan penulisan Hadist sesudah menerima fatwa yang jelas dari Rasul yang mulia, dan , Al-Shahifah Al-Shadiqoh itu adalah buah dari fatwa Nabi. Ketekunan Ibnu Amr dalam menulis Shahifah Shadiqah dan Shahifah-Shahifah lain diakui oleh ucapan Abu Hurairah: “Tak seorang pun di antara sahabat Rasulullah SAW yang lebih banyak menulis hadisnya dari padaku, kecuali Ibnu Amr, karena dia terus menulis dan aku tidak.13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Antusiasme Dalam Mempelajari Hadist&lt;br /&gt;Pada masa sahabat kecil daerah Islam mulai meluas, sampai ke Syam, Irak, Mesir, Samarkand bahkan pada tahun 93 H sampai ke Spanyol. Perkembangan wilayah tersebut tentunya juga dibarengi berbagai perkembangan permasalahan dalam tubuh masyarakat Islam, berawal dari alasan tersebut maka umat Islam saat itu memerlukan pengetahuan lebih mengenai hadist Nabi SAW. &lt;br /&gt;Karena kebutuhan itulah mereka semakin serius mempelajari hadist, menanyakan dan belajar dari para sahabat besar yang sudah tersebar di seluruh pelosok wilayah daulah Islamiyah. Dengan demikian pada masa ini disamping tersebarnya periwayatan hadist-hadist ke pelosok-pelosok daerah jazirah Arab, juga perlawatan untuk mencari hadist juga ramai.&lt;br /&gt;Umar bin Khattab , menurut riwayatAl-Bukhory menerangkan :&lt;br /&gt; ‘Aku dan seorang temanku (tetanggaku) dari golongan Anshar bertempat di kampung Umaiyah ibn Yazid, sebuah kampung jauh dari kota Madinah. Kami berganti-ganti datang kepada Rasul. Kalu hari ini aku yang turun, esok tetanggaku yang pergi. Kalau hari ini aku yang turun, sok tetanggaku yang pergi. Kalau aku yang turun, aku beritakan kepada tetanggaku apa yang aku dapati dari Rasulullah. Kalau dia yang pergi, demikian juga, pada suatu hari, pada hari gilirannya, sahabatku pergi. Sekembalinnya dia mengetuk pintu rumahku dengan keras serta berkata: “Adakah Umar di dalam? “Aku terkejut lalu keluar mendapatinya,. Ia menerangkan bahwa telah terjadi satu keadaan penting. Rasul telah mentalak istri-istrinya. Aku berkata: “Memang sudah ku duga terjadi peristiwa ini. “sesudah saya bersembahyang subuh, saya pun berkemas lalu pergi. Sesampai di kota, saya masuk ke rumah Hafsoh, saya dapati dia sedang menangis. Maka saya bertanya: “Apakah engkau telah ditalak Rasul?”. Hafsah menjawab: “Saya tak tahu”. Sejurus kemudian saya masuk ke bilik Nabi, sambil berdiri saya berkata: “Apakah anda telah mentalak isteri-isteri anda? “Nabi menjawab: “Tidak”. Di kala itu saya pun mengucapkan “Allahu Akabar.”14 &lt;br /&gt;Riwayat ini menerangkan, bahwa para sahabat sangat benar memperhatikan gerak-gerik Nabi dan sangat benar memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disabdakan Nabi. Mereka menyakini, bahwa mereka diperintahkan mengikuti dan mentaati Nabi.&lt;br /&gt;Para sahabat dalam menerima hadist, sangat berpegang teguh pada kekuatan hafalannya, yakni menerima dengan hafalan bukan tulisan. Pada saat itu dahabat yang bisa menulis masih sedikit. Mereka mendengar dengan hati-hati apa yang disabdakan Rasulullah, mereka melihat yang Nabi kerjakan, dan mendengar pula dari orang yang mendengar sendiri dari Rasulullah.&lt;br /&gt;Karena meningkatnya antusiasme sahabat dalam mempelajari hadist, maka muncullah bendaharawan-bendaharawan Hadist, dan muncul pula lembaga-lembaga (centrum perkembangan ) Hadist diberbagai daerah :&lt;br /&gt;a.Madinah, dengan tokoh-tokohnya: Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Huroiroh, Aisyar, (Sahabat). Urwah, Said, Al-Zuhri (tabi’in)&lt;br /&gt;b.Makkah, dengan tokohnya, Muadz, Ibn Abbas (Sahabat), Mujahid, Ikrimah, Atha Ibn Abi Rabiah (Tabi’in)&lt;br /&gt;c.Kuffah, dengan tokoh-tokohnya, Ali, Abdullah ibn Mas’ud, Saad bin Abi Waqos (sahabat), Masruq, Ubaidillah, AL-Aswad (Tabi’in)&lt;br /&gt;d.Basrah, dengan tokoh-tokohnya, Anas Ibn Malik, Utbah, Imran Ibnu Husain (Sahabat), Abu Al-Aliyah, Al-Bisri (Tabi’in)&lt;br /&gt;e.Syam dengan tokoh-tokohnya, Muadz Ibn Jabbal, Abu Darda (Sahabat)&lt;br /&gt;f.Mesir, dengan tokohnya, Abdullah Ibn Amer, Uqbah Ibnu Amir, Kharijah Ibn Hudzaifah (Tabi’in)&lt;br /&gt;Diantara bendaharawan Hadist, yakni sahabat yang banyak menerima hadist, menghafal dan mengembangkan atau meriwayatkan hadist, adalah:&lt;br /&gt;a.Abu Huroiroh, menurut Ibn Al-Jauzi meriwayatkan 5374, menurut al-Kirmany 5364.&lt;br /&gt;b.Abdullah inbu Umar, meriwayatkan 2630.&lt;br /&gt;c.Anas Ibn Malik, meriwayatakan 2276.&lt;br /&gt;d.Aisyah, Istri Rasulullah SAW, meriwayatkan 2210.&lt;br /&gt;e.Abdullah Ibnu Abbas, meriwayatkan 1660.&lt;br /&gt;f.Jabir Ibn Abdullah, meriwayatkan 1540.&lt;br /&gt;g.Abu Said al-Khudri, meriwayatkan 1170.&lt;br /&gt;h.Abdullah ibnu Mas’ud.&lt;br /&gt;i.Abdullah Ibn Amr Ibn Ash.15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhan usaha sahabat dalam menjaga eksistensi hadst menjadikan hadist tetap terjaga hingga sekarang. Usaha tersebut diwujudkan dengan menghafal, menulis dan membukukan serta penelitian sanad dan matan hadist dari pemalsuan. Semua usaha tersebut tiada lain hanyalah untuk menjaga keberadaan dan kemurnian hadist dari pemalsuan-pemalsuan golongan yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Dari ulasan sederhana yang telah pemakalah jelaskan, maka dapat disimpulkan mengenai peran sahabat dalam pembentukan hadist, adalah:&lt;br /&gt;8.Sahabat sebagai penyampai hadist (pentablig) kepada umat Islam lainnya.&lt;br /&gt;9.Sahabat sebagai pemeran utama dalam penjagaan hadist setelah Rasulullah wafat, melalui hafalan dan hasil tulisan hadist yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;10.Sahabat sebagai motivator bagi generasi setelahnya untuk berhati-hati dalam penyampaian dan pengamalan hadist.&lt;br /&gt;11.Sahabat membuka ruang bagi generasi selanjutnya bahkan sampai sekarang dalam pengkajian terhadap hadist, hingga muncul disiplin ilmu hadist. Waallahu A’lam Bishawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Shalih, Subhi (2002) Membahas Ilmu-Ilmu Hadis (terj, Tim Pustaka Firdaus) Jakarta: Pustaka Firdaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash-Shidieqy, Muhammad Hasbi, (1999) Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist. Semarang: Pustaka Rizki Putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qaththan, Manna, (2004) Pengantar Studi Ilmu Hadist (Terj, Mifdhol Abdurrahman) Jakarta: Pustaka Al-Kaustar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Maliki, Muhammad Alawi, (2006) Ilmu Ushul Hadist (Terj, Adnan Qohar)Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husnan, Ahmad,(1214 H) Ulumul Hadist. Sukoharjo: Al-Mukmin Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman, M Noor, (2008) Antologi Ilmu Hadist, Jakarta: Gaung Persada Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetari, Endang, (1994) Ilmu Hadist. Bandung: Amal Bakti Press.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-6051716154472602962?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/6051716154472602962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/untuk-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/6051716154472602962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/6051716154472602962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/untuk-pengetahuan.html' title='untuk pengetahuan....'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-7741736350996053601</id><published>2011-01-20T04:47:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T04:47:12.746-08:00</updated><title type='text'>ni wawasan juga...baca dak rugi</title><content type='html'>I.Untuk memperoleh akurasi dan validitas suatu hadist para ulama melakukan kritik sanad dan kritik matan. Jelaskan proses melakukan kritik sanad dan kritik matan.&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;a.Proses melakukan kritik sanad dengan beberapa langkah berikut :&lt;br /&gt; 1. Mencatat semua nama periwayat dalam sanad yang diteliti.&lt;br /&gt; 2. Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat : &lt;br /&gt; Melalui kitab-kitab rijal al-hadist, misalnya kitab Tahdzib al-Tahdzib susunan Ibn Hajar al-Asqalany, dan kitab al-Kasyif susunan Muhammad bin Ahmad al-Dzahaby. Melalui kitab tersebut dimaksudkan untuk mengetahui:&lt;br /&gt;Apakah setiap periwayat dalam sanad itu dikenal sebagai orang yang adil dan dhabith, serta tidak suka melakukan penyembunyian cacat (tadlis)&lt;br /&gt;Apakah antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad itu terdapat hubungan; kesezamanan pada masa hidupnya, dan guru murid dalam periwayatan hadist.&lt;br /&gt;3Meneliti kata-kata yang menghubungkan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasany, haddasana, akhbarana, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya. Jadi, suatu sanad hadist barulah dapat dinyatakan bersambung apabila:&lt;br /&gt;Seluruh periwayat dalam sanad itu benar-benar siqat (adil dan dhabith)&lt;br /&gt;Antara masing-masing periwayat dengan periwayat terdekat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadist secara sah menurut ketentuan tahammul wa ada’ al-hadist. &lt;br /&gt;      4. Cara yang paling mudah dan praktis untuk saat ini penelitian dengan tekhnologi yaitu penelusuran ketersambungan sanad melalui software maktabah syamilah.&lt;br /&gt;b.Proses melakukan kritik matan secara garis besar adalah dengan perbandingan, dengan beberapa langkah berikut :&lt;br /&gt;1.Menghimpun hadist-hadist yang terjalin dalam tema yang sama. Yang dimaksud sama adalah: &lt;br /&gt;Mempunyai sumber sanad sama, baik riwayat bil-lafad maupun riwayat bil-ma’na.  &lt;br /&gt;Mengandung makna yang sama, baik sejalan maupun bertolak belakang.&lt;br /&gt;Hadist dengan tema sama seperti tema aqidah, ibadah, muamalah dan lainnya.&lt;br /&gt;Hadist yang pantas dibandingkan adalah yang sederajat tingkat kualitas sanadnya. Dengan melakukan perbandingan kita akan mengetahui bahwasanya ada beberapa hadis yang memiliki lafadz berbeda dengan makna yang sama, perbedaan lafadz pada matan hadist yang semakna karena telah terjadi periwayatan secara makna. Menurut muhaddisin, perbedaan lafad yang tidak mengakibatkan perbedaan makna dapat ditoleransi asalkan sanadnya sama-sama sahih.&lt;br /&gt;2.Membandingkan matan hadist dengan ayat Al-Qur’an yang terkait atau memiliki kedekatan susunan redaksi. &lt;br /&gt;Dengan perbandingan ini kita bisa menentukan apabila ada matan hadist yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an haruslah ditinggalkan meskipun sanadnya shahih. &lt;br /&gt;3.penelitian matan hadis dengan pendekatan bahasa.&lt;br /&gt;Penelitian bahasa dalam upaya mengetahui kualitas hadis tertuju pada beberapa objek:&lt;br /&gt;struktur bahasa: artinya apakah susunan matan hadis yang diteliti sesuai dengan kaidah bahasa arab atau tidak?&lt;br /&gt;Kata-kata yang digunakan dalam matan apakah menggunakan kata-kata yang lumrah dipergunakan bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad atau menggunakan kata-kata baru yang muncul dan dipergunakan dalam literature Arab modern?&lt;br /&gt;Apakah matan hadist tersebut menggambarkan  bahasa kenabian?&lt;br /&gt;Menelusuri makna kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, dan apakah makna kata tersebut ketika diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, sama makna yang dipahami oleh pembaca atau peneliti.&lt;br /&gt;Dengan penelusuran bahasa, muhadditsin dapat membersihkan hadist Nabi dari pemalsuan hadis.&lt;br /&gt;    Setelah melakukan penelitian matan, maka dapat ditentukan matan yang shahih atau tidak. Matan yang dapat disebut shahih jika memenuhi kriteria berikut :&lt;br /&gt;1.Tidak bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an&lt;br /&gt;2.Tidak bertentangan dengan hadist yang lebih kuat&lt;br /&gt;3.Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera, dan sejarah&lt;br /&gt;4.Susunan pernyataanya menunjukkan cirri-ciri sabda kenabian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Ketika ditemukan secara lahiriyah adanya kontradiktif antara satu hadist dengan hadist yang lain, para ulama hadist memberikan tiga cara untuk menyelesaikannya, yaitu al-jam’, al-naskh, dan al-tarjih. Berikan masing-masing satu contoh tentang penyelesaian dengan cara al-jam’, al-naskh, dan al-tarjih.&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;1)Thariqah Al-Jami’, yaitu bila memungkinkan untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya, maka keduannya dikompromikan dan wajib diamalkan.&lt;br /&gt;2)Thariqah At-Tarjih, yaitu bila hadist yang kontradiktif tersebut tidak memungkinkan untuk dikompromikan, maka:&lt;br /&gt;Jika diketahui salah satunya nasikh dan yang lain mansukh, maka kita dahulukan yang nasikh lalu kita amalkan, dan kita tinggalkan yang mansukh.&lt;br /&gt;Jika tidak diketahui nasikh dan mansukhnya, maka kita cari mana yang lebih kuat di antara keduanya lalu kita amalkan, dan kita tinggalkan yang lemah.&lt;br /&gt;Jika tidak memungkinkan untuk ditarjih, maka tidak boleh diamalkan keduanya sampai jelas dalil yang lebih kuat.&lt;br /&gt;Contoh hadist yang kontradiktif :&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah SAW : “Tiada penyakit menular”, dan sabdanya dalam hadist lain “Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa.” Keduannya hadist shahih. Terhadap keduanya lalu diterapkan jalan tengah : bahwa sesungguhnya penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya. Akan tetapi Allah menjadikan pergaulan orang sakit dengan yang sehat sebagai sebab penularanya. Kadang-kadang hal itu tidak berlaku mutlak, seperti sebab lainnya. (penyelesaian tersebut merupakan bentuk hadist kontradiktif yang di ijma’ kemudian ditarjih)&lt;br /&gt;Hadist berikut merupakan di antara hadist yang penyelesainya dengan al-Naskh. &lt;br /&gt;Perintah Rasulullah kepada para sahabat untuk menghapal, menyampaikan dan menyebarkan hadist. Diantara sabda beliau:&lt;br /&gt;“Mudah-Mudahan Allah menyinari seseorang yang mendengar ucapanku, lalu menghapal dan memahaminya, serta disampaikan kepada orang lain sebagaimana yang ia dengar. Karena, boleh jadi orang disampikan kepadanya, lebih paham dari orang yang mendengarnya sendiri” (HR Abu Dawud dan At-Turmidzi)&lt;br /&gt;Rasulullah melarang para sahabat untuk menulis hadist. Sabda beliau:&lt;br /&gt;“ Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dari padaku, terkecuali al-Qur’an. Dan barang siapa telah menulis dari padaku selain al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya.” (HR Ahmad)&lt;br /&gt;Setelah melarang, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menulis kembali hadist. Seperti sabda beliau:&lt;br /&gt;“Tulislah, maka demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku kecuali kebenaran.” (HR. Abu Dawud).&lt;br /&gt;1.Hadist tentang penulisan hadist telah mengalami al-nash yang mana hadist yang membolehkan menjadikan dasar penghapusan terhadap larangan dan menjadikan pembolehan penulisan hadist.. Waallahu A’lam Bishawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Referensi: &lt;br /&gt;Al-Qaththan, Manna, (2004) Pengantar Studi Ilmu Hadist (Terj, Mifdhol Abdurrahman) Jakarta: Pustaka Al-Kaustar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Shalih, Subhi (2002) Membahas Ilmu-Ilmu Hadis (terj, Tim Pustaka Firdaus) Jakarta: Pustaka Firdaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bustamin dan M.Isa H.A.Salam. (2004). Metodologi Kritik Hadis. Jakarta: Rajawali Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail, Syuhudi. (1988). Kaedah Keshahihan Sanad Hadist; Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah. Jakarta: Bulan Bintang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-7741736350996053601?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/7741736350996053601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/ni-wawasan-jugabaca-dak-rugi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7741736350996053601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7741736350996053601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/ni-wawasan-jugabaca-dak-rugi.html' title='ni wawasan juga...baca dak rugi'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-2801516333281831413</id><published>2011-01-20T04:44:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T04:44:59.487-08:00</updated><title type='text'>nambah wawasan aja kok....!</title><content type='html'>Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;IKA ROMIKA MAWADDATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Manusia dilahirkan secara fitroh. Pengertian fitroh dapat diartikan dalam dua pengertian pertama manusia merupakan makhluq yang cenderung dan senang serta membutuhakn kepada kebaikan. Kedua manusia sebagai makhluq yang telah tertanam dalam hatinya kebutuhan terhadap ajaran ketuhanan sebagai penuntun dalam kehidupan (secara sederhana bisa disebut sebagai kebutuhan terhadap agama). Itu sebabnya meskipun ada manusia yang menyakini bahwa dalam menjalani kehidupan tidak memerlukan tuntunan Tuhan, tetap saja dalam hati kecilnya mempercayai adanya Zat yang Maha Kuasa pengatur alam semesta. Hingga akhirnya banyak sekali berbagai jenis agama dan kepercayaan yang dianut manusia di muka bumi, demi mencapai ketenangan dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;Ketika kegiatan penelitian terhadap agama mulai digalakkan di sekitar tahun 1970-an, banyak yang mempertanyakan, “agama kok diteliti?”. Bagi mereka, agama sudah pasti benar karena ia kebenaran wahyu dari Allah, sedangkan penelitian dipahami sebagai ketidakpercayaan terhadap kebenaran itu. Pemahaman semacam ini dapat dimengerti karena pengertian tentang agama dan penelitian waktu itu memang masih demikian di masyarakat umum. Barangkali, pengertian semacam itu masih berlangsung hingga saat ini di sebagian masyarakat.1 &lt;br /&gt;Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia juga tidak luput dari penelitian. Bahkan yang paling banyak melakukan penelitian terhadap Islam bukan hanya orang Muslim namun dari kalangan non muslim (biasanya banyak dilakukan oleh orang-orang Barat) juga banyak yang tertarik melakukan penelitian terhadap Islam. Langkah awal yang mereka lakukan sebelum penelitian adalah penguasaan tentang ilmu-ilmu Islam biasa disebut dengan studi Islam. Dengan berbagai macam tujuan dan makhsud mereka berusaha sungguh-sungguh mempelajari Islam demi keberhasilamn penelitian yang mereka lakukan. Proses mempelajari tersebut, terkenal dengan studi Islam.&lt;br /&gt;Jika diamati lebih jauh, studi Islam di Barat dari waktu ke waktu, telah melahirkan beberapa efek terhadap kaum muslim sendiri, diantaranya adalah sikap kurang senang dan merangsang kaum Muslimin turut serta melakukan penelitian terhadap agama serta kepercayaan yang dianut orang-orang Barat. Meskipun begitu selain kebencian, juga memberi pandangan-pandangan baru berupa pendekatan-pendekatan studi Islam yang tidak kecil, sehingga para Muslim yang belum begitu memahami Islam dapat memahami Islam secara komprehensif. Berhubungan dengan hal tersebut, minimal ada tiga pendekatan studi Islam terpenting yang berkembang sejak abad ke-19 hingga sekarang.&lt;br /&gt;Pertama, studi Islam dengan pendekatan filologis. Pendekatan ini biasa dipergunakan oleh para orientalis generasi awal abad ke-19 dan masih kuat di awal abad ke-20. mereka lebih banyak dari pakar bahasa dan ahli teks-teks klasik. Mereka memahami dunia Islam berdasarkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang tersebar dalam teks-teks Islam Klasik. Kelebihannya, pendekatan ini berhasil membongkar hazanah pemikiran Islam klasik yang berserakan, sedangkan kelemahanya mendapatkan Islam terbatas pada informasi teks sementara sisi-sisi lain yang lebih luas tidak diketahui.&lt;br /&gt;Kedua, pendekatan Islam dengan studi ilmiah. Pendekatan ini berkembang setelah perang dunia kedua yang dipelopori oleh ilmuwan sosial. Mereka melihat Islam sebagai masyarakat yang sistemik sebagaimana masyarakat Barat, sehingga kekhasan dan keunikannya yang bersifat cultural tidak tampak oleh mereka. Ketiga, studi Islam dengan pendekatan fenomenologi-interperitatif. Belajar dari kelemahan pendekatan sebelumnya, maka penganjur pendekatan ini memahami Islam khususnya masyarakatnya sebagai system symbol yang syarat dengan makna-makna sebagaimana yang dikehendaki oleh dirinya sendiri, bukan persepsi orang Barat atas dirinya (Dikutip oleh Moh Nurhakim dari Baidhawy dalam Martin, 2001 : xi-xvi)2&lt;br /&gt;Untuk menfokuskan permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini, maka penulis hanya ingin mengkaji masalah studi Islam dengan pendekatan Fenomenologi. Dimulai dari pembahasan makna serta sejarah seputar fenomenologi, bagaimana tahapan penggunaan metode fenomenologi dan seputar pendekatan fenomenologi dalam studi Islam. Makalah ini diharapkan memberikan wawasan sederhana bagi para pengkaji studi Islam dan kalangan yang berkecimpung di dalamnya, sehingga memberi warna baru dalam pengkajian studi Islam dengan metode yang bervariasi, yaitu pendekatan fenomenologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang mengkaji agama, pertama-tama hal yang harus diketahui ialah bagaimana atau dimana agama itu didudukkan dalam kajiannya. Sebab selain agama bersifat manusiawi dan historis, dirinya juga mempunyai klaim bahwa ia mempunyai sisi yang bersifat transendental. Yang pertama agama dipandang sebagai gejala budaya dan sosial sementara yang kedua sebagai hal yang bersifat normatif-doktrinal.             Dengan mengetahui hal ini, setidaknya pengkaji bisa mengetahui pada sisi-sisi mana yang akan menjadi objek kajiannya dari Agama.&lt;br /&gt;Setelah objek kajian jelas, maka hal yang perlu diketahui kemudian ialah bagaimana cara (pengkaji) mendekati objek (agama Islam) tersebut. Pada sisi pemilihan dan pemakaian pendekatan ini nantinya akan mempengaruhi atau bahkan menentukan corak hasil kajian. Ia bersikap objektif atau tidak. Ia memasukkan motif tertentu atau tidak dan seterusnya.&lt;br /&gt;Pendekatan fenomenologi merupakan cirri dari pengkaji agama yang memandang agama sebagai gejala sosial yang memiliki nilai budaya dan histories. Dengan pendekatan ini mereka melakukan studi dengan mencari data atau rumus melalui kegiatan alami (apa adanya) dari objek yang dikaji dengan mengenyampingkan rumus ilmiah atau sisi pandangan dari pikiran yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna dan Sejarah Fenomenologi&lt;br /&gt;Secara etimologi istilah fenomenologi berasal dari dua kata bahasa Yunani : Phenomenon (jamak: phenomena), yang berarti penampilan, yakni penampilan sesuatu yang menampilkan diri. Secara umum diartikan sebagai ‘penampilan sesuatu’ yang kontras dengan ‘sesuatu itu sendiri’. dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;Istilah ‘fenomenologi’ telah terbentuk pada pertengahan abad ke-19, dan kemudian digunakan dalam sejarah filsafat dengan arti yang berbeda-beda. Menurut Edmund Husserl3 yang menggunakan istilah fenomenologi pada permulaan abad ke-20, mengartikan fenomenologi sebagai ilmu pengetahuan tentang fenomena, tentang objek-objek sebagaimana objek-objek itu dialami atau menghadirkan diri dalam kesadaran kita.  &lt;br /&gt;Munculnya fenomenologi lazimnya dikaitkan dengan Husserl (1859-1938), yang memperkembangkan aliran ini sebagai cara atau metode pendekatan dalam pengetahuan manusia. menurut prinsip yang dicanangkannya, fenomenologi haruslah kembali pada data bukan pada pemikiran, yakni pada halnya sendiri yang harus menampakkan dirinya. &lt;br /&gt;Fenomenologi bukanlah suatu aliran atau doktrin dalam arti sekumpulan ajaran tertentu. Lebih tepat apabila menyebut fenomenologi ini sebagai suatu metode pemikiran, a way of looking at things, pemakaian suatu kaca mata yang berbeda dengan cara berpikir seorang ahli salah satu ilmu. Seorang fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenologi bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. 4  &lt;br /&gt;Pernyataan tersebut dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Jika ahli ilmu bisa menyakinkan lawannya dengan memakai bukti seperti hasil eksperimen atau hasil hitungan. Sedangkan bagi fenomenolog hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan, menyakinkan seorang buta bahwa ada banyak warna di dunia tidak akan berhasil karena dia tidak melihat. Maka usaha bagi seorang fenomenolog untuk menyakinkan orang buta bahwa di dunia banyak warna adalah dengan bahasa.  &lt;br /&gt;Dengan segera fenomenologi memperoleh pamor yang sangat luas. Hal ini karena fenomenologi tidak mangajukan suatu system pemikiran eksklusif, sebagaimana aliran-aliran filsafat yang pernah berkembang sebelumnya, yang menjadi isme-isme besar, melainkan cara atau metode saja dalam mendekati persoalan. Dengan demikian, fenomenologi bisa digunakan untuk atau dianut oleh berbagai bidang ilmu seperti antropologi, sosiologi, psikologi dan studi-studi agama. Semuanya ini mempunyai kesamaan umum dalam hal empati pada objek penyelidikan dan mencoba menangkap hakikat objeknya, sebagaimana ia menampakkan diri dalam kesadaran.5  &lt;br /&gt;Bagi Bleeker, fenomenologi agama adalah studi pendekatan agama dengan cara memperbandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama, misalnya cara penerimaan penganut, doa-doa, inisiasi, upacara penguburan dan sebagainya. Yang dicoba di sini adalah hakikat yang sama dari gejala-gejala yang berbeda.6 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Metode Fenomenologi&lt;br /&gt;Metode fenomenologis terdiri dari pengujian terhadap apa saja yang ditemukan dalam kesadaran atau dengan kata lain, terhadap data atau fenomena kesadaran. Sasaran utama metode fenomenologis bukanlah tindakan kesadaran, melainkan objek dari kesadaran, umpamanya, segenap hal yang dipersepsi, dibayangkan, diragukan, atau disukai. &lt;br /&gt;Tujuan utamanya adalah menjangkau esensi-esensi hal-hal tertentu yang hadir dalam kesadaran. Metode fenomenologis dipraktekkan dengan cara yang sistemis, melalui berbagai langkah atau tekhnik. Menurut penafsiran dan terminology Spiegelberg, deskripsi fenomenologis bias dibedakan ke dalam tiga fase: mengintuisi, menganalisis, dan menjabarkan secara fenomenologis. &lt;br /&gt;1.Mengintuisi arttinya mengonsentrasikan secara intens atau merenungkan fenomena. &lt;br /&gt;2.Menganalisis adalah menemukan berbagai unsur atau bagian-bagian pokok dari fenomena dan pertaliannya.&lt;br /&gt;3.Menjabarkan adalah menguraikan fenomena yang telah diintuisi dan dianalisis, sehingga fenomena itu bias dipahami oleh orang lain.&lt;br /&gt;Langkah yang lainnya dari metode fenomenologis adalah Wessenschau, yang bisa diterjemahkan menjadi ‘pemahaman terhadap esensi-esensi’ (insight of essences), ‘pengalaman atau kognisi tentang esensi-esensi’&lt;br /&gt;Syarat utama bagi keberhasilan penggunaan metode fenomenologis adalah membebaskan diri dari praduga-praduga atau pengandaian-pengandaian.7 &lt;br /&gt;Pengikut fenomenologi agama menggunakan perbandingan sebagai sarana interpretasi yang utama untuk memahami arti dari ekspresi-ekspresi religius, seperti korban, ritus, dewa-dewa dan lain sebagainya. Mereka mencoba menyelidiki karakteristik yang dominant dari agama dalam konteks histories cultural. Kalau diperbandingkan, tindakan-tindakan religius yang secara structural mirip memberi arti-arti sangat berharga, yang menjelaskan makna internal dari tindakan-tindakan itu. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah ; bentuk luar dari ungkapan manusia mempunyai pola atau konfigurasi kehidupan dalam yang teratur, yang dapat dilukiskan kerangkanya dengan menggunakan metode fenomenologi.&lt;br /&gt; Metode ini mencoba menemukan struktur yang mendasari fakta sejarah dan memahami maknanya yang lebih dalam, sebagaimana yang dimanifestasikan lewat struktur tersebut dengan hukum-hukum dan pengertian-pengrtiannya yang khas. Hal itu bermaksud memberikan suatu pandang menyeluruh dari ide-ide dan motif-motif yang kepentinganya sangat menentukan dalam sejarah fenomena religius. Pendek kata, metode ini mencoba menangkap dan menginterpretasikan setiap jenis perjumpaan manusia dengan yang suci. 8&lt;br /&gt;Metode fenomenologi tidak hanya menghasilkan suatu deskripsi mengenai fenomena yang dipelajari, sebagaimana sering diperkirakan, tidak juga bermaksud menerangkan hakikat filosofis dari fenomena itu; sebab fenomenologi agama bukanlah deskriptif atau normative belaka, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Namun, metode ini memberikan kepada kita arti yang lebih dalam dari suatu fenomena religius, sebagaimana dihayati dan dialami oleh manusia-manusia religius. 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendekatan Fenomenologi&lt;br /&gt;Selain pendekatan normatif, studi Islam dapat juga dilaksanakan dengan pendekatan histories. Pendekatan ini memandang objek studi dari paradigma Islam sebagai realita (apa yang sebenarnya terjadi), seperti kondisi sosial umat Islam, kenyataan sejarah, perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam, kondisi ekonomi dan politik serta hal lainnya. Dalam arti pendekatan ini berusaha menjelaskan Islam dengan meminjam teori-teori atau ilmu yang kajiannya berdasarkan realita seperti sosiologi, antropologi dan diantaranya fenomenologi.&lt;br /&gt;Pendekatan fenomenologi berusaha memahami makna atau hakikat yang sebenarnya dari suatu gejala objek yang dikaji melalui jiwa atau kesadaran objek itu sendiri. Dalam arti, bahwa pendekatan fenomenologi membiarkan gejala yang diteliti berbicara sendiri secara tulus dan apa adanya, tidak boleh ada upaya-upaya luar dari sang peneliti membuat prakonsepsi yang macam-macam, apalagi berlebih-lebihan. Berbeda dengan pendekatan ilmiah-positivistik, pendekatan fenomenologi dapat memahami adanya keterkaitan objek dengan nilai-nilai tertentu, misalnya keadilan, kemanusian dan lainnya.&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan beberapa hal :&lt;br /&gt;Deskripsi tentang berbagai bentuk ekspresi keagamaan yang bersifat tata upacara, simbolik atau mistik, di samping deskripsi tentang ajaran-ajaran agama.&lt;br /&gt;Deskripsi tentang hakikat kegiatan keagamaan, khususnya dalam hubunganya dengan bentuk ekspresi kebudayaan.&lt;br /&gt;Deskripsi tentang perilaku keagamaan, berupa deskripsi ontologism, deskripsi psikologis dan deskripsidialektik (Dikutip oleh Moh Nurhakim dari Mastuhu, 1998: 148)10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Dalam kajian studi Islam, secara umum dapat dilihat dari dua pendekatan; normatif dan histories.  Pendekatan secara histories melihat Islam sebagai realita kehidupan yang memiliki sifat sejarah dan kebudayaan. Fenomenologi merupakan salah satu pendekatan studi Islam dari aspek histories. Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang berarti gejala atau apa yang menampakkan diri pada kesadaran kita.&lt;br /&gt;Arah pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang ritual dan upacara keagamaan, doktrin, dan reaksi sosial terhadap pelaku keagamaan. Singkatnya, pendekatan fenomenologi ialah ingin menempatkan pengetahuan pada pengalaman manusia serta mengaitkan pengetahuan dengan hidup dan kehidupan manusia sebagai konteksnya.&lt;br /&gt; Pendekatan fenomenologi berusaha untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh dan lebih fundamental (esensi) tentang fenomena keberagamaan manusia. Usaha pendekatan ini agaknya mengarah ke arah balik, yakni untuk mengembalikan studi agama yang bersifat historis-empiris ke pangkalnya agar tidak melampaui kewenangannya dalam studi Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Brouwer, Psikologi Fenomenologis, (1984), Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhavamony, Mariasusai, Fenomenologi Agama,Terj, (1995), Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misiak, Henryk dan Virginia Staudt Sexton, Psikologi Fenomenologi, Eksistensial dan Humanistik, terj. Koeswara (2005), Bandung: Refika Aditama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurhakim, Moh, Metodologi Studi Islam, (2004), Malang: UMM Press.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-2801516333281831413?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/2801516333281831413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/nambah-wawasan-aja-kok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/2801516333281831413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/2801516333281831413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/nambah-wawasan-aja-kok.html' title='nambah wawasan aja kok....!'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-5202029041030943821</id><published>2011-01-15T20:42:00.000-08:00</published><updated>2011-01-15T20:42:01.819-08:00</updated><title type='text'>jangan takut...dan bersabarlah..</title><content type='html'>beberapa waktu lalu ada seorang teman curhat...&lt;br /&gt;sederhana aja sih...tapi ya menurutku ni sangat penting.&lt;br /&gt;intinya dia ingin segera menikah&lt;br /&gt;     dengan lugu dia bilang "ika..menikah itu..menghalalkan sesuatu yang haram..? begitu dia mulai pembicaraan.&lt;br /&gt;dengan cuek aku jawab: "maksudmu apa..?&lt;br /&gt;"iya nikah itu menghalalkan yang haram..liat aja yang awalnya gak boleh..atau dosa jika dilakukan dengan nikah jadi boleh ..ciuman, gandengan, mesra-mesraan ama lawan jenis itu jadi ibadah kalau udah nikah.." jawabnya sederhana..&lt;br /&gt;terusss.." jawabku. "ya..terus aku pingin segera nikah...hehe hehe &lt;br /&gt;oalah.... dengan antusias dia lanjutkan..:"Tapi ik..yang bikin aneh sekarang itu orang lebih senang kalau diajak pacaran dari pada langsung nikah..padahal pacaran kan belum halal malah nambah dosa kali ya...&lt;br /&gt;    wajar juga si ik soalnya dengan nikah yang haram jadi halal, makannya setan berusaha ngrayu orang supaya pacaran dulu aja sblm nikah kan belum kenal mosok langsung nikah..&lt;br /&gt;ya biar setan banyak punya teman kali.." terangnya..&lt;br /&gt;      Waduhh dari situ aku terasa tersindir tersindir banget...ika yang selama ini berusaha jauhin pacaran.lama-lama juga kesempret..Ya Allah kalau aku sih bukannya ingin jadi temen setan.tapi kok ya susah ya..waduh gawat-gawat-gawat....jadinya aku juga pingin nikah aja gak usah pakek pacaran   he he he he&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-5202029041030943821?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/5202029041030943821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/jangan-takutdan-bersabarlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5202029041030943821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5202029041030943821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2011/01/jangan-takutdan-bersabarlah.html' title='jangan takut...dan bersabarlah..'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-758546350314879607</id><published>2010-12-29T15:34:00.000-08:00</published><updated>2010-12-29T15:34:50.935-08:00</updated><title type='text'>bangga dan menjaga</title><content type='html'>untukmu Indonesiaku&lt;br /&gt;benda bulat itu tlah membawa kami menuju kebanggaan &lt;br /&gt;bangga menjadi Indonesia &lt;br /&gt;Bangga walau belum juara&lt;br /&gt;Yang terpenting kita semua telah belajar menjadi &lt;br /&gt;Negara dewasa&lt;br /&gt;    Dewasa menerima semua yang ada&lt;br /&gt;    Dewasa untuk menghormati tetangga&lt;br /&gt;    Dewasa tetap menjaga..&lt;br /&gt;    Kehormatan negara dengan usaha mulia&lt;br /&gt;Benda bulat itu..&lt;br /&gt;Mampu membuat kami satu..&lt;br /&gt;Satu tanah air beta Indonesia..&lt;br /&gt;bERKIBAR TERUS Garuda jaya di angkasa&lt;br /&gt;    Bangga jadi Indonesia..&lt;br /&gt;    TUK..semua ayo jaga terus Indonesia dengan AKHLAQUL KARIMAH...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-758546350314879607?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/758546350314879607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/12/bangga-dan-menjaga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/758546350314879607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/758546350314879607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/12/bangga-dan-menjaga.html' title='bangga dan menjaga'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-7891939859372993326</id><published>2010-12-26T15:29:00.000-08:00</published><updated>2010-12-26T15:29:38.155-08:00</updated><title type='text'>siapa yang menang.....?</title><content type='html'>&lt;b&gt;kata seorang teman ...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;hidup itu saingan...&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;pastinya saingan untuk kemenangan..&lt;br /&gt;liat aja..kita mau lahir ke dunia aja juga perlu pperjuangan untuk mengalahkan beribu-ribu sel hingga akhirnya kitalah yang mampu menikmati indahnya hidup di dunia...&lt;br /&gt;tapi jangan seneng dulu..&lt;br /&gt;ternyata di dunia pun kita perlu perjuangan untuk memenangkan persaingan...entah mendapatkan kehidupan layak, pendidikan layak, tempat tinggal layak, persaudaraan layak, makanan layak, bahkan pendamping hidup yang layak,,&lt;br /&gt;semua perlu perjuangan dan pengorbanan..&lt;br /&gt;kalau dak mau bersaing berarti siap terasing hayooo...susahkan..jadi ayo bersaing...&lt;br /&gt;etss tunggu dulu...kalau bersaing tentunya harus ada trik dan cara yang dipai untuk menang..&lt;br /&gt;kira-kira apa ya..? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ni  ada satu trik dari aku sederhana dan mudah jika mau..&lt;br /&gt;saingan dengan kejujuran...pasti itu&lt;br /&gt;saingan dengan sportifitas..harus itu..&lt;br /&gt;saingan dengan kebersihan...wajib itu..&lt;br /&gt;dan..saingan untuk kebaikan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan begitu Insya Allah kita akan menjadi pemenang...&lt;br /&gt;yang menang itu yang bersih....&lt;br /&gt;begitu kawan kira-kira...(Wallahu A'lam Bisshowab)&lt;br /&gt;moga manfaat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-7891939859372993326?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/7891939859372993326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/12/siapa-yang-menang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7891939859372993326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7891939859372993326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/12/siapa-yang-menang.html' title='siapa yang menang.....?'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-1977683571375807766</id><published>2010-12-08T03:18:00.000-08:00</published><updated>2010-12-08T03:18:04.059-08:00</updated><title type='text'>pilih aja sendiri</title><content type='html'>ni ada nasehat sederhana dari seorang teman. &lt;br /&gt;'kiri -kira begini :"hidup itu pilihan dan kesempatan, jadi pilih apa saja yang baik buatmu dan ambil setiap kesempatan untuk kebaikan idupmu, lalu jalani dengan optimis apa yang kau pilih dari setiap kesempatan yang kau ambil&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-1977683571375807766?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/1977683571375807766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/12/pilih-aja-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/1977683571375807766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/1977683571375807766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/12/pilih-aja-sendiri.html' title='pilih aja sendiri'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-5486138076997250765</id><published>2010-10-29T22:54:00.000-07:00</published><updated>2010-10-29T22:54:06.990-07:00</updated><title type='text'>hidup itu pilihan</title><content type='html'>hidup hanya sekali, banyak pilihan di dalamnya. boleh pilih merah, biru, kuning, hijau, ungu, abu-abu, hitam atau putih atau bahkan warna-warna lain. hidup yang sekali banyak pilihan di dalamnya, boleh pilih sibuk boleh pilih nganggur. dari semua pilihan pasti setiap orang ingin memilih yang baik iya&amp;nbsp; kan...? nah bagi siapa saja yang hendak memilih yang baik maka bersyukurlah karena kita masih sehat dan waras...soo pilih yang baik-baik saja dengang usaha dan daya dan ibadah dan doa...semangat memilih kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o ya... memilih pasti meutuskan nah dalam memutuskan pasti ada resiko yang harus ditanggung untuk dihadapi jadi... mari berani memilih kebaikan dengan memutuskan yang terbaik terus...ambil resikonya berani dan semangat..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-5486138076997250765?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/5486138076997250765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/10/hidup-itu-pilihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5486138076997250765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/5486138076997250765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/10/hidup-itu-pilihan.html' title='hidup itu pilihan'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-8977111515072273948</id><published>2010-05-12T00:45:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T00:45:02.523-07:00</updated><title type='text'>SMS Siapa ini Bang...?</title><content type='html'>Punya siapa ya&amp;nbsp;&amp;nbsp; sederhana kaya manfaat....wes entar dilanjutin lagi ya...?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-8977111515072273948?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/8977111515072273948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/05/sms-siapa-ini-bang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/8977111515072273948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/8977111515072273948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/05/sms-siapa-ini-bang.html' title='SMS Siapa ini Bang...?'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-6608458590912688550</id><published>2010-05-11T23:53:00.000-07:00</published><updated>2010-05-11T23:53:51.133-07:00</updated><title type='text'>Sederhana saja...</title><content type='html'>Pesan Sederhanaku Untuk mu kawan-kawan ku&lt;br /&gt;Beberapa hari ini aku dapat sms sederhana yang kaya manfaat dari pada ku buang mending kutuang di sini yaa selamat menikmati...&lt;br /&gt;1. Islamic News: hasil riset Universitas Al-Azhar.&lt;br /&gt;Bahwa membaca al-Qur'an dapat meningkatkan kinerja otak, dan mempertajam ingatan sampai dengan 80% karena ada tiga aktifitas yang baik bagi otak. yaitu melihat, mendengar dan membaca.&lt;br /&gt;Waktu yang bagus untuk membaca al-Qur'an setelah sholat, terutama shubuh dan magrib. dikedua waktu tersebut otak dalam keadaan fress karena pergantian waktu dari gelap ke terang dan terang ke gelap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-6608458590912688550?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/6608458590912688550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/05/sederhana-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/6608458590912688550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/6608458590912688550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/05/sederhana-saja.html' title='Sederhana saja...'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-7605264096243582873</id><published>2010-05-07T02:04:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T02:16:47.369-07:00</updated><title type='text'>semangatmu menawanku</title><content type='html'>hari ini, kala berbagai problema menerpa hati... ku lihat semangat itu terpancar dari wajahmu..&lt;br /&gt;sobatku... betapa energi itu memancar kuat hingga menembus sanubariku...&lt;br /&gt;kala ku baca tulisanmu yang mengajak untuk selalu gembira, semangat dan tertawa kapan pun juga aku sungguh terharu&lt;br /&gt;kata mu hidup itu indah maka harus diindahkan... dengan merasa untuk selalu semangat dan menjalani sesuatu untuk semangat dan bahagia..karena kata temanku itu bahagia itu harus diciptakan sendiri dalam hati...&lt;br /&gt;tanpa diciptakan tak akan muncul keindahan dan kebahagiaan itu...mari bersama..&lt;br /&gt;sebarkan energi indah untuk semesta... kawanku hari ini aku bahagia...dengan hadirmu..semangatmu menawanku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;romika mawaddah..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;untuk yang bermasalah mari indahkan masalah dengan merasa bahagia selamanya.tak ada yang tak bisa...dengan masalah ada kemudahan menyertainnya...kita harus percaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-7605264096243582873?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/7605264096243582873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/05/semangatmu-menawanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7605264096243582873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/7605264096243582873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/05/semangatmu-menawanku.html' title='semangatmu menawanku'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-9076668560430178547</id><published>2010-03-17T23:54:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T00:00:14.118-07:00</updated><title type='text'>PU IS   SI  KUUU</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Ketulusanmu Menawanku&lt;br /&gt;Untukmu saudarakau&lt;br /&gt;Ku tulis goresan pena ini untukmu sahabat ku&lt;br /&gt;Ketulusanmu sungguh menawanku&lt;br /&gt;Beribu jam kau hadir dalam sanubariku&lt;br /&gt;Menemani kesendirian dan kesepiannku&lt;br /&gt;Aku tahu, kesungguhan mu dalam menyannyangiku&lt;br /&gt;Dan aku tak memungkiri ketulusanmu itu&lt;br /&gt;Dan...hanya pada tuhan ku berdoa padamu&lt;br /&gt;Saudaraku...jangan bersedih..&lt;br /&gt;Inilah yang terbaik dari ilahi untuk kita jalani&lt;br /&gt;Buanglah duka lara itu&lt;br /&gt;Meski aku tahu kecewa itu&lt;br /&gt;Bergelayut di matamu&lt;br /&gt;Bak mendung kelab usembuaratkelambu&lt;br /&gt;Saudaraku... namamu kan terukir di hatiku&lt;br /&gt;Sepanjang hayatku..&lt;br /&gt;Kan ku kenang..tersimpan dalam kamar hati&lt;br /&gt;Ku kunci..dengan kunci ketulusan hati&lt;br /&gt;Mungkin ini sangat kejam....kau kira...&lt;br /&gt;Inilah sejatinya aku&lt;br /&gt;Wanita yang mendamba bahagia keluarganya&lt;br /&gt;...hanya suara ibu yang mampu ku dengar&lt;br /&gt;Aku yakin keraguannya...bukan tanpa alasan&lt;br /&gt;Aku yakin...dibalik penolakanya terselip doa untuk kita berdua..&lt;br /&gt;Sahabatku..raihlah mimpi indahmu tanpa ada aku..&lt;br /&gt;Aku yakin makhluq sebaik dirimu tidak akan tersia&lt;br /&gt;Kamu akan dihampiri makhluq-makhluq manis nan rupawan&lt;br /&gt;Yang selalu menemani langkahmu..&lt;br /&gt;Saudaraku..doaku teriring untukmu&lt;br /&gt;Setiap langkah, setiap desah nafasku.. ku kirim doa untukmu..&lt;br /&gt;Semoga Allah meridhoimu..&lt;br /&gt;Menghadiahi kedamaian di dunia dan akhirat&lt;br /&gt;Saudaraku...tidak ada ketulusan yang tersia..&lt;br /&gt;Yakinlah.. jalan ini yang terbaik untuk kita berdua..&lt;br /&gt;Dari kuu yang senantiasa mendoamu...&lt;br /&gt;Romika Mawaddah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-9076668560430178547?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/9076668560430178547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/03/pu-is-si-kuuu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/9076668560430178547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/9076668560430178547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2010/03/pu-is-si-kuuu.html' title='PU IS   SI  KUUU'/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-1482940839885169363</id><published>2009-12-01T02:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T02:41:40.839-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PERENCANAAN SISTEM INFORMASI PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;PENGELOLAAN&lt;br /&gt;PERPUSTAKAAN SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sebagai Tugas Ujian Tengah Semester VII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika Romika Mawaddati&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;NIM : 06110023&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JURUSAN TARBIYAH&lt;br /&gt;FAKULTAS AGAMA ISLAM&lt;br /&gt;UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Perintah pertama yang disampaikan kepada Muhammad oleh Tuhannya adalah membaca. Manusia diharuskan untuk membaca berbagai macam hal, di mana pun dan kapan pun berada. Dengan membaca, manusia mengetahui berbagai macam jenis ilmu, demi menjalani kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.  Karena dengan membaca buku manusia mendapatkan ilmu. Seperti dijelaskan dalam hadits, Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang menginginkan kebahagiaan  di dunia dan akhirat, maka harus memiliki ilmu. Sumber ilmu yang sangat beragam adalah dengan membaca buku. Mengutip dari seorang tokoh beliau menyatakan bahwa buku adalah jendela dunia, merupakan pusaka kemanusiaan yang membuat peradaban berlangsung hingga hari ini di dalamnya terkandung jiwa zaman disepanjang waktu. Ia adalah jendela dunia yang mengandung hikmah masa lalu. (Suherman, 2009)&lt;br /&gt; Meskipun membaca merupakan keharusan, tetapi tidak semua manusia memiliki kegemaran untuk membaca. Itu sebabnya membaca perlu latian dan bimbingan bahkan paksaan untuk menumbuhkan kecintaan membaca. Masa yang paling tepat untuk menumbuhkan kegemaran membaca adalah masa-masa sekolah. Memberi tugas membaca, menulis ataupun ujian pada dasarnya merupakan usaha untuk menumbuhkan gemar membaca. Selain cara tersebut adalah dengan menyediakan perpustakaan sekolah. Dengan berbagai macam buku bacaan yang disediakan akan menarik minat siswa untuk membaca. Apalagi jika budaya membaca dikalangan siswa telah tumbuh maka siswa yang lain dengan sendirinya akan merasa ketinggalan jika tidak gemar membaca.&lt;br /&gt; Usaha menumbuhkan membaca bisa dimulai dari perpustakaan. Dengan pengelolaan yang baik dan profesional fungsi perpustakaan menjadi maksimal. Dalam pendidikan perpustakaan menjadi jantung sekolah sebagaimana fungsi jantung dalam tubuh. Perpustakaan yang menentukan sehat tidaknya sistem pendidikan sekolah. Apabila jantung tidak berfungsi akan mengakibatkan kelumpuhan. Dan apabila sekolah tidak memiliki perpustakaan sama seperti tubuh yang tidak memiliki jantung alias tidak memiliki daya hidup. (Suherman, 2009)&lt;br /&gt; Begitu pentingnya fungsi perpustakaan bagi kelangsungan sekolah. Untuk menjalankan fungsi tersebut, perlu pengelolaan yang bagus. Dalam tulisan ini akan membahas pengelolaan perpustakaan sekolah. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a.Devinisi Perpustakaan Sekolah&lt;br /&gt;Sebelum membahas bagaimana mengelola perpustakaan sekolah, ada baiknya jika kita mengetahui apa yang dimaksud perpustakaan sekolah. Setelah mengetahui diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam mengelolanya. Istilahnya kita harus mengenal dulu karakter barang yang hendak dikelola. Sebab, tanpa mengenal mustahil bisa mengelola. Ibarat peri bahasa tak kenal maka tak sayang. Diantara cara untuk mengenal adalah mengetahui devinisinya terlebih dahulu. Setelah itu baru mengetahui karakter-karakter di dalamnya dan apa yang menjadi objek pengelolanaanya.&lt;br /&gt;Secara umum perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya. (Ibrahim Bafadal, 1992: 3)&lt;br /&gt;Sumber lainya menjelaskan pengertian perpustakaan adalah koleksi yang terdiri dari bahan-bahan tertulis, tercetak ataupun grafis lainnya seperti film, slide, piringan hitam, tape dalam ruangan atau gedung yang diatur dan diorganisasikan dengan sistem tertentu agar dapat digunakan untuk keperluan studi, penelitian, pembacaan dan lain sebagaianya.”(Sumardji, 1988:13)&lt;br /&gt;Dari pengertian tersebut jika dilihat dari fungsi, letak serta lembaga yang memilikinya; perpustakaan memiliki banyak jenis diantaranya perpustakaan umum, perpustakaan kota, perpustakaan pribadi, perpustakaan keliling dan perpustakaan sekolah serta perpustakaan lainya. Dalam hal ini aspek pokok yang hendak dibahas adalah perpustakaan sekolah. Mengutip pernyataan Supriyadi (1982:5) dalam Ibrahim Bafadal menjelaskan jika perpustakaan sekolah adalah “perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal tingkat sekolah, baik Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah, baik sekolah umum maupun sekolah lanjutan”.&lt;br /&gt;Sumardji menjelaskan bahwa perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan milik sekolah bail SMP, SMA maupun SD dan TK, yang digunakan sebagai sarana penunjang melaksanakan tugas-tugas pendididkan/pengajaran di sekolah. Intinya perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang disediakan lembaga pendidikan untuk peserta didiknya, sarana pembelajaran dan pengajaran.&lt;br /&gt;b.Fungsi Perpustakaan Sekolah&lt;br /&gt;Diadakanya sebuah lembaga tentunya karena terdapat manfaat dan fungsi dari lembaga tersebut. Begitu juga pengadaan perpustakaan, pastinya karena memiliki manfaat serta fungsi bagi manusia. Mengutip pernyataan Rusina Pamuntjak, dalam Sumardji menyatakan jika perpustakaan berfungsi sebagai pusat kebudayaan atau tempat dikumpulkan dan dipeliharanya hasil budaya manusia. Sehingga perpustakaan mempunyai fungsi kultural sebagai tempat pemeliharaan bahan-bahan bernilai hasil budaya manusia.&lt;br /&gt;Dalam sumber lain dijelaskan jika perpustakaan memiliki beberapa fungsi, yaitu:&lt;br /&gt;intelektual sebagai sumber ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Ekonomis sebagai sumber untuk bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dengan mudah dan hemat biaya.&lt;br /&gt;Sosial sebagau alat penghubung antar generasi, masyarakat dan bangsa,&lt;br /&gt;Kultural sebagai tempat pemeliharaan bahan-bahan bernilai hasil budaya (budi daya, cipta, rasa dan karsa) manusia.) (Sumardji, 1988, 17 )&lt;br /&gt;Dalam buku ”Pengelolaan Perpustakaan Sekolah” secara terinci, manfaat perpustakaan sekolah, baik yang diselenggarakan di sekolah dasar, maupun sekolah menengah adalah :&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-murid terhadap membaca.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid-murid.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiru yang akhirnya murid-murid mampu belajar mandiri.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan tekhnik membaca.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat melatih murid-murid ke arah tanggung jawab.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid-murid dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan suber-sumber pengajaran.&lt;br /&gt;Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.&lt;br /&gt;Smith dkk dalam buku ensiklopedianya yang berjudul ”The Educator’s Encyclopedia ” menyatakan “School library is a center for learning’, yang berarti perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar. Berikut dijelaskan beberapa fungsi perpustakaan sekolah:&lt;br /&gt;1)Sebagai fungsi edukatif.&lt;br /&gt;Bebrbagai macam buku yang ada di perpustakaan dapat membiasakan peserta didik untuk belajar mandiri, secara individual maupun kelompok. Selain itu perpustakaan dapat meningkatkan minat baca peserta didik. Perpustakaan memiliki peranan yang signifikan untuk mendukung gemar membaca dan meningkatkan literasi informasi, juga untuk mengembangkan siswa supaya dapat belajar secara independen (Suherman, 2009)&lt;br /&gt;2)Sebagai fungsi informatif.&lt;br /&gt;Perpustakaan yang terkelola dengan baik tidak hanya menyediakan buku pelajaran, tetpai berbagai macam majalah, ensiklopedi, televisi, tape recorder, slide projector dan sebagainya. Yang mana semua itu merupakan sumber informasi atau keterangan yang dapat menambah pengetahuan peserta didik.&lt;br /&gt;3)Fungsi tanggung jawab administratif.&lt;br /&gt;Fungsi ini tampak pada kegiatan sehari-hari di perpustakaan sekolah, di mana setiap ada peminjaman dan pengembalian buku selalu dicatat oleh guru pustakawan. Hal tersebut selain mengajarkan disiplin, teratur, rasa tanggung jawab, juga membiasakan murid-murid bersikap dan bertindak secara administratif.&lt;br /&gt;4)Fungsi riset.&lt;br /&gt;Berbagai macam bahan pustaka di perpustakaan menjadikan peserta didik ataupun pendidik yang hendak meneliti atau melakukan riset lebih mudah mencari data-data yang diharapkan dan dibutuhkan.&lt;br /&gt;5) Fungsi rekreatif.&lt;br /&gt;Yang dimaksud di sini bukanlah rekreatif secara fisik, melainkan secara sikologisnya. Misalkan seorang yang membaca buku ”Malang Kota Hati”. Di dalam buku terebut selain dikemukakan mengenai kota Malang, pasti tersedia berbagai macam gambar gedung-gedung, tempat rekreasi, tempat hiburan dan lainnya yang mana secara psikologis telah rekreasi ke kota Malang. (Ibrahim Bafadal, 1992:6-8)&lt;br /&gt;Secara sederhana tujuan perpustakaan sekolah adalah menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan. Perpustakaan sekolah merupakan sarana bagi para peserta didik agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;c.Pengelolaan Perpustakaan.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui devinisi dan fungsi perpustakaan, maka perlu untuk mengetahui bagaimana mengelola perpustakaan sehingga dapat berfungsi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah:&lt;br /&gt;1.Bagaimana cara penyelenggaraan perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;Penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan mengadakan bahan bacaan yang bermutu sesuai kurikulum, menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang studi, dan kegiatan penunjang lainnya, misalnya berkaitan dengan peristiwa penting yang diperingati di sekolah.dalam upaya peningkatan kualitas pengelolaan perpustakaan International Federation of Library Association (IFLA), sebuah asosiasi perpustakaan tingkat dunia, telah menyusun sebuah panduan, dapat digunakan berbagai pihak yang membutuhkan dalam pengembangan perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;2.Anggaran Perpustakaan.&lt;br /&gt;Proses pengadaan sesuatu yang baru tentunya tidak lepas dari faktor finansial yang menyokongnya. Tanpa anggaran yang memadai dengan pengelolaan yang profesional maka sesuatu tersesebut tidak akan terwujud dengan baik. Dalam hal  ini adalah pengadaan perpustakaan. Maka pimpinan sekolah harus mengalokasiskan secara khusus pendanaan untuk perpustakaan. Perpustakaan sekolah harus memperoleh dana yang mencukupi dan berlanjut untuk tenaga terlatih, materi perpustakaan, tekhnologi dan fasilitas serta aksesnya harus bebas biaya.&lt;br /&gt;Untuk menjamin agar perpustakaan memperoleh bagian yang adil dari anggaran sekolah, maka beberapa hal di bawah ini harus diperhatikan :&lt;br /&gt;memahami proses penganggaran sekolah.&lt;br /&gt;Menyadari jadwal siklus anggaran.&lt;br /&gt;Mengenal siapa yang menjadi tenaga penting.&lt;br /&gt;Memastikan bahwa segala kebutuhan perpustakaan teridentifikasi.&lt;br /&gt;Sebagai ketentuan umum, anggaran material perputakaan sekolah paling sedikit adalah 5% untuk biaya  setiap peserta didik dalam sistem persekolahan, tidak termasuk untuk belanja gaji dan upah, pengeluaran pendidikan khusus, anggaran transportasi serta perbaikan gedung dan sarana lain.&lt;br /&gt;3.Desain Ruangan.&lt;br /&gt;Dalam hal pengadaan perpustakaan sekolah, yang perlu menjadi perhatian adalah desain ruangan yang mencakup di mana perpustakaan sekolah hendak diletakkan? Dan bagaimana tata letak ruangan perpustakaan sehingga mampu menjadi tempat yang paling strategis dan paling nyaman bagi para peserta didik untuk membaca dan belajar. Kendati tidak ada ukuran universal untuk fasilitas perpustakaan sekolah, namun merupakan sesuatu yang bermanfaat dan membantu jika kita memiliki formula sebagai dasar dalam menghitung perencanaan, agar setiap perpustakaan yang baru didesain memenuhi kebutuhan sekolah dengan cara paling efektif. Pertimbangan berikut ini perlu disertakan dalam proses perencanaan:&lt;br /&gt;lokasi terpusat atau sentral, mudah terjangkau dan lebih baik jika terletak di lantai dasar.&lt;br /&gt;Akses dan kedekatan, dekat dengan semua kawasan pengajaran.&lt;br /&gt;Faktor kebisingan, paling sedikit di perpustakaan tersedia beberapa bagian yang terbebas dari kebisingan luar.&lt;br /&gt;Pancahayaan yang baik dan cukup, baik lewat jendela maupun lampu penerangan.&lt;br /&gt;Suhu ruangan yang tepat (misalnya, adanya pengatur suhu ruangan ataupun ventilasi yang mencukupi).&lt;br /&gt;Penyediaan ruangan bagi para penderita cacad fisik.&lt;br /&gt;Ukuran ruang yang cukup untuk penempatan koleksi buku, fiksi dan non-fiksi, buku sampul tebal maupun tipis, surat kabar dan majalah, sumber non-cetak serta penyimpananya, ruang belajar, ruang baca, komputer meja, ruang pameran, ruang kerja tenaga dan meja perpustakaan.&lt;br /&gt;Menjadikan perpustakaan dapat digunakan dengan berbagai macam kegiatan dan mampu mengikuti perkembangan serta perubahan kurikulum dan tekhnologi pada masa mendatang.&lt;br /&gt;Daftar berbagai ruangan yang berbeda-beda berikut ini layak dipertimbangan ketika merencanakan perpustakaan baru:&lt;br /&gt;kawasan ruang belajar dan riset untuk penempatan meja informasi, laci katalog, katalog terpasang, meja belajar dan riset, koleksi referensi dan dasar.&lt;br /&gt;Kawasan ruang baca informal untk buku dan majalah yang mendorong literasi, pembelajaran sepanjang hayat, dan membaca untuk keceriaan.&lt;br /&gt;Kawasan ruang instruksional dengan kursi yang disusun untuk kelompok kecil, kelompok besar dan instruksional formal seluruh kelas, ”dinding pengajaran” dengan kawasan teknologi pengajaran dan pameran yang sesuai.&lt;br /&gt;Kawasan ruang proyek kelompok dan produksi untuk kerja fungsional dan pertemuan perorangan, kelompok maupun kelas, serta fasilitas untuk produksi media.&lt;br /&gt;Kawasan ruang administrasi untuk meja sirkulasi, ruang kantor, kawasan untuk memproses materi media perpustakaan, penyimpanan peralatan pandang-dengar, dan kawasan materi serta alat tulis kantor.  &lt;br /&gt;4.Perabot Perpustakaan.&lt;br /&gt;Setelah ruangan tersusun dengan tertib, maka untuk menjadikan efektifitas peningkatan pelayanan serta fungsi perlu disediakan perabotan yang dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan pengguna perpustakaan. Maka perpustakaan sekolah harus menyediakan akses ke semua peralatan elektronik, komputer, dan pandang dengar. Peralatan tersebut meliputiu :&lt;br /&gt;komputer meja dengan akses internet.&lt;br /&gt;Katalog akses publik yang disesuaikan dengan usia dan tingkatan peserta didik yang berbeda.&lt;br /&gt;Tape-recorder, perangkat CD-ROM, alat pemindai (scanner), perangkat video.&lt;br /&gt;Peralatan komputer, khusus disesuaikan untk pengguna tuna rungu ataupun penderita cacad fisik lainnya. Perabotan komputer hendaknya didesain untuk anak-anak dan mudah disesuaikan guna memenuhi ukuran fisik yang berbeda.&lt;br /&gt;Setelah segala perlengkapan fisik telah tersedia, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara pengelolaan berbagai macam bahan yang terdapat di perpustakaan. Beberapa kegiatan pokok perpustakaan adalah:&lt;br /&gt;1)Pengadaan Bahan –Bahan Pustaka&lt;br /&gt;2)Pengolahan Bahan –Bahan Pustaka&lt;br /&gt;3)Pelayanan Sirkulasi&lt;br /&gt;4)Pelayanan Referensi&lt;br /&gt;5)Pelayana Administrasi (umum)&lt;br /&gt;Berikut sekilas tentang deskripsi kegiatan per bagian:&lt;br /&gt;1.)Pengadaan bahan-bahan pustaka.&lt;br /&gt;Ibrahim Bafadal (1992:25) menjelaskan bahwa pengadaan bahan pustaka adalah mengusahakan bahan-bahan pustaka yang belum dimiliki perpustakaan sekolah, dan menambah bahan-bahan  pustaka yang sudah dimiliki perpustakaan sekolah tetapi jumlahnya masih kurang. Jadi pengadaan bahan-bahan pustaka ada dua kemungkinan. Yaitu mengusahakan bahan pustaka yang sama sekali belum dimiliki dan menambah bahan pustaka yang jumlahnya kurang. &lt;br /&gt;Secara umum kegiatan ini adalah proses pengadaan bahan pustaka  untuk dijadikan koleksi bahan pustaka. Beberpa kegiatan yang dilakukan adalah:&lt;br /&gt;Kegiatan pemilihan bahan koleksi yang disesuaikan dengan profesi  pemakai. Dalam hal ini, karena perpustakaan sekolah maka, bahan koleksi harus disesuaikan dengan profesi peserta didik sebagai pelajar sekolah. Sehingga macam bahan koleksinya harus sesuai dengan kurikulum sekolah dan buku-buku yang menunjang proses belajar mengajar di sekolah.&lt;br /&gt;Kegiatan pelaksanaan pengadaan bahan koleksi. Ialah kegiatan untuk mengusahakan adanya bahan koleksi, yang dapat dilaksanakan dengan beberapa hal berikut:&lt;br /&gt;a.Dengan membeli bahan koleksi yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;b.Dengan cara minta bantuan atau sumbangan. Bisa juga meminta peserta didik untuk menyumbang berbagai macam koleksi yang sesuai dengan kebutuhan perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;c.Dengan cara mengadakan pemufakatan tukar-menukar bahan koleksi dengan perpustakaan  lain.&lt;br /&gt;2.)Pengolahan bahan-bahan pustaka.&lt;br /&gt;Kegiatan ini adalah proses mempersiapakan bahan pustaka yang telah diperoleh, supaya dapat dimanfaatkan oleh para pengguna dengan efisien.kegiatan pengolahan terdiri dari beberapa kegiatan yaitu:&lt;br /&gt;Klasifikasi, adalah kegiatan mengelompokkan bahan koleksi sesuai dengan macamnya dan bidang ilmunya masing-masing. Seperti kelompok buku teks, referensi, bacaan ringan, ensiklopedia, penerbitan berkala, dan lainnya.&lt;br /&gt;Secara terinci tujuan klasifikasi buku adalah:&lt;br /&gt;a.mempermudah peserta didik dalam mencari buku-buku yang diperlukan.&lt;br /&gt;b.Mempermudah guru pustakawan dalam mencari buku-buku.&lt;br /&gt;c.Mempemudah guru pustakawan mengetahui perimbangan bahan pustaka.&lt;br /&gt;Katalogisasi, yaitu membuat kartu-kartu katalog untuk setiap bahan pustaka. Seperti kartu katalog pengarang, katalog judul, katalog pengecekan dan sebagainya.&lt;br /&gt;Pelabelan adalah membuat/menulis nomor penempatan (call number) setiap bahan pustaka pada label tertentu, kemudian menempelkan pada punggungnya masing-masing sesuai dengan ketetapan yang telah disepakati.&lt;br /&gt;Penyimpanan dan penyusunan koleksi (shelving), ialah kegiatan menyimpan bahan pustaka yang telah diolah sedemikian rupa dan penyusunan sesuai dengan kelompok masing-masing dan sesuai urutan nomer penempatan (call nomber)&lt;br /&gt;Penyimpanan dan penyusunan kartu katalog (filing), ialah kegiatan menyimpan kartu-kartu katalog ke dalam almari katalog sesuai susunan kelompok yang ditentukan.&lt;br /&gt;Melaksanakan kegiatan-kegiatan lain, misalnya:&lt;br /&gt;d.melakukan perbaikan setiap koleksi buku yang memerlukan perbaiakan. Seperti nomor penempatan, kantong kartu buku, kartu buku, halan-halan atau sampul buku yang perlu diperbaiki.&lt;br /&gt;e.Melakukan kegiatan pengawetan buku/pustaka, seperti menjilid majalah-majalh lepas, menyemprot dengan penolak hama pemakan pada rak-rak penyimpanan bahan pustaka.&lt;br /&gt;f.Membuat laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengolahan bahan pustaka.&lt;br /&gt;3) Pelayanan Sirkulasi.&lt;br /&gt; Kegiatan ini adalah proses kegiatan pelaanan kepada para pemakai/penginjung perpustakaan. Diantara kegiatanya adalah:&lt;br /&gt;membuat peraturan mengenai pemakain dan peminjaman bahan pustaka.&lt;br /&gt;Memproses pendaftaran anggota perpustakaan.&lt;br /&gt;Memproses kartu-kartu anggota perpustakaan.&lt;br /&gt;Melayani peminjaman koleksi sirkulasi (koleksi pustaka yang boleh beredar atau boleh dibawa pulang oleh anggota perpustakaan) terutama koleksi text book.&lt;br /&gt;Menyimpan dengan teratur dan sistematis semua kartu yang bersangkutan dengan pelayanan peminjaman koleksi pustaka tersebut.&lt;br /&gt;Melakukan penagihan bagi anggota yang terlambat mengembalikan bahan pustaka.&lt;br /&gt;Melakukan denda bagi yang terlambat mengembalikan bahan pustaka.&lt;br /&gt;Mencatat dengan tertib dan teratur semua pemasukan uang pendaftaran anggota perpustakaan maupun uang denda keterlambatan pengembalian bahan pustaka.&lt;br /&gt;Membuat laporan tertulis secara berkala tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka melaksanakan kegiatan pelayanan sirkulasi.&lt;br /&gt;4)Pelayanan Referensi.&lt;br /&gt;Kegiatan ini adalah melayankan koleksi perpustakaan, terutama koleksi pustaka acuan atau koleksi yang tidak boleh dibawa pulang. Diantara bentuk pelayanannya adalah:&lt;br /&gt;melayani para anggota perpustakaan yang memerlukan koleksi pustaka acuan.&lt;br /&gt;Melayani permintaan foto kopy yang diajukan oleh para anggota perpustakaan, sehubungan dengan pemakaian koleksi referensi tersebut karena tidak boleh dibawa pulang.&lt;br /&gt;Melayani permintaan penelusuran informasi yang diajukan oleh para anggota perpustakaan ataupun siapa saja yang mengajukan permintaan meskipun bukan anggota dengan persyaratan yang ditentukan.&lt;br /&gt;Melakukan penyimpanan dan pengaturan kembali koleksi pustaka acuan yang telah dibaca oleh para anggota perpustakaan.&lt;br /&gt;Membuat lapran tertulis secara berkala tentang kegiatan yang telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;5)Pelayanan Administrasi (umum)&lt;br /&gt;Kegiatan ini adalah penunjang atau bantuan kepada semua kegiatan di perpustakaan. Diantaranya :&lt;br /&gt;a.kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan permintaan/penyediaan. Seperti:&lt;br /&gt;Barang-barang habis pakai.&lt;br /&gt;Barang-barang tahan lama.&lt;br /&gt;Perabotan perpustakaan.&lt;br /&gt;Barang-barang keperluan rumah tangga perpustakaan.&lt;br /&gt;b.kegiatan yang berhubungan dengan urusan keuangan :&lt;br /&gt;anggaran untuk pembelian bahan pustaka.&lt;br /&gt;Gaji para karyawan.&lt;br /&gt;Dana kesehatan para karyawan.&lt;br /&gt;Anggaran perbaiakn gedung, perbaikan alat-alat kantor perpustakaan.&lt;br /&gt;c.Kegiatan yang berhubungan dengan urusan personalia, yaitu :&lt;br /&gt;Urusan kebutuhan tenaga kerja perpustakaan.&lt;br /&gt;Urusan usulan pengangkatan karyawan perpustakaan.&lt;br /&gt;Urusan kenaikan pangkat dan gaji para karyawan secara berkala.&lt;br /&gt;Urusan pemberhentian karyawan.&lt;br /&gt;Urusan pengembangan pendidikan/pengembangan karyawan dalam bidang perpustakaan, pengiriman dan pemrosesannya ke penyelenggara perpustakaan tertentu.&lt;br /&gt;d.kegiatan yang bersangkutan dengan ketatausahaan (kearsipan) perpustakaan, seperti antara lain:&lt;br /&gt;Urusan surat-menyurat tentang pesanan pembelian bahan koleksi, hubungan antar perpustakaan ataupun dengan instansi lain, penagihan keterlambatan pengembalian pinjaman pustaka, penelusuran informasi, dan lainnya.&lt;br /&gt;Urusan pembuatan blanko surat, bentuk/pola surat dan penentuan tata pengetikannya.&lt;br /&gt;Urusan penyimpanan dan penyusunan/ penataan arsip-arsip surat perpustakaan.&lt;br /&gt;Urusan penyusutan, penyingkiran dan pemusnahan arsip-arsip surat perpustakaan.&lt;br /&gt;e.Kegiatan yang bersangkutan dengan pelayanan umum, diantaranya:&lt;br /&gt;pemberian informasi kepada pihak yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Peerimaan tamu atau peninjauan perpustakaan.&lt;br /&gt;Urusan rapat interen perpustakaan atau dengan pihak lain.&lt;br /&gt;Urusan kebersihan gedung dan halaman perpustakaan.&lt;br /&gt;Urusan perbaikan-perbaikan gedung, peralatan kantor dan perabotan perpustakaan..&lt;br /&gt;Urusan komunikasi dan transportasi perpustakaan.&lt;br /&gt;f.Kegiatan yang bersangkutan dengan pembuatan laporan tertulis secara menyeluruh mengenai perpustakaan, diantaranya:&lt;br /&gt;Mengumpulkan data mengenai kegiatan apapun yang dilakukan di dalam perpustakaan, kemudian mengolah dan menyajikannya dalam bentuk statistik.&lt;br /&gt;Mengumpulkan bahan-bahan laporan dari berbagai kegiatan pengadaan bahan koleksi, pengolahan, pelayanan, untuk digunakan sebagai bahan menyusun laporan.&lt;br /&gt;Membuat kerangka laporan secara sistematis.&lt;br /&gt;Mengetik atau mencetak laporan.&lt;br /&gt;Mewujudkan laporan dalam bentuk bendelan ataupun buku laporan.&lt;br /&gt;Mengesahkan laporan tersebut dan sekaligus menyampaikan kepada pimpinan perpustakaan ataupun atasan yang lebih tinggi.Sumardji, 1988: 23-32)&lt;br /&gt;d.Petugas Perpustakaan&lt;br /&gt;Sebagai usaha pengefektifan perpustakaan yang telah tersedia dengan lengkap berbagai macam bahan pustaka, maka perlu petugas untuk pelaksanaan pelayanan. Tanpa petugas yang menjalankan fungsi dan melayani perpustakaaan tidak akan ada manfaatnya. Tenaga perpustakaan tergantung dari tingkatan perpustakaan. Misalkan tingkat Sekolah Dasar satu orang dirasa cukup, tetapi untuk SMP dan SMA membutuhkan beberapa petugas.&lt;br /&gt; Tenaga-tenaga tersebut terdiri dari:&lt;br /&gt;a.Kepala perpustakaan/guru pustakawan.&lt;br /&gt;Kepala perpustakaan sebaiknya dipegang oleh salah seorang guru, sehingga benar-benar diintegrasikan dengan proses belajar mengajar di sekolah.&lt;br /&gt;b.Petugas perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;Untuk membantu kepala perpustakaan perlu ditunjuk petugas dengan jumlah yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan kepentinganya, yaitu:&lt;br /&gt;Petugas pelayanan tekhnis.&lt;br /&gt;Petugas pelayanan pembaca.&lt;br /&gt;Petugas tata usaha.&lt;br /&gt;Peran utama tenga perpustakaan/pustakawan adalah memberikan sumbangan pada misi dan tujuan sekolah termasuk prosedur evaluasi dan mengembangkan serta melaksanakan misi dan tujuan perpustakaan sekolah. Dalam kerjasama dengan senoir manajemen sekolah, administrator dan guru, maka pustakawan ikut dalam pengembangan rencana dan implementasi kurikulum.pustakawan memiliki kemampuan untuk menentukan sumber bahan pustaka dan informasi yang diperlukan oleh pengguna sesuai dengan kurikulum sekolah.&lt;br /&gt;Berikut ketrampilan mendasar yang diharapkan dimiliki oleh tenaga perpustakaan:&lt;br /&gt;Kemampuan berkomunikasi secara positif dan terbuka dengan anak dan rang dewasa.&lt;br /&gt;Kemampuan memahami kebutuhan pengguna.&lt;br /&gt;Kemampuan bekerja sama dengan peroranan serta kelompok di dalam dan di luar komunitas sekolah.&lt;br /&gt;Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai keanekaragaman budaya.&lt;br /&gt;Beberapa tugas pustakawan sekolah:&lt;br /&gt;Menganalisis sumber dan kebutuhan informasi komunitas sekolah.&lt;br /&gt;Memformulasi dan mengimplementasi kebijakan pengembangan jasa.&lt;br /&gt;Mengembangkan kebijakan dan sistem paengadaan sumberdaya perpustakaan.&lt;br /&gt;Mengkatalog dan mengklasifikasi materi perpustakaan.&lt;br /&gt;Melatih cara penggunaan perpustakaan.&lt;br /&gt;Membatu pengguna perpustakaan mengenai penggunaan sumberdaya perpustakaan dan tekhnologi informasi.&lt;br /&gt;Ikut serta dalam persiapan, implementasi dan evaluasi aktivitas pembelajaran.&lt;br /&gt;Ikut serta dalam kegiatan perencanaan terkait dengan implementasi kurikulum.&lt;br /&gt;e.Struktur Organisasi Perpustakaan.&lt;br /&gt; 0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000050000000c02910a7e0d040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc02000000000102022253797374656d000a7e0d000018610000fc5b110004ee833968e2540b0c020000040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff0000000000009001000000000440001254696d6573204e657720526f6d616e0000000000000000000000000000000000040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a00000001000400000000007a0d8c0a20332d00040000002d010000030000000000&lt;br /&gt;Keterangan: (Deskripsi tanggung jawab per bagian)&lt;br /&gt;1)Penanggung Jawab untuk merumuskan kebijakan perpustakaan dengan bantuan pelaksana harian serta berkoordinasi dengan komite sekolah.&lt;br /&gt;2)Pelaksana harian melakukan ekerjaan manajemen seperti membuat perencanaan, pengorganisasian, pengkoordonasian dan pengawasan terhadap seluruh kegiatan perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;3)Bagian tekhnis bertanggung jawab terhadap:&lt;br /&gt;pembinaan koleksi.&lt;br /&gt;Pengolahan bahan pustaka (klasifikasi, katalogisasi, perlengkapan pustaka dan lainnya)&lt;br /&gt;Inventarisasi dan perawatan.&lt;br /&gt;4)Bagian layanan malakukan:&lt;br /&gt;Layanan sirkulasi.-Layanan referensi-.Pelaporan atau membuat statistik.&lt;br /&gt;5)Bagian administrasi bertanggung jawab terhadap:&lt;br /&gt;Surat menyurat.Keanggotaan.-Rumah tangga.-Keuangan.&lt;br /&gt;6)Bagian sistem informasi melakukan pekerjaan data entry. Apabila perpustakaan sekolah telah dilengkapi sistem informasi. Ada beberapa pekerjaan tekhnis dan administrasi yang dapat dikerjakan sekaligus. Seperti administrasi keanggotaan, katalogisasi, sirkulasi dan statistik. Terlebih lagi apabila sekolah telah berbasis jaringan internet atau perpustakaan sekolah. Maka bagian sistem informasi akan memegang peranan sentral dari sema jenis pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;f.Evaluasi Perpustakaan.&lt;br /&gt; Dalam proses mencapai tujuan perpustakaan sekolah, pihak manajemen harus secara kontinyu memantau kinerja layanan untuk menjamin bahwa strategi yang digunakan mampu mencapai berbagai sasaran yang telah ditentukan. Kegiatan pembuatan statistik harus dilakukan secara berkala guna mengetahui arah perkembangan. Evaluasi tahunan hendaknya mencakup semua bidang kegiatan yang dimuat dalam dokumen perencanaan dan meliputi butir berikut:&lt;br /&gt;Apakah kinerja layanan mencapai sasaran dan memenuhi tujuan yang ditentukan perpustakaan, kurikulum dan sekolah.&lt;br /&gt;Apakah kinerja layanan memenuhi kebutuhan komunitas sekolah.&lt;br /&gt;Apakah kinerja mampu memenuhi kebutuhan yang berubah.&lt;br /&gt;Apakah sumber daya layanan kinerja tercukupi.&lt;br /&gt;Apakah pembiayaan  layanan kinerja telah efektif.&lt;br /&gt;Dengan evaluasi diharapkan pustakawan dan berbagai pihak yang bersangkutan dapat melakukan perbaikan dan meningkatkan kinerja serta kualitas perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Perpustakaan sekolah merupakan sarana penting yang harus dimiliki setiap sekolah. Karena perpustakaan ibarat jantung sekolah yang dapat menentukan kualitas lembaga pendidikan. Sebab, perpustakaan sebagai sarana untuk meningkatkan potensi dan menarik minta peserta didik untuk rajin membaca dan belajar secara individual maupun kelompok. Menurut International Federation Librarian Asociation (IFLA) disebutkan bahwa misi perpustakaan sekolah adalah:&lt;br /&gt;Menyediakan informasi dan gagasan yang menjadi dasar untuk membentuk masyarakat yang berbasis informasi dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Merupakan sarana bagi peserta didik agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Menurut keterangan tersebut, sangat jelas jika perpustakaan sekolah sebagai sarana penting yang harus dikelola dengan sebaik-beiknya. Sehingga dapat memberikan kemanfaatan bagi peserta didik dan siapa saja ang dapat mengambil manfaat darinya. Itu sebabnya perpustakaan butuh pengelolan yang baik dan penuh kesungguhan.&lt;br /&gt;Secara sederhana bentuk pengelolaan perpustakaan adalah:&lt;br /&gt;1)Pengadaan bahan pustaka sebagai koleksi perpustakaan.&lt;br /&gt;2)Pengolahan bahan pustaka yang telah dimiliki.&lt;br /&gt;3)Pelayanan sirkulasi.&lt;br /&gt;4)Pelayanan referensi.&lt;br /&gt;5)Pelayanan administrasi umum.&lt;br /&gt;Diharapkan dengan pengelolaan yang tertin serta evaluasi yang kontinyu perpustakaan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. ”Membaca buku bagus seperti bercakap dengan orang hebat dari abad terdahulu (Rene Descartes, 1617)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;SUMBER PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bafadal, Ibrahim. 1991. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Kangbudhi’s weblog information intermediary&lt;br /&gt;Mudhoffir. 1986. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung: Remadja Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumardji. 1988. Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya. Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;Suherman. 2009. Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. Bandung: MQS Publising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Tulisan di atas disadur dari berbagai sumber oleh ika romika mawaddati.&lt;br /&gt;Diajukan sebagai tugas Ujian Tengah Semester VII&lt;br /&gt;Dipersembahkan kepada yang terhormat: Bpk Wahono selaku dosen pengampu mata kuliah Perencanaan Sistem Informasi Pendidikan.&lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat&lt;br /&gt;Saran dan masukan untuk perbaikan sangat diharapkan.&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6343449624309957090-1482940839885169363?l=romikamawaddah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/feeds/1482940839885169363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2009/12/perencanaan-sistem-informasi-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/1482940839885169363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6343449624309957090/posts/default/1482940839885169363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://romikamawaddah.blogspot.com/2009/12/perencanaan-sistem-informasi-pendidikan.html' title=''/><author><name>romika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02343297260890995987</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-fUte6V5VksU/Tpo0wyfdnTI/AAAAAAAAABo/dxRNSd4MW8k/s220/DSC00224.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6343449624309957090.post-4595275604614421932</id><published>2009-11-17T03:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-17T03:08:23.621-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Bukan Sekedar “Nilai”&lt;br /&gt; Ujian, merupakan kegiatan rutin lembaga pendidikan. Ujian bermaksud mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik dalam menyerap ilmu yang disampaikan pendidik. Apabila mampu melaluinya dengan nilai bagus, hal itu menjadi indikasi keberhasilan seorang pendidik. begitu pula sebaliknya. Namun mayoritas peserta didik belum atau bahkan tidak menyadari apa sebenarnya yang diharapkan dari ujian. Mereka menganggap ujian sebagai ajang medapatkan nilai bagus. Walaupun harus menempuh berbagai macam cara..&lt;br /&gt; Ketika itu, kami mengikuti Ujian Tengah Semester. Satu petugas yang menjaga dua ruangan sekaligus. Sehingga dalam waktu lama, petugas membiarkan kami mengerjakan ujian tanpa pengawasan. Dalam soal tertulis closed book.Semua orang juga tahu arti tulisan tersebut, yaitu tutup buku yang berarti di larang menyontek buku. Namun, apa yang terjadi di kelas kami? Sungguh mengerikan! mayoritas membuka buku dan mengabaikan closed book. Hati ini ngilu melihatnya. Ada apa dengan generasi muda Indonesia?. Apa yang ingin didapatkan? Apakah hanya karena sebuah nilai, Rela menodai kesucian majlis ilmu? Rela membohongi guru? &lt;br /&gt; Namun, masih ada kelegaan dalam hati ini ketika seorang teman menyampaikan jika nilai baginya bukan segala-galanya. ”Bagi saya nilai tidak begitu berarti. Bagus atau jelek itu hal biasa, yang terpenting ilmunya,” ujarnya. Ditanya soal nyontek untuk nilai, cowok semester tiga tersebut mengatakan. ”lebih baik tidak usah kuliah, gak dapat ilmu. Cuma buang uang saja,” komentarnya. Lebih luas mahasiswa di sebuah universitas swasta itu menyatakan jika yang terpenting dalam perkuliahan adalah pengalaman. Sebab pengalaman merupakan guru yang terbaik dalam kehidupan. &lt;br /&gt; Hal sama disampaikan Zakc, mahasiswa semester akhir Tehknik Informatika. ”Nilai bukan segalanya, banyak yang nilainya bagus tapi tidak bisa sukses di dunia nyata. Kurang bisa memenuhi kebutuhan,” ungkapnya. Meskipun nilai bukan segalanya, namun nilai dalam kuliah juga penting sebagai syarat menempuh mata kuliah selanjutnya. ”Nilai untuk menentukan cepat dan lambatnya kita kuliah. Jadi jangan disepelekan,” ujarnya. Zack mengatakan jika nilai dalam dunia kerja memang membantu tapi hanya sedikit. ”Yang terpenting dalam dunia kerja adalah jaringan. Jadi, kuliah sambil berorganisasi itulah cara untuk mendapatkan jaringan dan mengetahui dunia nyata,” usulnya.&lt;br /&gt; Seorang teman yang telah bekerja menyampaikan bahwa, untuk mendapatkan pekerjaan nilai bagus mendapat prioritas. ”Nilai memang diprioritaskan. Tapi, yang lebih prioritas adalah kemampuan menyelesaikan tes, ” ungkapnya. Alumni Tekhnik Mesin tersebut menambahkan jika nilai harus diperjuangkan. Tapi harus dengan cara yang baik. ”Kita harus bisa mempertanggungjawabkan nilai yang dimiliki. Apa guna nilai bagus tapi tidak bisa membantu dalam karir kita, ”nasehatnya. &lt;br /&gt; Mari belajar untuk ilmu, hanya yang jujur ilmu yamg bermutu 
